Xi Jinping dan budaya Prancis: ” Kebesaran hati yang lebih luas dari langit”

Presiden China Xi Jinping (kedua dari kanan) menerima buku “Confucious, or the Science of the Princes” versi terjemahan asli bahasa Prancis yang diterbitkan pada 1688, dari Presiden Prancis Emmanuel Macron (pertama dari kanan), sebagai hadiah nasional sebelum pertemuan mereka di Nice, Prancis, pada 24 Maret 2019. (Xinhua/Ju Peng)

Oleh: Penulis Xinhua Ni Siyi, Shi Xiaomeng, Shang Jun

 

Setiap kali Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato Tahun Baru, rak buku kantornya di dalam kompleks Zhongnanhai selalu menarik perhatian para pecinta buku dari dalam negeri maupun seluruh penjuru dunia yang penasaran dengan koleksinya.

Saat kamera bergerak, pemirsa yang cermat dapat menemukan bahwa dalam koleksi buku Xi terdapat beberapa mahakarya Prancis klasik, termasuk The Spirit of Laws, Les Miserables, The Red and The Black, dan The Human Comedy. “Saya mengembangkan minat yang besar terhadap budaya Prancis dan khususnya sejarah, filsafat, sastra, dan seni Prancis ketika saya masih muda,” kenang Xi.

China dan Prancis
Presiden China Xi Jinping menyampaikan pesan Tahun Baru via China Media Group dan internet di Beijing menjelang tahun 2024. (Xinhua/Ju Peng)

Xi merupakan sosok yang rajin membaca. Pembacaan yang sangat banyak telah membantu membentuk perspektif globalnya. Setelah mulai menjabat sebagai pemimpin tertinggi China, dia menjadikan interaksi budaya sebagai ciri khas diplomasinya, memperkuat pemahaman yang lebih baik antara China dan dunia yang lebih luas.

Saat China dan Prancis merayakan 60 tahun terjalinnya hubungan diplomatik tahun ini, Xi Jinping akan melakukan kunjungan kenegaraan ketiganya ke negara Eropa tersebut. Semua mata tertuju padanya untuk melihat bagaimana penggemar budaya Prancis ini akan mendekatkan dua peradaban besar Timur dan Barat.

Dari Stendhal hingga Hugo

Selama masa remajanya di akhir tahun 1960-an, Xi dikirim ke Liangjiahe, sebuah desa miskin yang terletak di Dataran Tinggi Loess, China, sebagai ‘pemuda terpelajar’ untuk ‘belajar dari para petani’.

Di tengah kehidupan pedesaan yang sulit, membaca menjadi pelipur lara spiritual Xi. Dia membaca setiap sastra klasik yang dapat dia temukan di dusun itu, dan di antaranya adalah ‘The Red and The Black’.

China dan Prancis
Foto dokumentasi yang diabadikan pada 1972 ini menunjukkan Xi Jinping, yang saat itu merupakan ‘pemuda terpelajar’ di pedesaan, kembali ke Beijing untuk mengunjungi kerabatnya. (Xinhua)

“The Red and The Black karya Stendhal sangat berpengaruh,” kenang Xi bertahun-tahun kemudian. “Namun, ketika menggambarkan seluk-beluk dunia, karya Balzac dan Maupassant adalah yang terbaik, misalnya The Human Comedy karya Balzac.”

Buku-buku klasik karya tokoh-tokoh Prancis meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi Xi sehingga dia sering mengutipnya, khususnya Victor Hugo, dalam pidatonya. Saat berpidato di konferensi perubahan iklim Paris tahun 2015 yang menyerukan sebuah kesepakatan, Xi mengutip kalimat perseptif dari Les Miserables: “Tekad terbesar menghasilkan kebijaksanaan terbesar.”

Xi juga memiliki kecintaan pada karya seni Prancis. Dia menikmati musik dari sejumlah komposer Prancis seperti Bizet dan Debussy. Dia telah mengunjungi beberapa situs budaya, mulai dari Arc de Triomphe yang megah hingga aula mewah Chateau de Versailles. Jauh di lubuk hatinya, koleksi abadi di Museum Louvre dan tempat suci yang dihormati Katedral Notre Dame adalah harta abadi peradaban manusia.

Para seniman Opera Kunqu, sebuah bentuk seni pertunjukan tradisional China, menampilkan pertunjukan flash mob di dekat Arc de Triomphe di Paris, Prancis, pada 13 September 2023. (Xinhua/Gao Jing)

Bahkan, Xi bukanlah pemimpin China pertama yang menyukai budaya Prancis. Selama apa yang dikenal sebagai Gerakan Kelompok Kerja-Belajar (Diligent Work-Frugal Study Movement) di Prancis pada 1920-an, mendiang pemimpin China Zhou Enlai dan Deng Xiaoping keduanya melakukan perjalanan ke Prancis untuk menempuh pendidikan guna mencari jalan keluar bagi China, sebuah negara yang kala itu terkoyak oleh perang, kemiskinan, dan invasi.

Pada masa itu, banyak pemuda patriotik China terinspirasi oleh karya-karya tentang Revolusi Prancis, yang juga menjadi latar belakang novel ‘Les Miserables’ karya Hugo, salah satu karya sastra Prancis yang paling sering dikutip oleh Xi. Seperti pernah diungkapkan Xi bahwa salah satu bagian yang paling menyentuh baginya adalah ketika Uskup Myriel berusaha membantu Jean Valjean dan mendorongnya menjadi pria yang lebih baik.

“Karya besar memiliki kekuatan yang besar untuk memengaruhi pembacanya,” ujar Xi.

“Zhiyin”, atau sahabat karib

Apresiasi Xi terhadap budaya Prancis menjelaskan mengapa pertukaran budaya menjadi semakin menonjol dalam interaksinya dengan para pemimpin Prancis dan dalam pertukaran bilateral antara kedua negara.

Pada 2019 di Kota Nice, Prancis, Presiden Prancis Emmanuel Macron menerima kunjungan Xi di Villa Kerylos, sebuah rumah berusia seabad yang menghadap ke Mediterania dan dipandang sebagai mikrokosmos yang mencerminkan peradaban Eropa. Di tempat itu, Macron menghadiahkan Xi sebuah buku kuno, yaitu salinan berharga dari buku ‘Konfusius, atau Ilmu Para Raja’ (Confucius, or the Science of the Princes), versi terjemahan asli bahasa Prancis.

Menampilkan sampul kulit kecoklatan, punggung buku bercetak tulisan emas dan pinggiran russet, karya Konfusianisme itu diterbitkan pada 1688 di era Zaman Pencerahan. Hanya beberapa lembar dari sampulnya, sebaris tulisan keriting dalam bahasa Prancis kuno berbunyi, ‘Kepada para pembaca, buku ini berfungsi sebagai kunci atau pengantar untuk membaca ajaran Konfusius’.

Terjemahan awal dari buku ajaran Konfusianisme itu mengilhami kedua pemikir Prancis terkenal, Montesquieu dan Voltaire, kata Macron kepada Xi, yang dengan hati-hati memegang buku tersebut dengan sampulnya yang terbuka. “Ini merupakan hadiah yang sangat berharga,” ujar Xi kala itu. Buku tersebut kemudian disimpan sebagai koleksi berharga di Perpustakaan Nasional China.

Pada abad ke-17, Eropa menyaksikan kemunculan tren yang dikenal sebagai Chinoiserie, yang meluas di seluruh benua itu pada abad ke-18, yang dipicu oleh meningkatnya perdagangan dengan China. Pada saat yang sama, para sinolog Prancis mengeksplorasi studi Konfusianisme, dasar filosofis budaya tradisional China, dan menyebarluaskan ide-idenya ke seluruh Eropa.

Banyak pengamat yang mencatat pertukaran lintas budaya ini. Gu Hongming, seorang cendekiawan China modern terkenal, pernah menulis bahwa “Hanya orang Prancis yang tampaknya memahami China dan peradaban China dengan sangat mendalam, karena mereka memiliki esensi spiritual yang luar biasa seperti yang dimiliki oleh bangsa China.”

Bagi Xi, China dan Prancis dapat menjadi “Zhiyin”, atau sahabat karib, yang dapat saling memahami secara mendalam karena keduanya sama-sama memiliki kekayaan budaya yang melimpah.

Dalam kunjungan Macron di kota metropolitan Guangzhou di China selatan pada April tahun lalu, kedua kepala negara itu berbincang sembari menikmati teh di Taman Pinus di kediaman gubernur Provinsi Guangdong, tempat mendiang ayahanda Xi, Xi Zhongxun, pernah tinggal saat menjabat jabatan tinggi di Guangdong pada tahun 1980-an, awal era reformasi dan keterbukaan China.

Saat kedua pemimpin itu berjalan-jalan di taman tersebut, alunan suara merdu dari permainan alat musik China kuno, Qin, terdengar di segala penjuru taman. Karena penasaran, Macron pun bertanya tentang judul musik tersebut. “Pegunungan Tinggi dan Air Mengalir” (High Mountains and Flowing Water) jawab Xi, yang kemudian menceritakan kisah terkenal di balik gubahan tersebut, yaitu legenda tentang Yu Boya dan Zhong Ziqi.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Prancis Emmanuel Macron mendengarkan melodi berjudul “High Mountains and Flowing Water” yang dimainkan dengan alat music Qin di Balai Baiyun Taman Pinus di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 7 April 2023. (Xinhua/Yue Yuewei)

Menurut legenda China kuno, Yu merupakan seorang pemain alat musik Qin yang mahir, sementara Zhong, pendengar setianya, memiliki kemampuan langka untuk memahami emosi yang disampaikan melalui musik Yu. Ketika Zhong meninggal dunia, Yu yang dilanda kesedihan menghancurkan alat musiknya dan bersumpah tidak akan pernah bermain lagi karena dirinya telah kehilangan “Zhiyin”, yang secara harfiah berarti teman yang sangat dekat yang memahami musik satu sama lain dalam bahasa Mandarin.

“Hanya Zhiyin (sahabat karib) yang dapat memahami musik ini,” ujar Xi kepada Macron.

Dua Negara Independen

“Ada prospek yang lebih besar daripada lautan, yaitu langit; ada prospek yang lebih besar daripada langit, yaitu jiwa manusia,” tutur Xi mengutip Victor Hugo dalam pidatonya yang terkenal di UNESCO di Paris pada 2014.

“Sejatinya, kita membutuhkan kebesaran hati yang lebih luas dari langit saat kita mendekati peradaban yang berbeda,” ujar sang presiden, seorang pendukung yang teguh untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan peradaban di era perubahan besar dalam lanskap internasional.

Mengingat Paris merupakan kota tuan rumah UNESCO dan Xi memandang Prancis sebagai perwakilan utama peradaban Barat, tidak heran jika pemimpin China tersebut memilih Paris sebagai tempat untuk menguraikan visinya tentang peradaban di panggung dunia untuk pertama kalinya.

“Saya mengingat dengan jelas kata-katanya ketika dia menyampaikan bahwa hari ini (di mana) kita hidup, kita mewakili budaya, agama, kelompok etnis yang berbeda, tetapi kita adalah bagian dari komunitas yang memiliki nasib yang sama,” kata Direktur Jenderal UNESCO saat itu, Irina Bokova. “Sepuluh tahun kemudian, tidak ada satu pun dari kata-kata yang diucapkan Presiden Xi yang tidak relevan sampai hari ini. Kata-kata itu semakin relevan karena berbagai masalah yang kita hadapi saat ini.”

Memutarbalikkan waktu 60 tahun yang lalu ke tahun 1964. Pada 27 Januari, China dan Prancis mencetak sejarah dengan secara resmi menjalin hubungan diplomatik, yang menghancurkan cengkeraman dingin isolasi Perang Dingin dan mengatalisasi transformasi situasi global menuju tatanan dunia yang multipolar. Dalam sebuah editorial yang diterbitkan keesokan harinya, surat kabar harian Prancis Le Monde menyebut momen bersejarah ini sebagai “pertemuan dua negara yang independen.”

Di dalam kata-kata Presiden Xi, Ketua Mao Zedong dan Jenderal Charles de Gaulle, dengan kebijaksanaan dan keberanian yang luar biasa, membuka pintu untuk pertukaran dan kerja sama antara China dan Barat, “membawa harapan kepada dunia di tengah Perang Dingin.”

“Baik China maupun Prancis merupakan peradaban yang independen tetapi memiliki pemikiran yang sama,” ujar Cui Hongjian, direktur Pusat Studi Uni Eropa dan Pembangunan Regional di Beijing Foreign Studies University.

“Dengan mengambil inspirasi dari kekayaan budaya dan sejarah mereka, kedua negara tersebut memiliki wawasan yang mendalam tentang tren dunia,” sebut Cui. “Mereka tidak ingin mendominasi yang lain, dan sebaliknya, mereka juga tidak ingin didominasi.”

Laurent Fabius, presiden Dewan Konstitusi sekaligus mantan perdana menteri Prancis, mengatakan bahwa Prancis dan China berkomitmen terhadap multilateralisme dan perdamaian.

“Di dunia kita yang berbahaya ini, harus ada kekuatan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan,” kata Fabius, “dan hal ini sangat jelas diperlukan, di luar perbedaan kita, yang menjadi misi utama China dan Prancis.”

(Wartawan Xinhua Deng Yushan, Liu Chang, Liu Youmin, dan Zhang Dailei di Beijing, serta Tang Ji, Xu Yongchun, dan Zhang Baihui di Paris juga berkontribusi pada artikel ini).

Selesai

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan