Presiden China bertemu PM Singapura di Beijing, bahas hubungan bilateral

Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Beijing, ibu kota China, pada 31 Maret 2023. (Xinhua/Ding Haitao)

Hubungan bilateral China-Singapura berwawasan ke depan, strategis, dan demonstratif, serta tidak hanya memberikan dorongan kuat untuk pengembangan dan peremajaan kedua negara, tetapi juga menjadi tolok ukur bagi negara-negara di kawasan Asia.

 

Beijing, China (Xinhua) – Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong di Beijing pada Jumat (31/3).

Menyebut China dan Singapura sebagai mitra kerja sama yang penting, Xi mengatakan bahwa hubungan bilateral kedua negara berwawasan ke depan, strategis, dan demonstratif, serta tidak hanya memberikan dorongan kuat untuk pengembangan dan peremajaan kedua negara, tetapi juga menjadi tolok ukur bagi negara-negara di kawasan Asia.

Xi mengungkapkan bahwa selama kunjungan Lee, kedua belah pihak meningkatkan hubungan bilateral menjadi kemitraan yang berorientasi masa depan dan berkualitas tinggi di segala bidang, yang memetakan arah untuk pengembangan hubungan bilateral di masa mendatang.

China siap memperkuat komunikasi strategis dengan pihak Singapura, memperdalam penyelarasan strategis, serta menjadikan fitur “berkualitas tinggi” sebagai karakteristik utama dari kerja sama China-Singapura, kata presiden China itu.

Lebih lanjut, Xi menyoroti bahwa di antara negara-negara Asia Tenggara, Singapura merupakan negara yang paling terlibat dalam reformasi serta keterbukaan China, dan kepentingannya terintegrasi paling erat dengan China. Dia menambahkan bahwa negaranya siap berbagi peluang penting dengan Singapura dan negara-negara lain yang bersedia bekerja sama dengan China.

Xi menyampaikan bahwa China siap bekerja sama dengan Singapura untuk memanfaatkan pertemuan-pertemuan mekanisme kerja sama bilateral dengan baik, memperkuat pembangunan Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru, memperdalam kerja sama di bidang pembangunan digital dan hijau maupun kerja sama pihak ketiga, serta memajukan perjalanan lintas perbatasan sebaik-baiknya.

Selama bertahun-tahun, Asia telah mempertahankan momentum perdamaian dan stabilitas keseluruhan yang kuat, serta pembangunan yang pesat dan perbaikan yang menyeluruh, kata Xi. Melalui kerja keras dan kearifan, negara-negara di kawasan ini memulai jalur pembangunan dengan karakteristik Asia yang bercirikan kemandirian, sikap saling menghormati, kesetaraan dan manfaat bersama, keterbukaan dan inklusivitas, serta kerja sama yang saling menguntungkan, imbuh Xi.

Di tengah perubahan dunia yang terjadi semakin cepat, yang tidak pernah terlihat sebelumnya dalam satu abad terakhir, Xi mengatakan negara-negara Asia harus menghargai dan mempertahankan kuatnya momentum pembangunan yang dicapai dengan susah payah di kawasan ini, bersama-sama menjaga manfaat perdamaian di Asia, mempertahankan arah yang benar dalam globalisasi ekonomi dan integrasi ekonomi regional, serta dengan tegas menentang perundungan, pemisahan, atau pemutusan rantai pasokan dan industri.

“Tidak ada negara yang boleh mencabut hak warga Asia untuk mengejar kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera,” ujar Xi.

PM Lee mengungkapkan keyakinan yang kuat pada resiliensi perekonomian China, dan mengatakan dirinya percaya perekonomian China akan terus tumbuh dengan sehat.

Dia menambahkan bahwa Singapura dan negara-negara tetangga lainnya berharap dapat terus memperdalam kerja sama ekonomi dengan China.

Pihak Singapura berharap dapat sesegera mungkin bekerja sama dengan pemerintah baru China untuk mendorong kerja sama dalam proyek-proyek besar seperti konektivitas, dan memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan negosiasi tentang pembaruan perjanjian perdagangan bebas Singapura-China guna mengirimkan pesan yang jelas tentang pelanjutan keterbukaan China dan komitmen Singapura untuk lebih memperdalam kerja sama dengan China, urai Lee.

Lee menyoroti bahwa hampir semua negara di dunia mengakui hanya ada satu China di dunia, serta mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan China berdasarkan kebijakan Satu China.

Masalah Taiwan merupakan urusan dalam negeri China, dan menggembar-gemborkan seruan “Hari ini Ukraina, besok Taiwan” hanya akan mendatangkan konsekuensi serius dan tidak terduga, kata Lee.

Kedua belah pihak juga bertukar pandangan mendalam tentang hubungan negara-negara besar dan isu-isu internasional serta regional yang menjadi perhatian bersama.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan