
Tim Ilmuwan temukan cara baru perkuat ketahanan padi terhadap penyakit mematikan

Hamparan tanaman padi di Kota Magelang, Jawa Tengah, pada 11 Juni 2025. (Indonesia Window)
Gen Xa48 membantu tanaman padi mengenali bakteri penyerang dan segera membangun pertahanan yang kuat.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru yang dipimpin oleh tim ilmuwan China, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, telah mengidentifikasi sebuah gen kunci yang membantu padi melawan penyakit hawar bakteri dan menunjukkan bagaimana pertahanan ini dapat dibangun kembali dari awal.
Selama 15 tahun terakhir, petani padi di seluruh Asia menghadapi ancaman yang terus meningkat seiring penyebaran hawar bakteri yang semakin cepat dan menyebabkan kerusakan yang kian besar. Suhu yang lebih hangat telah memicu intensitas topan yang membantu penyebaran penyakit tersebut, sementara varietas padi modern menjadi kurang beragam, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi bakteri.
Sebuah tim yang dipimpin oleh para peneliti dari Pusat Keunggulan Ilmu Tanaman Molekuler (Center for Excellence in Molecular Plant Sciences/CEMPS) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China menemukan gen resistans baru, yang mereka beri nama Xa48, pada varietas padi indica bernama ‘Shuangkezao’.
Gen ini bekerja seperti sistem keamanan. Ketika bakteri berbahaya menyerang, gen Xa48 membantu tanaman padi mengenali penyerang tersebut dan segera membangun pertahanan yang kuat. Para ilmuwan juga mengidentifikasi protein bakteri spesifik yang memicu reaksi ini, yang mereka namai XopG. Begitu Xa48 mendeteksi XopG, gen tersebut memecah protein-protein tertentu yang biasanya menjaga sistem imunnya tetap terkendali, sehingga memungkinkan tanaman untuk melawan infeksi tersebut.
Studi itu juga menunjukkan bahwa menggabungkan dua jenis pertahanan kekebalan yang berbeda memberikan hasil terbaik. Tim tersebut menggunakan dua gen resistans, yakni gen bernama Xa21 dan gen Xa48 yang baru ditemukan, untuk menciptakan sebuah sistem pertahanan dua lapis yang tangguh. Pendekatan ini memberikan perlindungan yang luas dan tahan lama terhadap penyakit tersebut bagi tanaman padi tanpa mengganggu pertumbuhannya.
Teknologi baru ini telah digunakan dalam program pemuliaan padi di China, menurut He Zuhua, seorang peneliti di CEMPS. "Penelitian ini telah diimplementasikan dengan cepat dari laboratorium ke lapangan, sehingga membantu petani menanam padi yang lebih sehat dengan kebutuhan pestisida kimia yang lebih sedikit."
Penemuan ini tidak hanya membantu memecahkan teka-teki lama mengenai bagaimana domestikasi padi membentuk ketahanan terhadap penyakit, tetapi juga menyediakan alat praktis untuk menjamin produksi padi di tengah dunia yang semakin hangat, imbuh He.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Analisis belatung bantu penyelidikan forensik
Indonesia
•
08 Feb 2022

COVID-19 - Relawan uji vaksin Rusia harus penuhi lebih dari 20 syarat
Indonesia
•
26 May 2020

Jejak ‘deinonychosaurus’ terbesar di dunia ditemukan di Fujian, China
Indonesia
•
08 May 2024

WHO rilis pedoman global penggunaan obat-obatan GLP-1 untuk obesitas
Indonesia
•
03 Dec 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
