
Peneliti China kembangkan robot bedah mata otonomos

Pengunjung mengamati robot yang sedang membersihkan meja dalam Konvensi Manufaktur Dunia (World Manufacturing Convention) 2025 di Hefei, Provinsi Anhui, China timur, pada 21 September 2025. (Xinhua/Zhou Mu)
Robot bedah mata otonomos mampu melakukan suntikan mata yang presisi di ruang terbatas mata manusia, yang berpotensi meningkatkan akurasi dan keselamatan prosedur bedah untuk mengobati penyakit retina yang melemahkan penglihatan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil mengembangkan sistem robotik otonomos yang mampu melakukan suntikan mata yang presisi di ruang terbatas mata manusia, yang berpotensi meningkatkan akurasi dan keselamatan prosedur bedah untuk mengobati penyakit retina yang melemahkan penglihatan.
Robot bedah yang dikembangkan oleh tim dari Institut Otomasi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) berhasil melakukan injeksi subretinal dan intravaskular pada uji coba hewan dengan tingkat keberhasilan 100 persen, menurut sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Science Robotics.
Bedah mata, terutama yang melibatkan retina, sangat menantang karena struktur organ yang kecil dan lembut. Sistem baru ini menggunakan serangkaian algoritma untuk persepsi spasial 3D, penempatan presisi lintas skala, dan pengendalian trajektori untuk mengarahkan lengan robotik.
Dalam eksperimen yang menggunakan model mata buatan, bola mata babi yang dibedah secara ex vivo, dan bola mata hewan yang dibedah secara in vivo, robot otonomos tersebut secara signifikan mengurangi kesalahan penempatan rata-rata sebesar hampir 80 persen dibandingkan dengan bedah manual, dan sekitar 55 persen dibandingkan dengan bedah robotik yang dikendalikan oleh ahli bedah, menurut studi tersebut.
Hasil ini menunjukkan kelayakan klinis robot mikrosurgikal intraokular otonomos, serta kemampuannya untuk meningkatkan ketepatan, keselamatan, dan konsistensi injeksi.
Sistem otonomos semacam itu dapat meningkatkan konsistensi dan keselamatan prosedur bedah, memperpendek masa pelatihan bagi ahli bedah, serta berpotensi memungkinkan operasi mata kompleks di daerah terpencil atau lingkungan ekstrem di mana ahli bedah spesialis tidak tersedia, menurut para peneliti.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 1000 bilah bambu kuno dipamerkan di museum China
Indonesia
•
10 Sep 2023

China sertifikasi helikopter nirawak pertama
Indonesia
•
24 Mar 2025

Situs peninggalan Dinasti Xia ditemukan di China utara
Indonesia
•
09 Mar 2023

China setujui permohonan penelitian sampel Bulan baru dari berbagai institusi
Indonesia
•
31 Dec 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
