
Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035

Ilustrasi. (Etactics Inc on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Resistensi antibiotik pada anak-anak terus meningkat secara global dan akan semakin memburuk dalam satu dekade mendatang, sehingga mengancam efektivitas antibiotik yang menyelamatkan nyawa, demikian diungkapkan oleh sebuah studi yang dipimpin oleh tim peneliti Australia.
Studi itu, yang dipimpin oleh Universitas Sydney (University of Sydney/USYD) di Australia, menemukan bahwa resistensi antibiotik meningkat di setiap wilayah antara 2004 dan 2022, dengan bayi dan anak-anak yang berada di unit perawatan intensif serta mereka yang tinggal di negara-negara dengan sumber daya lebih rendah menjadi kelompok yang paling terdampak, menurut sebuah pernyataan USYD yang dirilis pada Selasa (28/7).
Para peneliti dari Australia, China, dan Amerika Serikat (AS) menganalisis lebih dari 106.000 sampel infeksi dari anak-anak berusia hingga 18 tahun di 82 negara dan kawasan.
Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) terjadi ketika bakteri berevolusi untuk melawan pengobatan antibiotik, membuat infeksi menjadi lebih sulit diobati.
Anak-anak sangat rentan karena mereka mengalami tingkat infeksi bakteri yang tinggi namun memiliki pilihan pengobatan antibiotik yang lebih sedikit dibandingkan orang dewasa, kata para peneliti, seraya menyebutkan bahwa sekitar 840.000 kematian pada anak berusia di bawah lima tahun di seluruh dunia pada 2021 terkait dengan AMR.
Temuan-temuan ini, yang dipublikasikan dalam JAMA (Journal of the American Medical Association) Pediatrics, menunjukkan bahwa resistensi meningkat paling tajam pada antibiotik yang diklasifikasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ‘pilihan terakhir’ atau ‘harus dipantau secara ketat’ guna mencegah penggunaan berlebihan dan mempertahankan efektivitasnya ketika pengobatan lini pertama gagal.
Dua jenis bakteri Gram-negatif, Acinetobacter baumannii dan Klebsiella, diidentifikasi sebagai pendorong resistensi secara global, dengan Klebsiella mencatatkan laju pertumbuhan tercepat, terutama di Asia Tenggara, Eropa Timur, dan Pasifik Barat, seperti ditunjukkan studi tersebut.
Tim itu juga meluncurkan AMR in Kids, sebuah platform daring yang melacak resistensi antibiotik berdasarkan negara, jenis bakteri, dan kelas antibiotik, lengkap dengan proyeksi hingga 2035, guna membantu meningkatkan praktik peresepan dan pemahaman masyarakat tentang AMR, sekaligus menyerukan penggunaan antibiotik yang ramah bagi anak, panduan dosis yang lebih jelas, serta lebih banyak pendanaan penelitian untuk dengan aman mengurangi penggunaan antibiotik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan di Australia kembangkan cip nanofluida dengan jalur memori seperti otak
Indonesia
•
11 Oct 2025

Telaah – Tiga gempa dahsyat guncang Amerika Selatan, benarkah kawasan ini makin aktif?
Indonesia
•
15 Aug 2026

TikTok berkembang jadi aplikasi perencanaan perjalanan yang populer di Spanyol
Indonesia
•
05 Apr 2024

Nanopestisida baru bertahan lebih lama di daun, limbah pestisida berpotensi berkurang
Indonesia
•
19 Oct 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
