
Tim ilmuwan kembangkan sirkuit cahaya dalam satu cip untuk aplikasi kuantum dan AI

Orang-orang berjalan-jalan di Melbourne, Victoria, Australia, pada 31 Agustus 2020. (Xinhua/Bai Xue)
Sirkuit berskala nano dapat menghasilkan, mengarahkan, dan membaca informasi berbasis cahaya dalam satu cip, memajukan teknologi kuantum dan kecerdasan buatan generasi berikutnya.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti telah mengembangkan sebuah sirkuit berskala nano yang dapat menghasilkan, mengarahkan, dan membaca informasi berbasis cahaya dalam satu cip, memajukan teknologi kuantum dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generasi berikutnya.
Teknologi baru itu, yang dipimpin oleh Universitas Monash (Monash University) di Australia, menggabungkan material-material mutakhir dan nanoteknologi untuk mengatasi tantangan lama dalam ‘valleytronics’, sebuah bidang baru untuk komputasi dan teknologi kuantum yang lebih cepat serta lebih hemat energi, menurut pernyataan universitas yang dirilis pada Selasa (26/5).
"Untuk pertama kalinya, tim ini telah mendemonstrasikan sistem yang sepenuhnya terintegrasi dan dapat menghasilkan sinyal cahaya khusus, memandunya dalam arahan presisi, dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, semuanya dalam satu perangkat berbasis cip yang kompak," papar pernyataan itu.
Para peneliti mengatakan sirkuit tersebut menggunakan bahan ultratipis, hanya setebal beberapa atom, yang dipadukan dengan struktur nano yang dirancang khusus untuk mengendalikan cahaya pada skala yang sangat kecil. Berbeda dengan banyak sistem kuantum yang memerlukan pendinginan ekstrem, sistem ini beroperasi pada suhu ruangan, meningkatkan potensi praktisnya.
"Hingga saat ini, kami dapat menghasilkan atau mendeteksi sinyal-sinyal ini, tetapi tidak dapat melakukan semuanya dalam satu perangkat terintegrasi," kata Li Chi, penulis utama studi itu yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Photonics, bersama para kolaborator dari Australia, China, Singapura, Jerman, dan Jepang.
Penulis senior Ren Haoran, pemimpin Monash NanoMeta Group, mengatakan penelitian ini membuka jalan bagi perangkat fotonik yang kompak dan dapat diprogram, sehingga memungkinkan komputasi yang lebih cepat dan lebih hemat energi serta pendekatan baru untuk komunikasi dan pemrosesan data yang aman.
"Ini merupakan langkah penting menuju teknologi berbasis cip yang dapat diskalakan, yang menggunakan cahaya alih-alih listrik untuk memproses informasi," ujar Ren.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China akan tingkatkan standar pemeriksaan paten di industri baru
Indonesia
•
28 Dec 2023

Facebook akan matikan sistem pengenalan wajah
Indonesia
•
03 Nov 2021

Pohon 'Pterocymbium macranthum' ditemukan untuk kali pertama di China
Indonesia
•
21 Mar 2023

Peneliti identifikasi area otak yang berperan penting dalam respons observasional terhadap ancaman
Indonesia
•
14 Feb 2024


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
