Obat suntik terbaru stabilkan kadar obat utama Parkinson selama tujuh hari

Ilustrasi. (Rapha Wilde on Unsplash)
Obat suntik pekanan baru mampu menjaga kadar obat utama Parkinson tetap stabil selama tujuh hari, berpotensi menggantikan beberapa pil harian dan meningkatkan konsistensi pengobatan dan kualitas hidup pasien.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan Australia berhasil mengembangkan obat suntik pekanan yang dapat mentransformasi perawatan bagi lebih dari 8,5 juta orang di seluruh dunia yang mengidap penyakit Parkinson.Obat suntik pekanan baru ini mampu menjaga kadar obat utama Parkinson tetap stabil selama tujuh hari, berpotensi menggantikan beberapa pil harian dan meningkatkan konsistensi pengobatan dan kualitas hidup pasien, demikian disampaikan para ilmuwan dari Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) pada Senin (14/7).Dipuji sebagai terobosan besar untuk perawatan Parkinson, formulasi yang dapat terurai secara hayati (biodegradable) ini disuntikkan di bawah kulit atau ke dalam otot, secara bertahap melepaskan obat untuk memastikan kadar terapeutik yang konsisten dan mengurangi beban pemberian dosis dengan frekuensi tinggi, terutama bagi pasien lanjut usia (lansia) atau mereka yang mengalami kesulitan menelan, ungkap studi UniSA itu."Tujuan kami adalah menciptakan formulasi yang menyederhanakan pengobatan, meningkatkan kepatuhan pasien, dan menjaga kadar terapeutik obat yang konsisten," kata peneliti utama Profesor Sanjay Garg dari Pusat Inovasi Farmasi (Center for Pharmaceutical Innovation) UniSA.Obat suntik pekanan baru untuk penyakit Parkinson itu memberikan dosis yang stabil dari obat-obatan utama, levodopa dan carbidopa, selama tujuh hari, menggunakan polimer yang dapat terurai secara hayati untuk pelepasan obat yang terkendali dan berkelanjutan, menurut penelitian itu, yang dipublikasikan dalam Drug Delivery and Translational Research, sebuah jurnal resmi dari United States Controlled Release Society.Serangkaian uji laboratorium menunjukkan lebih dari 90 persen levodopa dan 81 persen karbidopa dilepaskan dalam waktu sepekan. Implan tersebut mengalami degradasi sebesar lebih dari 80 persen selama periode ini dan tidak menunjukkan toksisitas yang signifikan dalam evaluasi keamanan."Kami tidak hanya menyempurnakan cara obat itu diberikan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien," kata Garg, seraya menambahkan bahwa formulasi baru ini diberikan dengan jarum yang halus, sehingga mengurangi rasa tidak nyaman dan menghilangkan kebutuhan akan implan bedah.Para peneliti mengatakan bahwa obat suntik ini dapat diadaptasi untuk penyakit kronis lainnya, seperti kanker dan diabetes, dengan uji klinis dan rencana komersial yang kini sedang dilakukan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB dukung pembentukan badan pengawas ‘Artificial Intelligence’
Indonesia
•
14 Jun 2023

Tim peneliti China kembangkan alat pacu jantung mikro seukuran kapsul berdaya mandiri
Indonesia
•
27 Jan 2026

COVID-19 – Produksi vaksin Sputnik V Rusia meningkat hingga 2 juta dosis
Indonesia
•
04 Dec 2020

Fokus Berita – Peringati satu tahun gempa, Turkiye pertimbangkan langkah antisipasi gempa
Indonesia
•
07 Feb 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
