
Peneliti China tetapkan tolok ukur baru dalam efisiensi produksi hidrogen surya

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 3 November 2024 ini menunjukkan proyek pembangkit listrik tenaga fotovoltaik di wilayah Rudong, Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Li Bo)
Struktur fotoelektrode baru menggunakan kawat nano dari galium nitrida berbasis silikon dapat menghasilkan efisiensi produksi hidrogen surya yang tinggi dalam konfigurasi setengah sel, dengan produksi hidrogen yang stabil selama lebih dari 800 jam pada kepadatan arus yang tinggi.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil mencapai rekor efisiensi produksi hidrogen surya sebesar 10,36 persen, yang dipertahankan selama lebih dari satu bulan, membuka jalan bagi produksi hidrogen hijau berskala besar, demikian menurut laporan Science and Technology Daily pada Sabtu (22/2).Menurut sebuah penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di Nature Communications, tim peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China dan Universitas Wuhan berhasil merancang struktur fotoelektrode baru menggunakan kawat nano dari galium nitrida berbasis silikon untuk mencapai terobosan tersebut.Struktur ini menghasilkan efisiensi produksi hidrogen surya yang tinggi dalam konfigurasi setengah sel, dengan produksi hidrogen yang stabil selama lebih dari 800 jam pada kepadatan arus yang tinggi. Struktur ini juga memperpanjang masa pakai fotoelektrode dari beberapa jam saja menjadi beberapa bulan. Hal itu membantu mengatasi tantangan efisiensi dan keandalan yang dihadapi oleh perangkat produksi hidrogen fotolistrik konvensional, papar penelitian tersebut.Pemisahan air melalui proses fotoelektrokimia merupakan teknologi yang secara langsung mengubah sinar matahari dan air menjadi hidrogen hijau. Teknologi ini menjadi arah penelitian yang penting di bidang energi bersih. Namun, banyak bahan fotoelektrode konvensional rentan terhadap korosi dan peluruhan aktivitas katalitik, sehingga membatasi daya tahan fotoelektrode.Tim dalam penelitian ini mengembangkan struktur yang cocok untuk produksi massal, dan mengisi struktur itu dengan nanopartikel emas sebagai ko-katalis. Pendekatan baru ini meningkatkan aktivitas katalitik untuk reaksi evolusi hidrogen, mencegah terlepasnya nanopartikel emas selama proses reaksi, dan menghindari peluruhan aktivitas katalitik.Menurut penelitian ini, struktur baru tersebut dapat diperluas ke sistem reaksi katalitik dan semikonduktor paduan (compound semiconductor) lainnya. Struktur ini diharapkan dapat memainkan peran penting dalam konversi energi serta mendukung transisi energi global dan pembangunan berkelanjutan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi tunjukkan air hujan menjadi sumber daya air berharga di pegunungan tinggi
Indonesia
•
04 Nov 2025

China berencana genjot penggunaan NEV di daerah pedesaan
Indonesia
•
17 May 2024

Platform dokter digital berteknologi AI layani penyakit Parkinson
Indonesia
•
14 Apr 2026

Satelit China luncurkan tangki penyimpanan pertama hasil cetak tiga dimensi
Indonesia
•
12 Apr 2024


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
