
Pekerja kemanusiaan peringatkan minimnya perawatan prostetik di Gaza

Anak perempuan Palestina Malak Khader (pertama, kiri) bermain dengan seorang anak di tempat penampungan sementara di Gaza City bagian timur pada 27 Januari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Perawatan prostetik dan rehabilitasi bagi para penyandang amputasi di Gaza sangat terbatas, mencapai lebih dari 6.600 penyandang amputasi, dengan satu di antara lima penyandang adalah anak-anak.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Para pekerja kemanusiaan memperingatkan tentang minimnya perawatan prostetik dan rehabilitasi bagi para penyandang amputasi di Gaza, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) pada Senin (4/5).
OCHA mengatakan para mitranya melaporkan lebih dari 6.600 penyandang amputasi, dengan satu di antara lima penyandang adalah anak-anak, membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi, termasuk ribuan penyandang yang baru diamputasi sejak Oktober 2023. Namun, saat ini hanya tersedia delapan teknisi prostetik untuk menangani kebutuhan tersebut.
"Dengan kekurangan parah tenaga spesialis dan pembatasan masuknya bahan prostetik ke wilayah itu, dibutuhkan waktu lima tahun atau lebih untuk memenuhi kebutuhan saat ini, dengan asumsi tidak ada lagi kasus amputasi baru," kata OCHA, mengutip mitra-mitranya. "Teknisi prostetik internasional sangat dibutuhkan, begitu pula perluasan kapasitas bengkel pembuatan prostetik serta kelancaran masuknya bahan prostetik, yang masih dibatasi oleh otoritas Israel."
Dalam sebuah unggahan di X pada akhir pekan lalu, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher mengatakan komunitas kemanusiaan terus bekerja untuk membantu warga Palestina di Gaza. Upaya tersebut telah menyelamatkan nyawa, mencegah kelaparan, dan memulihkan layanan penting. Dia mengatakan masih banyak yang harus dilakukan, termasuk akses berkelanjutan, perlindungan warga sipil, netralitas, dan kemitraan.
Kepala bantuan PBB mengatakan mitra-mitra kemanusiaan badan dunia tersebut telah mengirimkan bantuan tenda darurat, bahan penutup, perlengkapan tidur, serta persediaan lainnya kepada hampir 4.500 rumah tangga.
Fletcher mengatakan beberapa tempat penampungan darurat yang telah diperbaiki di Khan Younis "dibuat dari bahan-bahan yang tersedia seperti terpal plastik" untuk memberikan solusi cepat bagi keluarga yang mengungsi dan dapat ditingkatkan segera setelah bahan-bahan yang dibatasi akhirnya diizinkan masuk.
"Mitra kesehatan melaporkan kekhawatiran tentang penyakit kulit dan masalah medis lainnya yang terkait dengan keberadaan hama dan hewan pengerat," tambahnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi terima jamaah umroh asing mulai 9 Agustus
Indonesia
•
08 Aug 2021

Dewan IMF pertimbangkan pendanaan 1,4 miliar dolar untuk Ukraina
Indonesia
•
10 Mar 2022

Xi Jinping tekankan praktik Konstitusi China di era baru (Bagian 2 - selesai)
Indonesia
•
20 Dec 2022

PBB: 84 persen wilayah Jalur Gaza di bawah perintah evakuasi militer Israel
Indonesia
•
14 Aug 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gelombang protes Eropa ungkap retaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah
Indonesia
•
20 Oct 2026

Prancis berlakukan jam malam di sejumlah kota usai kerusuhan, 2.397 orang ditangkap
Indonesia
•
20 Oct 2026

Program Pangan Dunia butuh 8,1 triliun rupiah untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat, bantuan mulai dipangkas
Indonesia
•
20 Oct 2026

Analisis – Kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat jadi ujian Israel jelang pemilu
Indonesia
•
20 Oct 2026
