
Foreign Affairs: Memori era dominasi hambat kebijakan luar negeri AS

Foto yang diabadikan pada 4 April 2019 ini menunjukkan Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
“Kebijakan luar negeri AS harus mempelajari era-era sebelumnya ketika negara-negara berjuang untuk bertahan hidup tanpa keunggulan dari kekuatan yang luar biasa, untuk mengelola tatanan multipolar yang akan datang.”
New York City, AS (Xinhua) – Masyarakat Amerika masih terjebak dalam gagasan-gagasan dari era yang telah berlalu ketika mereka berkuasa dulu, yang memutarbalikkan cara mereka memahami konflik, cara melakukan pendekatan negosiasi, cara berpikir tentang kemampuan mereka, bahkan cara mereka menganalisis masalah, seperti dilaporkan majalah Foreign Affairs pada Kamis (13/7)."Sejarah Perang Dingin telah menjadi semacam pengekang yang membatasi cara warga Amerika memandang dunia," kata laporan tersebut. "Ketika para pembuat kebijakan dan komentator Amerika Serikat (AS) membutuhkan panduan, mereka biasanya beralih ke Perang Dingin. Mereka menggali peristiwa-peristiwanya untuk mendapatkan pelajaran, berkonsultasi dengan tokoh-tokohnya untuk mendapatkan saran, dan membandingkan karakteristiknya dengan masa kini. Sejarah Perang Dingin menentukan syarat-syarat perdebatan mengenai pendekatan AS terhadap dunia.""Perang Dingin yang dipaksakan ini lebih banyak menghambat ketimbang membantu," sebut laporan itu. "Ketidaksesuaian antara realitas saat ini dan sejarah Perang Dingin telah menghambat pencarian strategi baru Amerika."Saat ini, sebagian besar analis sependapat bahwa porsi Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang menurun, keunggulan militer yang menyusut, supremasi teknologi yang berkurang, dan pengaruh diplomatik yang memudar dapat berarti bahwa Washington akan segera menghadapi dunia multipolar untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, papar laporan tersebut."Untuk mengelola tatanan multipolar yang akan datang, komunitas kebijakan luar negeri AS harus mempelajari era-era sebelumnya ketika negara-negara berjuang untuk bertahan hidup tanpa keunggulan dari kekuatan yang luar biasa," tambah laporan itu. "Dengan membiasakan diri dengan gaya ketatanegaraan yang beragam, Amerika akan memperoleh sarana untuk menangani masa depan multipolar dengan lebih baik."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Analisis – Israel resmi izinkan pasukan internasional masuk Gaza, apa dampaknya bagi masa depan wilayah itu?
Indonesia
•
31 Jul 2026

Google didenda berulang kali oleh Rusia atas pelanggaran konten pada 2024
Indonesia
•
22 Feb 2025

AstraZeneca akan tarik vaksin COVID-19 menyusul adanya efek samping
Indonesia
•
08 May 2024

Iran umumkan pelayaran di Selat Hormuz tak bisa dilalui usai eskalasi dengan AS
Indonesia
•
13 Jul 2026


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
