Empat prinsip Xi Jinping untuk Palestina: Solusi dua negara hingga rekonstruksi Gaza

Warga Palestina menggelar aksi unjuk rasa menentang rencana Israel untuk melakukan pemindahan paksa di Gaza City pada 23 Juli 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden China Xi Jinping pada Senin (24/8) menegaskan bahwa ada empat prinsip yang harus diikuti untuk mendorong penyelesaian masalah Palestina, yang merupakan inti dari isu Timur Tengah.

Xi menyampaikan pernyataan tersebut dalam pembicaraan dengan Raja Kerajaan Hasyimiyah Yordania Abdullah II bin Al Hussein di Beijing, ibu kota China.

Pertama, penyelesaian secara politik harus dipertahankan. Solusi dua negara merupakan arah yang tepat, dan berbagai upaya harus dilakukan untuk memulai kembali perundingan perdamaian antara Palestina dan Israel, dengan tujuan mendirikan negara Palestina yang merdeka dalam waktu secepatnya, kata Xi.

Kedua, prinsip "rakyat Palestina memerintah Palestina" harus diikuti dalam memajukan tata kelola Tepi Barat dan rekonstruksi Gaza pascaperang, lanjutnya.

Ketiga, prinsip-prinsip kemanusiaan harus dijunjung tinggi. Masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, harus menjalankan tanggung jawabnya secara efektif untuk melindungi keselamatan warga sipil, memastikan kelancaran penyaluran bantuan kemanusiaan, dan mengakhiri bencana kemanusiaan, papar Xi.

Keempat, prinsip keadilan dan kejujuran harus dijunjung tinggi. Hal ini berarti mematuhi hukum internasional, menangani masalah baik dari sisi gejala maupun akar penyebabnya, serta mengambil tindakan nyata agar masalah Palestina dapat diselesaikan secara menyeluruh, adil, dan berkelanjutan dalam waktu secepatnya, ujar Xi.

Mengenai situasi di Timur Tengah, Xi mengatakan bahwa China selalu menyerukan gencatan senjata secara menyeluruh dan penghentian permusuhan, serta penyelesaian perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik.

Dia juga menambahkan bahwa kedaulatan dan keamanan Yordania serta semua negara lain di kawasan tersebut harus dihormati.

Menyoroti bahwa Yordania menghargai sikap tidak memihak oleh China dalam urusan Timur Tengah serta dukungan China terhadap perjuangan yang adil bagi negara-negara Arab, Raja Abdullah II mengatakan Yordania siap mempertahankan komunikasi yang erat dengan China dan terus melakukan upaya aktif untuk deeskalasi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait