
Opini – Hubungan emosional orang tua-anak harus terjaga

Ustadz Agus Fadilla Sandi (kiri), pemimpin Mahad Sabilul Qur'an bidang SDM dan Rico Wiranata (kanan), ‘host’ pada ‘podcast’ (siniar) Amaliah Yayasan Amaliah Astra, di Jakarta, baru-baru ini (10 Agustus 2026). (Foto: tangkapan layar siniar ('podcast') Amaliah Yayasan Amaliah Astra)
Jakarta (Indonesia Window) – Hubungan emosional antara orang tua dan anak harus tetap terjaga meskipun jarak dan kesibukan membuat pertemuan menjadi terbatas, antara lain dengan mendoakan anak, kata Ustadz Agus Fadilla Sandi, pemimpin Mahad Sabilul Quran bidang SDM dan Dakwah Cibinong, Jawa Barat.
Ustadz Agus mencontohkan Nabi Ibrahim yang menitipkan keluarganya kepada Allah ﷻ ketika meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail di sebuah lembah yang tandus.
“Kisah tersebut mengajarkan bahwa orang tua harus menyadari bahwa anak berada dalam penjagaan Allah ﷻ,” kata ustadz yang juga Ketua Yayasan Markas Studi Al-Qur'an Cibinong itu dalam acara siniar (podcast) dengan tema ‘Pengasuhan Anak (Parenting) dalam Islam bagi Pekerja dan Kepala Keluarga di Tengah Kesibukan’.
Karena itu, orang tua dapat membangun kedekatan dengan anak melalui doa, termasuk ketika berangkat bekerja, ujar ustadz kepada host (pemandu acara) Rico Wiranata di Podcast Amaliah Yayasan Amaliah Astra, di Jakarta, baru-baru ini (10 Agustus 2026).
Selain doa, kualitas pertemuan juga harus diperhatikan, Ustadz Agus menjelaskan, seraya menyarankan orang tua menerapkan waktu tanpa gawai ketika baru tiba di rumah.
"Lima menit pertama setelah sampai rumah, no gadget (tidak ada gawai)," katanya, seraya menambahkan lima menit tersebut dapat digunakan untuk menyapa anak, melihat kondisi rumah, mendengarkan cerita mereka, dan memperhatikan perubahan-perubahan kecil yang terjadi.
Menurutnya, kebiasaan membawa telepon genggam sejak memasuki rumah dapat membuat orang tua kehilangan banyak informasi mengenai kehidupan anak.
Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional. Karena itu, meskipun hanya memiliki waktu singkat, orang tua harus memastikan dirinya benar-benar hadir untuk anak.
Ust. Agus menggambarkan kebutuhan kasih sayang anak seperti baterai telepon genggam. Ketika baterai telepon habis, perangkat akan memberikan tanda. Namun, anak tidak memiliki "notifikasi" yang menunjukkan bahwa tangki kasih sayangnya sedang kosong.
Karena itu, orang tua perlu peka terhadap kebutuhan emosional anak.
Dia mengutip pandangan Ibnu Qayyim bahwa jika orang tua melalaikan anak di masa kecil, maka akan menjadi petaka di masa tua .
"Maka, jika orang tua tidak mendekati anak, tidak menyediakan waktu untuk anak, dikhawatirkan ada orang lain yang tidak bertanggungjawab akan melakukannya," ustadz menjelaskan.
Ust. Agus menconthkan fenomena anak-anak yang membuat konten di media sosial demi mendapatkan perhatian, tontonan, tanda suka, dan pengakuan dari orang lain.
Menurutnya, kebutuhan material anak memang harus dipenuhi. Orang tua harus memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya, namun, kebutuhan batin juga tidak boleh diabaikan.
Koneksi sebelum koreksi
Kehadiran orang tua juga berkaitan dengan cara memberikan nasihat dan koreksi kepada anak.
Ust. Agus menyarankan agar orang tua membangun koneksi sebelum melakukan koreksi.
"Bangun koneksi sebelum koreksi," ujarnya.
Menurutnya, anak cenderung lebih mudah menerima kritik dari orang yang memiliki hubungan emosional kuat dengannya.
Sebaliknya, nasihat yang benar sekalipun dapat sulit diterima apabila hubungan antara orang tua dan anak sudah renggang.
Karena itu, ketika pulang ke rumah, orang tua tidak seharusnya langsung memberikan daftar perintah kepada anak.
Alih-alih bertanya tentang pekerjaan rumah, salat, atau kewajiban lainnya sesaat setelah tiba di rumah, orang tua dapat terlebih dahulu membangun hubungan melalui sapaan, percakapan, dan perhatian.
Bagi Ust. Agus, orang tua adalah pemimpin keluarga, namun, kepemimpinan tidak selalu berarti dilayani. Pemimpin keluarga juga harus memiliki kesiapan untuk melayani.
Apa yang dapat dibantu di rumah, itulah yang dikerjakan. Prinsip tersebut, menurutnya, perlu menjadi bagian dari cara orang tua menjalankan peran di keluarga.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Haji1441 - Satu pemimpin kesehatan layani 50 jamaah
Indonesia
•
29 Jul 2020

Esai – Mengejar kupu-kupu, menjalani metamorfosis
Indonesia
•
22 Sep 2026

Haji1441 – Petugas periksa sampel makanan jamaah, pastikan keamanan
Indonesia
•
31 Jul 2020

Virus yang lebih seram dari corona
Indonesia
•
17 Mar 2020


Berita Terbaru

Esai – Mengejar kupu-kupu, menjalani metamorfosis
Indonesia
•
22 Sep 2026

Feature – Ketika Baghdad menjadi pusat dunia: Kejayaan Abbasiyah di era Harun Ar-Rasyid
Indonesia
•
20 Aug 2026

Kisah – Saat harta menghilang, ayat itu tuntun jalan pulang
Indonesia
•
18 Aug 2026

Esai – Saat Bumi berguncang, jangan lisan ikut menyerang
Indonesia
•
18 Aug 2026
