
Esai – Mengejar kupu-kupu, menjalani metamorfosis

Ilustrasi. (Ian Parker on Unsplash)
Pernahkah kamu mengejar sesuatu yang begitu cantik, tetapi makin didekati justru terasa tambah jauh?
Yang aku maksud ini adalah kupu-kupu. Kupu-kupu itu unik dan misterius.
Menurut para ilmuwan yang meneliti hewan ini, gerakan kupu-kupu mengepakkan dan mengibaskan sayap mereka hanya untuk menjaga keseimbangan tubuh saat di udara.
Gerakan sayapnya kompleks dan fleksibel, bisa bergerak cepat dan tidak pasti, sehingga susah ditebak. Ternyata begitu cara pertahanan diri kupu-kupu untuk menghindari predatornya.
Ada juga gerakan sayapnya yang membentuk angka ‘8’, seperti simbol infinity atau tak terhingga.
Begitulah kadang-kadang impian kita.
Ada cita-cita yang terlihat begitu memesona dari kejauhan. Kita membayangkan kuliah di negeri dan kampus impian yang kita inginkan, bekerja sesuai dengan cita-cita, merantau ke negeri lain, atau mencapai sesuatu yang sejak kecil kita khayalkan.
Namun, ketika mulai mengejarnya, kita baru sadar bahwa perjalanan menuju ke sana tidak selalu mudah.
Lalu, apakah kita harus berhenti mengejar?
Menurutku, tidak.
Tapi mengejar impian bukan berarti memaksakan diri untuk mendapatkan sesuatu dengan cara apa pun. Kita tetap perlu berusaha sekuat mungkin, sambil memahami bahwa manusia hanya bisa mengendalikan ikhtiar, bukan seluruh hasil akhirnya.
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa kebahagiaan itu seperti kupu-kupu: “Semakin kita mengejarnya, semakin ia menjauh. Namun, ketika kita sibuk merawat ‘kebun’ kita menjadi elok dan rimbun, kupu-kupu itu justru bisa datang dengan sendirinya.’
Aku memaknai ungkapan itu sebagai sebuah pelajaran tentang proses.
Kita memang perlu memiliki tujuan, tetapi jangan sampai seluruh hidup hanya dihabiskan untuk mengejar hasil. Ada hal-hal yang perlu kita kerjakan terlebih dahulu: belajar, berlatih, memperbaiki diri, menjaga konsistensi, dan terus berdoa.
Dengan kata lain, kita perlu menanam sebelum berharap bisa memetik.
Tanam kini, petik nanti
Tentu saja, perjalanan itu tidak selalu berakhir seperti yang kita bayangkan. Ada kalanya kita sudah berusaha keras, tetapi sesuatu yang kita inginkan tetap tidak berhasil kita dapatkan.
Di sinilah aku belajar bahwa usaha dan hasil adalah dua hal yang berbeda.
Kita boleh mempunyai target yang tinggi. Kita harus yakin bahwa kita mampu mencapainya. Tetapi pada akhirnya, ada keputusan yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia yang sangat terbatas.
Dalam Islam, usaha atau ikhtiar berjalan bersama doa dan tawakal. Kita berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah ﷻ. Sebab, apa yang menurut kita baik belum tentu benar-benar baik bagi kita.
Aku teringat sebuah tulisan Ahmad Rifa'i Rif'an dalam bukunya ‘Generasi Emas’.
Dia mengingatkan bahwa manusia hanya mengetahui apa yang menurut dirinya baik, sedangkan apa yang benar-benar terbaik menurut Allah ﷻ tidak selalu kita ketahui.
Mungkin karena itu, kegagalan tidak selalu berarti bahwa kita kalah.
Bisa jadi, kita hanya sedang diarahkan menuju jalan yang berbeda, bahkan jauh, jauh lebih baik, lebih nyaman, dan lebih mudah.
Kupu-kupu yang kita kejar mungkin terbang terlalu tinggi. Kita sudah berlari, berusaha menangkapnya, tetapi akhirnya tetap tidak berhasil.
Kita boleh kecewa. Kita boleh bertanya-tanya mengapa usaha kita belum membuahkan hasil.
Namun, perjalanan itu tetap meninggalkan sesuatu: pengalaman, keberanian, pelajaran, dan perubahan dalam diri kita.
Bukankah itu juga yang terjadi dalam kehidupan?
Aku dan teman-teman seangkatanku – kami menyebutnya ‘The Brilliant Generation’, sedang berada dalam salah satu fase perubahan itu.
Setelah menyelesaikan enam tahun pendidikan di pondok pesantren, kami bersiap meninggalkan satu tahap kehidupan dan memasuki tahap berikutnya.
Ada yang sudah yakin ingin melanjutkan kuliah di tempat tertentu. Ada yang masih bingung memilih jurusan atau universitas. Ada yang memiliki cita-cita yang terlihat begitu tinggi, sementara mungkin ada orang lain yang menganggapnya terlalu sulit.
Tetapi bukankah cita-cita memang seharusnya membuat kita berani melihat sesuatu yang lebih jauh?
Di titik ini, aku mulai memahami bahwa hidup manusia sebenarnya lebih mirip metamorfosis kupu-kupu daripada sebuah perlombaan.
Kupu-kupu tidak langsung menjadi kupu-kupu. Ia harus melewati proses panjang sebelum akhirnya memiliki sayap dan dapat terbang. Begitu juga manusia.
Kita pernah menjadi anak-anak yang memiliki cita-cita yang mungkin terdengar mustahil. Kemudian kita tumbuh menjadi remaja, menjalani pendidikan, ditempa oleh berbagai pengalaman, menghadapi aturan, kegagalan, keraguan, dan tantangan. Semua itu perlahan membentuk kita menjadi pribadi yang berbeda.
Enam tahun di pesantren juga merupakan bagian dari proses itu bagiku dan teman-temanku.
Sekarang kami sedang bersiap memasuki dunia yang lebih luas. Mungkin kami belum tahu persis ke mana kehidupan akan membawa kami. Mungkin beberapa impian akan tercapai, sementara yang lain ‘terpaksa’ harus kami lepaskan atau belokkan jalurnya.
Dan itu sama sekali tidak apa-apa.
Sebab, perjalanan menuju cita-cita bukan hanya tentang berhasil menangkap ‘kupu-kupu’ yang kita inginkan. Perjalanan itu juga tentang siapa diri kita setelah berusaha mengejarnya.
Jadi, kalau hari ini impianmu masih terasa terlalu jauh dijangkau, jangan buru-buru menyerah. Kejar dengan usaha terbaikmu. Sertai dengan doa. Jalani prosesnya dengan sabar dan tawakal.
Namun, jika suatu hari kupu-kupu itu terbang terlalu tinggi dan tidak berhasil kamu tangkap, jangan menganggap seluruh perjuanganmu sia-sia, karena ini pun juga bernilai.
Pastinya Robb Yang Maha Segala-galanya sudah menyiapkan sesuatu yang belum bisa kamu lihat.
Yang penting, teruslah bertumbuh.
Karena pada akhirnya, bisa jadi tujuan terbesar dari perjalanan kita bukan sekadar mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan menjadi seseorang yang lebih siap menerima apa pun yang Allah pilihkan untuk kita.
Kita menanam hari ini. Kita merawatnya dengan ikhtiar dan doa. Dan suatu hari nanti, entah bunga mana yang akan didatangi kupu-kupu, kita akan memahami bahwa setiap proses ternyata memiliki maksudnya sendiri.
Penulis: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim (santri pengabdian Gontor Putri; penulis lima buku tunggal)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Esai – Mengejar kupu-kupu, menjalani metamorfosis
Indonesia
•
22 Sep 2026

Sumur Zamzam tak pernah kering selama 5.000 tahun
Indonesia
•
27 Jul 2020

Haji1441 – Aplikasi Tatamman pantau karantina rumah jamaah setelah haji
Indonesia
•
04 Aug 2020

Bangsa Tsamud tetap ingkar walau diberi keajaiban unta betina
Indonesia
•
25 Sep 2020


Berita Terbaru

Feature – Ketika Baghdad menjadi pusat dunia: Kejayaan Abbasiyah di era Harun Ar-Rasyid
Indonesia
•
20 Aug 2026

Kisah – Saat harta menghilang, ayat itu tuntun jalan pulang
Indonesia
•
18 Aug 2026

Esai – Saat Bumi berguncang, jangan lisan ikut menyerang
Indonesia
•
18 Aug 2026

Tahsin Al Ghozy buka tahun ajaran baru, lebih dari 2.000 muslimah belajar Al-Qur'an dari dalam dan luar negeri
Indonesia
•
06 Aug 2026
