Kisah – Saat harta menghilang, ayat itu tuntun jalan pulang

Ilustrasi. (AI-generated image)

Sore merambat pelan di serambi masjid. Angin bergerak lembut di antara tiang-tiang, sementara beberapa jamaah senior masih asyik berbincang kecil.

Di antara mereka, duduk seorang pria yang sesekali menunduk, sesekali menatap jauh ke halaman. Usianya tak lagi muda. Di wajahnya, ada jejak lelah yang sulit disembunyikan.

Dulu, dia mengenal ruang rapat, angka-angka besar, dan transaksi yang membuat nama bisnisnya melaju cepat.

Mantan bankir itu kemudian masuk ke dunia properti. Awalnya berjalan mulus. Omzet naik dari ratusan juta, lalu miliaran, hingga pernah menyentuh belasan miliar. Dari luar, hidupnya tampak seperti deret keberhasilan yang tak putus.

Suatu hari yang menentukan

Orang yang selama ini duduk di lingkar kepercayaan membawanya ke titik hancur.

Aset bisnis lenyap. Keuntungan menguap. Nama baik yang dibangun bertahun-tahun tinggal serpihan.

Di meja hukum, dia berdiri sendiri. Di rumah, suasana tak lagi sama.

Pintu yang dulu ramai kini menyisakan sunyi. Istrinya pergi. Rumah terasa lebih kosong dari sebelumnya.

Berbulan-bulan dia menahan hidup yang seperti pecah di banyak sisi sekaligus. Siang dijalani dengan tubuh yang tetap bergerak, tetapi malam datang dengan pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.

Ada amarah yang mengendap. Ada kecewa yang tak selesai. Ada pertanyaan yang terus datang tanpa jawaban.

Lalu suatu sore, ketika dia duduk di teras rumah dalam diam yang panjang, tangannya meraih Al-Qur’an.

Lembaran kitab suci itu dibuka tanpa rencana, lalu pandangannya jatuh pada Surat Al-Hadid.

Dia membaca pelan, ayat demi ayat. Pada awalnya, huruf-huruf itu seperti lewat begitu saja. Sampai matanya tiba di ayat 22.

‘Setiap bencana yang menimpa di Bumi dan pada diri manusia telah tertulis lebih dulu.’

Kalimat itu berhenti di dadanya.

Dia membacanya lagi. Lalu sekali lagi. Seperti ada sesuatu yang retak pelan di dalam dirinya—bukan retak yang menghancurkan, tetapi retak yang membuka ruang bagi cahaya masuk.

Selama ini, dia percaya bahwa kekuatan ada di tangannya sendiri: pada kecerdikan, relasi, modal, dan keberanian mengambil risiko.

Kini, ayat itu memindahkan pandangannya ke tempat lain. Ada Yang Maha Kuasa di balik semua peristiwa.

Matanya mulai bergerak lagi, hingga pada ayat 23. Napasnya seolah dipaksa lebih pelan.

‘Jangan terlalu sedih atas yang hilang, jangan terlalu bangga atas yang datang.’

Kalimat itu seperti air dingin yang jatuh ke kepala orang yang sedang demam. Amarah yang semula panas mulai surut. Dendam yang semula menekan pelan-pelan kehilangan tenaga.

Dia teringat masa-masa ketika kekayaan menjadi ukuran rasa aman. Mobil mewah, omzet besar, dan pergaulan bisnis pernah membuatnya merasa berada di puncak.

Namun ayat itu memutar arah batinnya. Naik dan turun, lapang dan sempit, untung dan rugi—semua ternyata bukan milik manusia. Semua datang dan pergi atas kehendak Allah ﷻ.

Di sela kesadaran itu, satu hal lain ikut muncul: modal bisnis yang dulu dibanggakannya ternyata bersumber dari riba.

Kesadaran itu tidak datang seperti argumen, tetapi seperti pintu yang dibuka perlahan. Dia melihat kembali masa lalu dengan tatapan yang berbeda.

Mungkin, pikirnya, justru kehancuran ini adalah jalan keluar dari sesuatu yang sejak awal tidak bersih.

Sekarang dia menjalani usaha gas LPG. Tidak ada kursi kulit, tidak ada pendingin ruangan yang menyejukkan, tidak ada sopir yang menunggu di depan mobil.

Yang ada tinggal-lah tangan dan kaki yang pegal, badan yang kadang kepanasan, dan kadang basah oleh hujan.

Namun anehnya, di sela-sela ‘ketidak enak-kan’ itu, ada sepotong ketenangan yang tidak dia rasakan, justru ketika bisnisnya masih besar.

Sekarang, dia bekerja lebih sederhana, tetapi hatinya lebih ringan.

Di masjid, kisahnya tidak diucapkan dengan suara keras, sebab dia kini tak lagi ingin membuktikan apa-apa.

Yang tertinggal hanyalah pelajaran yang diam-diam kuat: ada harta yang tampak besar tetapi menyisakan gelisah; dan ada usaha kecil yang membawa pulang ketenteraman.

Ada hari ketika manusia harus kehilangan banyak hal, hanya untuk menemukan jalan pulang yang selama ini tertutup oleh gemerlap kesuksesan.

Selesai

Penulis: Daday Hidayat Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait