Feature – Thariq bin Ziyad dan 12.000 pasukan: Titik balik sejarah Islam di Eropa

Ilustrasi. (AI-generated image)

Pernah di masa lalu, ada sebuah negeri di Eropa, tetapi suasananya berbeda dari Eropa hari ini.

Pada pagi dan sore hari anak-anak datang ke madrasah untuk belajar kepada para ulama; azan berkumandang dari masjid-masjid; dan Bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Pemandangan itu ada di Andalusia yang bertahan selama berabad-abad dan meninggalkan jejak yang hingga kini masih dapat ditemukan di Spanyol dan Portugal.

Peradaban yang mengubah Eropa

Seorang polimat Prancis, Gustave Le Bon (1841-1931), dalam salah satu karyanya tentang peradaban Arab, memberikan perhatian besar terhadap kehidupan masyarakat Muslim di Andalusia.

Dia menggambarkan bagaimana masyarakat Muslim pada masa itu gemar memperindah lingkungan tempat mereka hidup.

Rumah, masjid, istana, dan taman dibangun dengan keelokan yang luar biasa. Menurutnya, masyarakat Muslim pada era keemasan memiliki daya imajinasi, kecerdasan, dan kreativitas yang tercermin dalam berbagai bangunan yang mereka hasilkan.

Selain arsitektur yang menakjubkan, para ilmuwan Muslim juga meninggalkan jejak melalui tulisan dan penelitian dari berbagai cabang ilmu pengetahuan, sehingga menjadikan Andalusia salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, bahkan pusat peradaban dunia.

Kemegahan peradaban ini kembali ke awal abad ke-8.

Islam mencapai Semenanjung Iberia

Sekitar satu abad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Islam telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, membentang dari China hingga Samudra Atlantik.

Afrika Utara telah menjadi bagian dari dunia Islam, dan dari kawasan inilah perjalanan menuju Eropa dimulai.

Di seberang Afrika Utara terbentang Semenanjung Iberia, yang sekarang dikenal sebagai Spanyol dan Portugal.

Pada masa itu, Iberia yang luasnya sekitar 583.000 kilometer persegi berada di bawah kekuasaan kerajaan Visigot yang memiliki kekuatan militer besar dan kuat.

Dalam sejumlah riwayat, jumlah pasukan Visigot bahkan disebut mencapai sekitar 200.000 orang.

Dari luar, kerajaan itu terlihat kuat, namun kekuatan yang tampak dari luar ternyata menyimpan keretakan di dalam.

Visigot retak dari dalam

Rajanya Visigot, Roderick (688-711), naik takhta melalui kudeta. Banyak bangsawan tidak menyukainya. Perebutan kekuasaan, intrik, pemberontakan, dan konflik antarelite membuat kerajaan Visigot semakin rapuh.

Di tingkat akar rumput diberlakukan pajak tinggi, sehingga membuat kehidupan rakyat semakin berat. Di tengah konflik elite, kehidupan rakyat Visigot semakin terhimpit.

Komunitas Yahudi juga mengalami tekanan dan diskriminasi. Mereka dikenai pajak tinggi dan susah menjalankan ibadah.

Meskipun tampak gagah dari luar, kerajaan Visigot menghadapi persoalan dari berbagai arah di dalam negeri.

Thariq bin Ziyad menyeberangi selat

Di saat yang sama pada 711, pasukan Muslim mulai menyeberangi Selat Gibraltar (Selat Jabal Tariq) menuju Semenanjung Iberia, di bawah komando Thariq bin Ziyad.

Pasukan awal panglima perang Muslim itu berjumlah sekitar 7.000 orang, sebagian besar berasal dari kaum Berber (Afrika Utara) yang belum lama memeluk Islam. Kemudian datang tambahan sekitar 5.000 pasukan sehingga jumlahnya menjadi sekitar 12.000 orang.

Jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan pasukan Raja Roderick yang mencapai 200.000 orang.

Namun, jumlah pasukan Thariq yang lebih kecil justru memberikan keuntungan besar, salah satunya adalah mereka bisa bergerak cepat dan memiliki mobilitas tinggi sebab tidak memikul logistik yang banyak.

Selain itu semua, pasukan Muslim ini membawa semangat yang besar. Sebagian dari mereka merupakan orang-orang yang baru mengenal Islam, dan sedang berada pada fase ketika keyakinan dan semangat mereka tumbuh sangat kuat. Ada dorongan untuk membuktikan bahwa mereka mampu memberikan sesuatu bagi Islam.

Thariq sendiri adalah sosok muda – sekitar 35 tahun – yang tawadhu dan qanaah.

Pasukan Visigot yang banyak, sebaliknya, membutuhkan logistik, koordinasi, dan perencanaan yang rumit.

Pasukan Thariq juga memanfaatkan kondisi geografis Semenanjung Iberia yang bervariasi. Ada tanah datar, sungai, lembah, dan pegunungan.

Pasukan yang lebih kecil dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk bergerak dan mencari celah. Sementara pasukan besar menghadapi kesulitan yang lebih berat ketika harus bergerak melewati medan yang kompleks.

Ini pelajaran penting dalam pertempuran, bahwa bukan hanya berapa banyak orang yang dibawa ke medan perang, tetapi seberapa baik mereka memahami tempat mereka bertempur.

Musuh kehilangan persatuan

Saat pasukan Thariq bin Ziyad menuju Semenanjung Iberia, Kerajaan Visigot sedang mengalami perpecahan, dengan sebagian bangsawan tidak menyukai Roderick yang lalim.

Makanya, ketika pasukan Thariq datang, sebagian rakyat Visigot melihatnya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan sang raja.

Sejumlah tokoh lokal Visigot bahkan secara sukarela memberikan informasi dan arahan kepada pasukan Muslim mengenai kondisi wilayah Visigot.

Salah satu tokoh itu adalah Julian, penguasa Ceuta dan Tangier, yang memiliki kepentingan pribadi dan politik untuk melawan Roderick.

Ceuta adalah kota otonom Spanyol yang terletak di pantai utara Afrika, sedangkan Tangier adalah kota pelabuhan besar Maroko yang terletak sekitar 70 kilometer ke barat di sepanjang Selat Gibraltar.

Konflik pribadi antara kedua penguasa itu berkaitan dengan putri Julian, Florinda.

Florinda dikirim Toledo untuk belajar di pusat kerajaan Visigot. Di sana Florinda bertemu dengan Roderick, namun mengalami hal yang tidak senonoh dari penguasa Visigot tersebut.

Mengetahui sang putri terluka, Julian bertekad untuk menjatuhkan Roderick.

Ketika melihat kekuatan Muslim yang sedang berkembang di Afrika Utara, Julian melihat sebuah kesempatan.

Dia membantu menyediakan kapal-kapal yang digunakan untuk menyeberangkan pasukan Muslim menuju Iberia.

Komunitas Yahudi

Di waktu yang sama di Visigot, komunitas Yahudi juga berada dalam kondisi sulit.

Tekanan pajak dan pembatasan kehidupan beragama membuat sebagian dari mereka membenci penguasa Visigot.

Ketika pasukan Muslim datang, sebagian komunitas Yahudi melihat peluang untuk mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang lebih baik.

Apalagi, hubungan antara komunitas Muslim dan Yahudi diperkuat dengan akar tradisi Abrahamik, sehingga masyarakat Yahudi tak segan-segan membantu pasukan Muslim.

Di sejumlah kota, bahkan masyarakat lokal yang justru membuka pintu kota kepada pasukan Muslim, alih-alih melindungi penguasa mereka.

Pertempuran Guadalete

Akhirnya, kedatangan pasukan Muslim di wilayah Visigot bermuara pada satu peristiwa penting, yakni Pertempuran Guadalete (Juli 711), atau dalam bahasa Arab dikenal sebagai ‘Wadi Lakkah’ alias Pertempuran Syudzunah.

Medan perang itu mempertemaukan pasukan Thariq bin Ziyad dengan sekitar 12.000 orang, melawan pasukan Roderick yang jauh lebih besar, hingga sekira 200.000 orang.

Secara logika sederhana, pasukan Thariq seharusnya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Tetapi sejarah tidak selalu berjalan sesuai perhitungan angka.

Pertempuran berlangsung selama beberapa hari, dengan kemenangan di tangan pasukan Muslim. Tanggal yang sering disebut dalam narasi sejarah adalah 19 Juli 711 Masehi, yang bertepatan dengan 28 Ramadan 92 Hijriah.

Pasukan Visigot menyerah. Roderick tewas, sebagian bangsawan melarikan diri, sebagian lainnya ditangkap atau menjadi tawanan.

Kemenangan tersebut membuka jalan bagi pasukan Muslim untuk bergerak lebih jauh ke Semenanjung Iberia.

Pertempuran itu kemudian menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Iberia.

Menuju peradaban

Setelah kemenangan Guadalete oleh pasukan Muslim, kekuasaan Visigot kehilangan pusat kekuatannya. Ini membuat pasukan Thariq bin Ziyad mudah dan cepat bergerak memasuki berbagai wilayah Iberia.

Kota-kota berikutnya menjadi sasaran penaklukan. Dan dalam beberapa dekade serta abad setelahnya, sesuatu yang lebih besar mulai terbentuk.

Ialah Andalusia, yang dikenal bukan hanya karena kemenangan militernya, tetapi karena ilmu pengetahuan, arsitektur, sastra, filsafat, kedokteran, matematika, dan kebudayaannya.

Kota-kota seperti Cordoba dan Granada, kemudian berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Masjid dan perpustakaan menjadi bagian dari kehidupan kota; para ulama, ilmuwan, penyair, dan pemikir pun lahir.

Nama-nama seperti Ibnu Hazm, Al-Qurtubi, Asy-Syatibi, dan Abbas bin Firnas menjadi bagian dari sejarah intelektual Andalusia.

Andalusia kemudian menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas. Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan dalam berbagai periode dan kondisi.

Andalusia adalah bukti bahwa bahwa kebangkitan intelektual Eropa tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan yang berkembang dan berpindah melalui dunia Islam.

Berdiri pada 711, peradaban Andalusia berakhir pada 1492 Masehi.

Andalusia yang sekarang adalah komunitas otonom paling selatan di Spanyol, yang terkenal dengan warisan Moor yang kaya, serta pantai-pantai Mediterania yang memesona.

Sumber inspirasi: GenSa TV

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait