Laporan NYT sebut Iran sebar ranjau di Selat Hormuz, Teheran bantah

Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz di Iran selatan, pada 30 April 2019. (Xinhua/Ahmad Halabisaz)

Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, lapor New York Times (NYT) pada Kamis (12/3), mengutip pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS). Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi membantah klaim tersebut.

Intelijen AS mengindikasikan bahwa setelah kapal penebar ranjau berukuran besar Iran diserang oleh militer AS, negara itu mulai mengerahkan kapal-kapal yang berukuran lebih kecil untuk memasang ranjau di selat itu, urai laporan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guards Corps) Iran dapat mengerahkan ratusan bahkan ribuan kapal kecil, yang telah lama digunakan untuk mengganggu kapal-kapal yang berukuran lebih besar, termasuk kapal milik Angkatan Laut AS (U.S. Navy), menurut laporan itu.

Strategi Iran tampaknya memasang ranjau lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan militer AS untuk menyapunya, sehingga menciptakan penangkal bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut, papar laporan itu.

CNN pada Selasa (10/3) melaporkan bahwa intelijen AS memperkirakan pemasangan ranjau belum dilakukan secara meluas, dengan hanya puluhan unit disebar dalam beberapa hari terakhir.

Kendati demikian, Iran masih menyimpan lebih dari 80-90 persen jumlah kapal kecil dan kapal penyebar ranjau, sehingga pasukannya masih memiliki kemungkinan memasang ratusan ranjau di jalur air tersebut, kata laporan CNN tersebut, mengutip sejumlah sumber.

Dalam sebuah sesi wawancara dengan AFP pada Kamis, Ravanchi menyampaikan "tidaklah benar" bahwa Iran memasang ranjau di selat tersebut dan Teheran telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara terkait izin melintasi jalur air itu, tanpa memerinci negara mana saja.

Dalam pesan pertamanya sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei pada Kamis menyerukan agar Selat Hormuz tetap ditutup dan bertekad membuka front-front baru dalam konflik negaranya dengan AS dan Israel.

AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengganggu sektor pelayaran global, menyebabkan harga minyak melonjak tajam, dan mengguncang perekonomian global.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait