China bangun konstelasi satelit untuk fasilitasi konektivitas pintar dari luar angkasa

Roket pengangkut CERES-1 yang mengangkut empat satelit lepas landas dari perairan dekat Provinsi Shandong, China timur, pada 19 Mei 2025. (Xinhua/Guo Xulei)
Konstelasi satelit Tianqi yang dikembangkan dan dioperasikan oleh GuoDianGaoKe Technology, kini telah mencapai fase pertamanya dengan 37 satelit berada di orbit, membentuk jaringan global yang menyediakan layanan untuk kota pintar, pemantauan maritim, komunikasi darurat, dan pemantauan lingkungan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan peluncuran empat satelit baru pada bulan ini untuk memperluas konstelasi Tianqi, China mempercepat kehadirannya di orbit rendah Bumi guna mendukung permintaan akan konektivitas perangkat pintar yang terus meningkat.Mengikuti jejak SpaceX, semakin banyak perusahaan antariksa China yang mulai membangun jaringan satelit bergaya Starlink dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa perusahaan luar angkasa komersial ini secara khusus menargetkan pengembangan infrastruktur digital kritis untuk konektivitas internet of things (IoT).Tianqi, konstelasi satelit yang dikembangkan dan dioperasikan oleh GuoDianGaoKe Technology, kini telah mencapai fase pertamanya dengan 37 satelit berada di orbit, membentuk jaringan global yang menyediakan layanan untuk kota pintar, pemantauan maritim, komunikasi darurat, dan pemantauan lingkungan.Setelah peluncuran empat satelit ini, waktu revisitasi konstelasi akan dipersingkat menjadi hanya lima menit, yang mewakili peningkatan efisiensi operasional sebesar 37,5 persen, hal ini sangat penting untuk memfasilitasi transmisi data secara waktu nyata (real-time)."Tianqi telah mengisi celah teknologi di bidang satelit IoT orbit rendah di China. Sistem teknis, kinerja, dan indikator terminalnya telah mencapai level terdepan secara internasional," kata Lyu Qiang, chairman perusahaan yang berbasis di Beijing itu.Tianqi saat ini sedang menjajaki ekspansi ke pasar konsumen, termasuk ponsel pintar (smartphone), kendaraan pintar, dan perangkat wearable. Perusahaan itu berencana merancang dan meluncurkan satelit tambahan pada fase kedua, yang bertujuan meningkatkan penerapan di tingkat konsumen.Konektivitas mobilProyek konstelasi satelit komersial lainnya, yang didanai oleh produsen mobil terkemuka China, siap merevolusi konektivitas pintar untuk kendaraan bermotor dari luar angkasa.Konstelasi Mobilitas Masa Depan (Future Mobility Constellation) milik Geely, yang dikembangkan oleh anak perusahaan luar angkasa komersial Geespace, telah menempatkan 30 satelit di tiga bidang orbit. Konstelasi itu diperluas pada September lalu dengan peluncuran 10 satelit tambahan.Peluncuran ini memungkinkan cakupan global sebesar 90 persen, menjadikannya perusahaan antariksa komersial China pertama yang menawarkan layanan komunikasi satelit orbit rendah kepada pengguna internasional.Konstelasi ini berfokus pada skenario dalam bidang berkendara cerdas, mobilitas pintar, dan elektronik konsumen, kata Wang Yang, pendiri sekaligus CEO Geespace.Konstelasi itu terdiri dari rencana tiga fase, yakni 72 satelit untuk komunikasi data real-time global pada Fase Pertama, 264 satelit untuk konektivitas langsung ke smartphone pada Fase Kedua, dan 5.676 satelit untuk layanan pita lebar (broadband) global pada Fase Ketiga, menurut Wang.Didukung oleh konstelasi satelit, beberapa kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Zeekr dan Galaxy dari Geely kini dilengkapi dengan fitur komunikasi luar angkasa. Pengguna dapat mengirim dan menerima pesan melalui satelit saat jaringan di Bumi mengalami gangguan.Pada Juni tahun lalu, konstelasi satelit Geely memulai operasi komersial internasional di beberapa wilayah Timur Tengah, dan berencana memperluas layanannya ke Afrika Utara pada 2025. Ekspansi ini menandai tonggak sejarah bagi perusahaan luar angkasa komersial China di panggung internasional.Sejumlah analis industri mengungkapkan jaringan satelit sangat berharga untuk aplikasi kendaraan otonomos, karena menyediakan konektivitas yang andal di area-area yang tidak dapat dijangkau oleh jaringan tradisional.Menurut Grand View Research, pasar kendaraan otonomos global diperkirakan akan mencapai 557 miliar dolar AS pada 2030. Konstelasi satelit China memosisikan dirinya untuk merebut pangsa pasar yang signifikan melalui kemitraan dengan berbagai produsen mobil.*1 dolar AS = 16.255 rupiahGeespace telah mendirikan pabrik berteknologi canggih di Taizhou, sebuah kota di China timur, dengan memanfaatkan desain modular dan teknologi manufaktur cerdas. Fasilitas ini dirancang untuk mengurangi biaya produksi sebesar 45 persen dan mampu memproduksi 1 hingga 2 satelit per hari, dengan kapasitas tahunan hingga 500 satelit.Sektor ekonomi lain yang berkembang pesat di China juga menciptakan peluang besar bagi internet satelit orbit rendah Bumi, seiring drone yang jumlahnya terus meningkat bergantung pada jaringan cerdas ketinggian rendah (low-altitude).China sedang mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan cerdas ketinggian rendah dan mendorong penelitian serta pembangunan teknologi 5G/5G-A, navigasi Beidou, dan internet satelit."Jaringan cerdas ketinggian rendah, sebagai fondasi digital untuk ekonomi ketinggian rendah, dapat memastikan operasi yang aman bagi pesawat terbang ketinggian rendah," kata Lu Feng, seorang peneliti dari institut riset teknologi di Beijing.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti China rilis peta karbon organik untuk kawasan tanah hitam global
Indonesia
•
25 Nov 2023

Tim ilmuwan China catat kemajuan baru dalam inovasi orisinal pestisida hijau
Indonesia
•
11 Sep 2024

Produktivitas dan kualitas minyak kayu putih Biak Numfor, Papua meningkat dengan pemuliaan tanaman
Indonesia
•
17 Jul 2024

China akan percepat pembangunan sistem daur ulang limbah
Indonesia
•
10 Feb 2024
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Hidrogen dan manufaktur hijau, kunci penting transisi energi rendah karbon
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026
