Hidrogen dan manufaktur hijau, kunci penting transisi energi rendah karbon

Foto yang diabadikan dengan 'drone' pada 24 Desember 2025 ini menunjukkan panel surya di sebuah pembangkit listrik tenaga fotovoltaik lepas pantai di perairan lepas pantai wilayah Changli, Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Yang Shiyao)
Energi hidrogen dan manufaktur hijau menjadi kunci penting dalam mempercepat transisi menuju sistem energi rendah karbon.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Energi hidrogen dan manufaktur hijau menjadi kunci penting dalam mempercepat transisi menuju sistem energi rendah karbon.
Hal ini dikemukakan dalam sesi keynote speaker hari kedua ‘International Conference on Sustainable Energy Engineering and Application’ (ICSEEA) 2026 yang digelar oleh Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Serpong, Banten, Rabu, (4/2), dikutip dari situs jejaring BRIN, di Bogor, Selasa.
Dalam kesempatan tersebut, Ta-Hui Lin dari National Cheng Kung University (NCKU) Taiwan menekankan peran strategis hidrogen dalam transisi energi global.
Menurut dia, berbagai laporan internasional menunjukkan permintaan hidrogen akan terus meningkat hingga 2050, terutama untuk sektor industri dan transportasi. Namun, adopsi aplikasi baru hidrogen masih tergolong lambat.
“Aaplikasi baru terhadap total permintaan hidrogen masih sangat kecil. Ini menandakan perlunya percepatan riset, inovasi teknologi, serta dukungan kebijakan,” kata Ta-Hui Lin, seraya menambahkan bahwa hidrogen hijau menjadi opsi paling berkelanjutan untuk masa depan energi.
“Riset lanjutan pada teknologi produksi dan pemanfaatan hidrogen hijau menjadi kunci untuk mencapai netralitas karbon global,” ujarnya.
Sementara itu, Hong Shik Lee dari Korea Institute of Industrial Technology (KITECH), memaparkan terobosan teknologi pengolahan energi berbasis hidrogen yang lebih aman dan efisien.
Teknologi ini dirancang untuk menggantikan proses deoksigenasi konvensional yang selama ini bergantung pada hidrogen dan memiliki risiko keselamatan tinggi, lanjutnya.
Menurut dia, penggunaan air memungkinkan proses reaksi dan pemisahan produk berlangsung secara bersamaan, sehingga meningkatkan efisiensi energi dan keselamatan proses industri.
“Kami mengembangkan pendekatan berbasis air melalui proses hidrotermal, sehingga penghilangan oksigen dapat dilakukan tanpa kondisi kering atau bahan berbahaya,” kata Lee.
Pendekatan serupa juga disampaikan Tegoeh Tjahjowidodo dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Dia menawarkan alternatif proses deoksigenasi melalui reaksi hidrotermal dan hidrosolvolisis berbasis air.
“Keunggulan utama metode ini adalah integrasi antara reaksi dan pemisahan produk dalam satu sistem,” ujar Tegoeh.
Dia menambahkan, pengembangan pemurnian hibrida dan pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) superkritis sebagai media proses membuka peluang aplikasi industri yang lebih luas. Fokus riset jangka dekat diarahkan untuk mendukung transisi menuju sistem energi dan proses industri yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Di sektor manufaktur, Ahmad Razlan dari Universiti Malaysia Pahang menyoroti pentingnya manufaktur hijau dan cerdas untuk menjawab tantangan industri modern. Integrasi prinsip keberlanjutan dengan kecerdasan buatan, mampu meningkatkan efisiensi energi, memperpanjang umur alat, serta menekan limbah produksi.
“Teknologi seperti nano-coolant, pembelajaran mesin, dan pemeliharaan prediktif terbukti menurunkan konsumsi energi dan biaya produksi secara signifikan,” kata Ahmad.
Selanjutnya, Muhamad Al-Hapis dari Universiti Kuala Lumpur Malaysian Spanish Institute menekankan potensi pemanfaatan limbah industri dan pertanian sebagai material ramah lingkungan.
Dia menjelaskan bahwa limbah tandan kosong sawit dan bulu ayam memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi material komposit bernilai tambah.
“Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat prinsip ekonomi sirkular dan daya saing industri hijau,” ujarnya.
ICSEEA 2026 menjadi wadah pertukaran gagasan dan hasil riset terkini di bidang energi dan manufaktur berkelanjutan.
Melalui paparan para peneliti dari berbagai negara, konferensi ini menyoroti beragam pendekatan teknologi yang tengah dikembangkan untuk menjawab tantangan transisi energi dan efisiensi industri.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Lebah madu berasal dari Afrika, berevolusi di Asia
Indonesia
•
04 Dec 2021

Pelepasliaran nyamuk jantan steril bantu cegah DBD di China selatan
Indonesia
•
30 Nov 2024

Peneliti Indonesia kembangkan implan tulang berbasis magnesium tanpa operasi pengangkatan
Indonesia
•
19 Nov 2025

Wahana penjelajah China ungkap subpermukaan Mars yang kering dan berlapis-lapis
Indonesia
•
28 Sep 2022
Berita Terbaru

Pola makan vegan dan vegetarian mman bagi pertumbuhan bayi
Indonesia
•
10 Feb 2026

Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir
Indonesia
•
09 Feb 2026

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026
