
Studi sebut perubahan iklim picu lonjakan infeksi serius di wilayah terdampak banjir

Orang-orang yang terdampak banjir dievakuasi ke daerah aman di Distrik Gampaha, Sri Lanka, pada 29 November 2025. (Xinhua/Gayan Sameera)
Risiko leptospirosis meningkat seiring dengan frekuensi badai dan banjir terkait perubahan iklim, dengan subtipe Leptospira yang terus berkembang.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Meningkatnya frekuensi badai dan banjir terkait perubahan iklim memicu peningkatan risiko leptospirosis, infeksi serius pada manusia, demikian menurut sebuah penelitian baru pada Senin (9/2).
Penelitian yang dipimpin University of New England (UNE) Australia itu merekomendasikan dilakukannya pengujian terpadu terhadap masyarakat untuk mendeteksi infeksi zoonosis leptospirosis, peningkatan kewaspadaan di wilayah yang jauh di luar kawasan tropis di utara, serta penelitian lanjutan yang mendesak, demikian pernyataan UNE.
Disebutkan bahwa belum ada vaksin bagi manusia untuk leptospirosis, penyakit bakteri yang meningkat secara global akibat banjir dan cuaca hangat. Wabahnya pun semakin intensif di seluruh dunia, dengan subtipe Leptospira yang terus berkembang.
Pekerja pertanian, dokter hewan, petugas penanganan bangkai hewan, serta penggemar rekreasi air tawar menghadapi risiko tertinggi, menurut para penulis studi yang dipublikasikan dalam Australian and New Zealand Journal of Public Health (ANZJPH).
Penulis utama associate professor Jacqueline Epps, dokter umum pedesaan dari School of Rural Medicine UNE, mengatakan bahwa wabah kini muncul di berbagai wilayah Australia, terkait dengan peningkatan curah hujan, badai, banjir, dan suhu yang lebih hangat. Sebelumnya, wabah semacam ini jarang terjadi di luar zona kasus tinggi di Negara Bagian Queensland.
"Bakteri yang ditemukan dalam feses dan urine pembawa penyakit bertahan lebih lama di tanah dan lumpur yang kondisinya lebih lembap serta hangat. Banjir diduga membawa patogen infeksius dalam jarak jauh serta mencemari sumber air," ujar Epps.
Gejala leptospirosis menyerupai flu atau COVID-19, sehingga banyak kasus tidak terdiagnosis atau salah diagnosis, kata para peneliti, seraya menambahkan bahwa diagnosis dini yang akurat dapat mencegah memburuknya gejala yang dapat berujung pada perawatan intensif untuk kasus gagal organ, meningitis, atau kematian pada 10 persen kasus berat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sel surya perovskit terbaru hasilkan efisiensi fotokonversi tinggi sebesar 27,2 persen
Indonesia
•
17 Nov 2025

Studi: Obat antivirus Paxlovid Pfizer turunkan risiko Long COVID
Indonesia
•
06 Nov 2022

Konferensi Robot Dunia 2023 akan digelar di Beijing
Indonesia
•
06 Jul 2023

Penelitian ungkap Dataran Tinggi Qinghai-Xizang jadi kawasan penyerap karbon yang sangat penting
Indonesia
•
20 Aug 2024


Berita Terbaru

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026

Jika es Antarktika menyusut, seberapa tinggi laut akan naik? Ilmuwan siapkan survei besar
Indonesia
•
08 Sep 2026

‘Power bank’ jadi tenaga eksoskeleton, teknologi ini bantu gerak hingga 35 persen
Indonesia
•
07 Sep 2026

Hongaria kucurkan 1,7 triliun rupiah untuk hutan baru, jutaan pohon bakal ditanam hingga 2030
Indonesia
•
06 Sep 2026
