
Workers World: Peledakan pipa gas Nord Stream merupakan "tindakan perang"

Foto dari udara yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Denmark pada 27 September 2022 ini menunjukkan lokasi kebocoran pipa gas Nord Stream. (Xinhua/Kementerian Pertahanan Denmark)
Kebocoran pipa gas Nord Stream yang meledak pada 26 September 2022 telah melepaskan sebanyak setengah juta metrik ton metana, menjadi sumber polusi yang tak terkira bagi kehidupan laut di area tersebut.
New York City, AS (Xinhua) – Diperkirakan sebanyak setengah juta metrik ton metana meledak dari kebocoran pipa gas Nord Stream, kuantitas yang dikeluarkan dalam satu waktu itu lebih besar dibandingkan yang pernah tercatat sebelumnya, demikian dilansir portal berita Amerika Serikat (AS) Workers World pada Sabtu (4/3) tentang ledakan yang terjadi pada 26 September 2022 itu.Metana, yang merupakan komponen utama dalam gas alam, memerangkap panas 80 kali lebih efisien dibandingkan karbon dioksida, dan pelepasan metana yang disebabkan oleh manusia terjadi karena semua pengembangan bahan bakar fosil serta tempat pembuangan sampah, selain peternakan dan sawah. "Kuantitas emisi metana yang disebabkan oleh manusia dianggap sebagai faktor yang lebih besar untuk perubahan iklim jangka pendek ketimbang karbon dioksida," menurut laporan berjudul ‘Nord Stream pipeline attack: An act of war’ (Serangan pipa gas Nord Stream: Tindakan perang) tersebut.Pada 21 Februari, para perwakilan anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari Ekuador, Gabon, Mozambik, dan negara lainnya berbicara tentang akibat ledakan yang menjadi sumber polusi yang tak terkira bagi kehidupan laut di area tersebut; ancaman terhadap navigasi udara dan laut; konsekuensi iklim yang menghancurkan; dan bahaya yang ditimbulkan ledakan itu bagi situasi geopolitik global yang kompleks, di mana insiden apa pun dapat memicu konsekuensi yang tidak dapat diprediksi, kata laporan itu.Uni Emirat Arab merupakan salah satu perwakilan dari banyak negara yang menyerukan investigasi independen sesegera mungkin berdasarkan sains dan fakta, bukan dengan sikap politik, ujar laporan tersebut."Sangat jelas, Pentagon (AS) lebih tertarik untuk mengintensifkan perang proksinya melawan Rusia dibandingkan membantu transisi ke energi hijau," ungkap laporan itu sembari mengutip laporan jurnalis investigasi pemenang Penghargaan Pulitzer Seymour Hersh baru-baru ini yang menyebutkan bahwa AS dan Norwegia menghancurkan jaringan pipa gas Nord Stream Rusia dengan metode canggih.Presiden AS Joe Biden mengatakan pada konferensi pers tahun lalu bahwa "jika Rusia menginvasi (Ukraina) ... tidak akan ada lagi Nord Stream 2. Kami akan mengakhirinya," menurut laporan tersebut.Jaringan pipa gas Nord Stream membentang dari Rusia langsung menuju Jerman melalui Laut Baltik, dan memasok Jerman dengan surplus gas alam Rusia yang begitu besar sehingga Jerman dapat menjual kelebihan gas tersebut ke negara-negara lain di Eropa Barat, ungkap laporan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Xi Jinping dan Trump kunjungi Kuil Surga yang cerminkan konsep tradisional China
Indonesia
•
15 May 2026

Trump teken perintah eksekutif untuk akhiri sanksi terhadap Suriah
Indonesia
•
01 Jul 2025

Arab Saudi tetapkan atase militer Iran dan 4 diplomat lainnya sebagai 'persona non grata'
Indonesia
•
22 Mar 2026

Rusia akan menindak Wikimedia karena berita palsu tentang konflik Ukraina
Indonesia
•
20 Jul 2022


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
