
Feature – Qi Zai, panda cokelat langka yang memikat dari Pegunungan Qinling

Panda jantan berwarna cokelat dan putih bernama Qi Zai, yang berarti 'putra ketujuh', terlihat sedang memakan bambu di Basis Penelitian dan Penangkaran Panda Raksasa Qinling di Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 7 September 2018. (Xinhua/Zhang Bowen)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah rimbunnya hutan Pegunungan Qinling di China barat, seekor panda raksasa dengan warna yang tak biasa menjadi simbol penting bagi ilmu pengetahuan sekaligus daya tarik emosional bagi para pengunjung.
Panda tersebut adalah Qi Zai. Tidak seperti kebanyakan panda raksasa yang memiliki pola bulu hitam dan putih, warna bulu Qi Zai sangat langka, yakni cokelat muda dan putih. Perpaduan warna yang unik ini membuatnya dijuluki ‘panda cokelat’ dan menjadikannya satu-satunya panda raksasa cokelat yang hidup di penangkaran saat ini.
Kisah Qi Zai bermula pada 1 November 2009 ketika staf konservasi menemukan seekor anak panda yang sangat lemah di Cagar Alam Nasional Foping. Anak panda tersebut diperkirakan baru berusia sekitar dua bulan dan beratnya kurang lebih 2 kilogram.
Liang Qihui, seorang staf senior di kawasan konservasi tersebut, mengenang momen penemuan itu. Dia mengatakan anak panda tersebut ditemukan setelah induknya pergi ke hutan. "Anak panda kecil itu memiliki bercak bulu cokelat dan terlihat sangat lemah," kenangnya.
Untuk melindungi panda langka tersebut, tim konservasi kemudian membawanya ke pusat penelitian satwa liar di Shaanxi agar mendapatkan perawatan intensif. Pada awalnya kondisi Qi Zai cukup rapuh, tetapi setelah mendapatkan perawatan medis dan susu panda dari pusat penelitian, Qi Zai secara bertahap pulih dan tumbuh sehat.
Para ilmuwan mengaitkan warna cokelat Qi Zai dengan mutasi genetik langka yang memengaruhi produksi pigmen bulu. Studi tersebut memberikan pemahaman baru tentang variasi genetik dalam spesies panda raksasa. "Penelitian terhadap Qi Zai membantu kami memahami mekanisme biologis di balik variasi warna panda," kata peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Qi Zai berasal dari subspesies panda Qinling yang hidup di Shaanxi dan dikenal memiliki karakteristik genetik yang khas. Pegunungan Qinling bukan hanya rumah bagi Qi Zai, melainkan juga salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati paling penting di China. Pegunungan ini menjadi batas geografis alami antara China utara dan selatan, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai spesies langka.
Selain panda raksasa, Pegunungan Qinling juga dihuni oleh monyet hidung pesek emas, takin, serta burung ibis jambul yang pernah berada di ambang kepunahan. Lingkungan yang relatif terisolasi di Qinling diyakini menjadi salah satu faktor yang memungkinkan munculnya variasi genetik unik seperti panda raksasa cokelat.
Menurut Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional (National Forestry and Grassland Administration) China, perlindungan habitat alami menjadi prioritas utama dalam konservasi panda. Upaya ini juga didukung oleh penelitian ilmiah yang berkelanjutan. Berkat langkah-langkah tersebut, saat ini hampir 1.900 ekor panda raksasa hidup di alam liar di China.
Selain menjadi objek penelitian ilmiah, Qi Zai juga berperan sebagai ‘duta konservasi’ yang membantu meningkatkan kesadaran publik tentang perlindungan panda raksasa dan habitat alaminya. Para peneliti mengatakan bahwa keberadaan panda raksasa cokelat seperti Qi Zai menunjukkan betapa pentingnya menjaga keanekaragaman genetik dalam populasi panda liar.
Dalam beberapa dekade terakhir, China telah memperkuat berbagai langkah konservasi panda raksasa, termasuk perlindungan habitat, penelitian ilmiah, serta program penangkaran dan pelepasliaran. Upaya tersebut membantu meningkatkan populasi panda secara bertahap.
Di tengah keberhasilan upaya konservasi tersebut, Qi Zai menjadi simbol keajaiban alam sekaligus pengingat bahwa masih banyak misteri genetika yang tersimpan di hutan bambu China.
Dengan bulu cokelat yang unik, Qi Zai tidak hanya memikat perhatian pengunjung, tetapi juga membantu para ilmuwan memahami lebih dalam tentang evolusi dan keanekaragaman spesies panda raksasa.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Putin sebut Rusia sedang tingkatkan kemampuan dalam pembangunan kapal pemecah es bertenaga nuklir
Indonesia
•
25 Jan 2026

Ilmuwan temukan gletser paling tebal di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
Indonesia
•
30 Sep 2024

Studi: Perubahan iklim kurangi tingkat keparahan insiden cuaca dingin ekstrem
Indonesia
•
13 Feb 2025

Detektor terahertz China tuai hasil di Antarktika
Indonesia
•
15 Mar 2023


Berita Terbaru

FMIPA UI temukan spesies baru bakteri tahan panas
Indonesia
•
20 May 2026

Makin banyak makan gula, daya ingat makin menurun
Indonesia
•
20 May 2026

Ilmuwan ungkap jaringan komunikasi sel tersembunyi dengan teknik nanoskopi baru
Indonesia
•
18 May 2026

13 spesies kuda laut dunia ada di Indonesia, terancam perdagangan ilegal dan kerusakan habitat
Indonesia
•
19 May 2026
