13 spesies kuda laut dunia ada di Indonesia, terancam perdagangan ilegal dan kerusakan habitat

Ilustrasi. (yao oo on Unsplash)

Kuda laut sangat bergantung pada habitat karena bukan “perenang” yang kuat. Hewan ini biasa mengaitkan ekornya pada lamun, alga, atau terumbu karang untuk bertahan di perairan.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Kuda laut termasuk jenis ikan yang hidup di perairan dangkal di iklim sedang dan tropis.

Seperti namanya, semua kuda laut memiliki kepala berbentuk kuda. Tubuh mereka yang panjang tetap tegak saat berenang dan berujung pada ekor keriting yang dapat digunakan untuk mencengkeram satu sama lain, termasuk tumbuhan laut.

Sejauh ini, para ilmuwan mendapati sekitar 50 spesies kuda laut yang berbeda. Dari jumlah tersebut, 13 di antaranya mendiami perairan Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, mengatakan, angka itu masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru.

Menurutnya, beberapa spesies kuda laut di Indonesia kini berada dalam kategori terancam berdasarkan tingkat keterancaman global maupun nasional.

“Untuk kuda laut saat ini, khususnya yang ada di Indonesia, ada yang berstatus critically endangered, endangered, dan vulnerable,” ujarnya dalam lokakarya bertajuk ‘Perspektif Masyarakat Pesisir Dalam Mendukung Keberlanjutan Kuda Laut di Perikanan Indonesia”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (18/5).

Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan kuda laut, ungkap Masayu, adalah minimnya data pelaporan pemanfaatan dan perdagangan. Kondisi ini membuat status populasi kuda laut di alam sulit dipastikan.

Dia menyampaikan, perdagangan kuda laut ke luar negeri wajib dilengkapi dokumen Non-Detriment Findings (NDF) untuk memastikan pemanfaatannya tidak mengancam populasi di alam. “Kalau pemanfaatan dan perdagangan tidak dilaporkan, kita tidak mengetahui kondisi populasi sebenarnya,” katanya.

Selain perdagangan, ancaman lain datang dari rusaknya habitat pesisir seperti lamun dan makroalga yang menjadi tempat hidup kuda laut.

Masayu mengatakan, kuda laut sangat bergantung pada habitat karena bukan “perenang” yang kuat. Hewan ini biasa mengaitkan ekornya pada lamun, alga, atau terumbu karang untuk bertahan di perairan.

“Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup,” ujarnya, seraya menyoroti tingginya pemanfaatan kuda laut kering untuk obat tradisional dan suvenir.

Menurut dia, tingginya nilai ekonomi membuat kuda laut terus dieksploitasi, dengan harga mencapai 1 juta rupiah hingga 8 juta rupiah per kilogram.

Dalam setiap kilogramnya, terdapat ratusan hingga ribuan ekor kuda laut, tergantung ukuran spesiesnya. “Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Masayu memaparkan sejumlah fakta unik kuda laut, salah satunya adalah jantan yang mengandung dan melahirkan anak, dengan telur dari betina dipindahkan ke kantong tubuh jantan untuk dierami selama sekitar satu hingga dua bulan hingga siap lahir.

“Di dalam kantong itu, embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan,” jelasnya.

BRIN juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.

Selain itu, BRIN menyusun pedoman translokasi dan restocking, serta mendukung penyusunan rencana aksi nasional untuk pengelolaan kuda laut berkelanjutan.

Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personie. Karena itu, dia mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.

“Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” katanya.

Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait