
Studi: Perubahan iklim kurangi tingkat keparahan insiden cuaca dingin ekstrem

Teknisi catu daya bernama Yin Bin (kanan) dan Long Yujun kembali setelah memeriksa kondisi lapisan es pada menara transmisi listrik di sebuah stasiun pengamatan di Gunung Xihuang di perbatasan antara Wilayah Otonom Etnis Dong Zhijiang dengan Wilayah Otonom Etnis Miao Mayang di Huaihua, Provinsi Hunan, China tengah, pada 19 Desember 2023. (Xinhua/Chen Zhenhai)
Pemanasan antropogenik mengurangi peluang dan intensitas gelombang dingin yang serupa dengan kejadian pada 2023, di mana peluang berkurang lebih dari 92 persen dan intensitas berkurang 1,9 derajat Celsius, dibandingkan dengan dunia tanpa pengaruh manusia.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi gabungan yang dilakukan tim peneliti China dan Amerika Serikat menemukan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia mengurangi tingkat keparahan insiden cuaca dingin yang ekstrem.Diterbitkan dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science, studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Institute of Atmospheric Physics (IAP) di Akademi Ilmu Pengetahuan China, Akademi Ilmu Meteorologi China, dan University at Albany - State University of New York.Penelitian ini berfokus pada gelombang dingin ekstrem yang melanda China timur pada Desember 2023. Penelitian tersebut menemukan bahwa pola sirkulasi atmosfer berskala besar yang tidak biasa merupakan penyebab utama insiden gelombang dingin pada 2023 itu, menyumbang 83 persen dari intensitasnya. Sementara itu, efek pemanasan dari perubahan iklim mengurangi tingkat keparahannya hingga 22 persen."Temuan kami mengonfirmasi bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia justru mengurangi tingkat keparahan insiden cuaca dingin yang ekstrem," kata Qian Cheng, seorang profesor di IAP.Studi tersebut mengungkapkan bahwa pemanasan antropogenik mengurangi peluang dan intensitas gelombang dingin yang serupa dengan kejadian pada 2023, di mana peluang berkurang lebih dari 92 persen dan intensitas berkurang 1,9 derajat Celsius, dibandingkan dengan dunia tanpa pengaruh manusia. Gelombang dingin ekstrem diperkirakan akan semakin jarang terjadi dan lebih ringan hingga akhir abad ini, dengan frekuensi menurun 95 persen dan intensitas turun lebih dari 2 derajat Celsius dalam skenario emisi sedang.Namun demikian, studi ini juga mencatat bahwa insiden cuaca dingin ekstrem tidak akan hilang sepenuhnya."Jika netralitas karbon tercapai dan pemanasan global stabil pada 1,5 derajat Celsius, kita masih dapat mengalami suhu dingin ekstrem seperti saat ini," kata Qian. "Itu berarti, masyarakat harus tetap siap menghadapi cuaca dingin yang tiba-tiba, bahkan jika target 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris tercapai."Temuan ini menyoroti perlunya strategi adaptif untuk mengurangi dampak dari insiden cuaca dingin ekstrem, tambah Qian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China kembangkan komputer dengan kemampuan berpikir mirip otak kera
Indonesia
•
03 Aug 2025

Tim ilmuwan China kembangkan keramik insulasi termal yang sangat kuat dan tinggi
Indonesia
•
15 Jan 2024

Logam berbahaya bisa masuk ke paru-paru lewat vape
Indonesia
•
18 Apr 2026

NIPA: Pertumbuhan paten dorong transformasi digital China
Indonesia
•
17 Oct 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
