
Studi berikan pengetahuan lebih dalam tentang evolusi iklim Mars

Foto yang dirilis pada 11 Juni 2021 oleh Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) ini menunjukkan swafoto wahana penjelajah Mars pertama China, Zhurong, bersama platform pendaratan. (Xinhua/CNSA)
Aktivitas sedimen yang ditiup angin merupakan proses geologis paling penting dalam evolusi iklim Mars sejak akhir periode Amazon, karena sedimen-sedimen itu merekam karakteristik lingkungan iklim dan proses perubahan iklim di Mars modern.
Beijing, China (Xinhua) – Temuan terbaru wahana penjelajah (rover) Zhurong di bukit pasir Mars menjelaskan tentang perubahan geologis dan iklim yang dialami planet itu sekitar 400.000 tahun yang lalu, memberikan pengetahuan baru dalam studi evolusi iklim di Mars, ungkap sebuah studi yang dipublikasikan pada Kamis (6/7) di dalam jurnal Nature.Mars merupakan planet yang paling mirip dengan Bumi dalam tata surya. Studi mengenai evolusi Mars diperkirakan dapat memberikan referensi untuk masa depan Bumi.Aktivitas sedimen yang ditiup angin merupakan proses geologis paling penting di Mars sejak akhir periode Amazon, karena sedimen-sedimen itu merekam karakteristik lingkungan iklim dan proses perubahan iklim di Mars modern.Tim peneliti dari Observatorium Astronomi Nasional China (National Astronomical Observatories of China/NAOC), Institut Geologi dan Geofisika serta Institut Penelitian Dataran Tinggi Tibet yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka di Brown University, Amerika Serikat. Para peneliti tersebut menggunakan kamera beresolusi tinggi milik wahana pengorbit Tianwen-1 dan kamera-kamera medan maupun multispektral milik wahana penjelajah Zhurong, penganalisis komposisi permukaan, serta alat ukur meteorologis untuk memperoleh data dari permukaan Mars.Mereka menganalisis arah angin dan umur model absolut bukit pasir Mars di Dataran Utopia bagian selatan di dekat lokasi pendaratan Zhurong dengan mempelajari struktur permukaan dan distribusi frekuensi ukuran kawah tumbukan.Temuan mereka menunjukkan bahwa kawasan tersebut kemungkinan mengalami perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan arah angin sekitar 400.000 tahun yang lalu, bertepatan dengan berakhirnya zaman es di Mars, ujar Li Chunlai, seorang peneliti NAOC, yang memimpin studi tersebut.Arah angin di kawasan itu bergeser hampir 70 derajat dari timur laut ke barat laut, mengikis bukit pasir barchan yang terang menjadi bukit pasir longitudinal yang gelap, kata Li.Studi ini memperkirakan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh perubahan kemiringan Mars.Studi tersebut membantu meningkatkan pemahaman kita tentang evolusi iklim Mars, dan dapat memberikan referensi untuk prediksi perubahan iklim Bumi di masa depan, kata Li.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan sebut China masuk jajaran 10 negara paling inovatif
Indonesia
•
24 Nov 2023

Taiwan akan danai penelitian nuklir fusi setelah capai terobosan besar
Indonesia
•
15 Dec 2022

Forum teknologi dorong inovasi untuk kerja sama hijau China-UE
Indonesia
•
29 Apr 2024

China akan tingkatkan layanan Iptek untuk warga pedesaan
Indonesia
•
03 Aug 2022


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
