
Data wahana pendarat InSight NASA jadi pengamatan pertama terhadap inti Mars

Gambar yang diabadikan oleh wahana pendarat NASA, InSight, ini menunjukkan seismometer InSight di Mars, pada 11 Desember 2022. (Foto: NASA)
Wahana pendarat InSight NASA melakukan pengamatan pertama terhadap gelombang seismik yang bergerak melalui inti Mars, dan menemukan bahwa inti besi cair pada planet ini lebih kecil dan lebih padat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Dengan menggunakan data seismik yang dikumpulkan oleh misi wahana pendarat NASA, InSight, para ilmuwan melakukan pengamatan pertama terhadap gelombang seismik yang bergerak melalui inti Mars, menurut studi baru yang diterbitkan pada Senin (24/4).Mars memiliki inti paduan besi cair di pusatnya. Dengan melihat gelombang seismik yang terdeteksi oleh wahana pendarat InSight dari beberapa gempa pada 2021, para ilmuwan dapat menyimpulkan bahwa inti besi cair pada Mars lebih kecil dan lebih padat daripada yang diperkirakan sebelumnya.Temuan ini menandai pengamatan langsung pertama yang pernah dilakukan terhadap inti planet lain, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academies of Sciences.Kedua gempa tersebut, yang terjadi pada 25 Agustus dan 18 September 2021, berasal dari sisi berlawanan dari tempat Insight berada di Planet Merah itu, disebut sebagai gempa sisi jauh (farside)."Gempa farside secara intrinsik lebih sulit untuk dideteksi karena banyaknya energi yang hilang atau teralihkan saat gelombang seismik bergerak melalui planet tersebut," kata penulis utama penelitian itu Jessica Irving, seorang ilmuwan Bumi di Universitas Bristol di Inggris.Berdasarkan temuan yang didokumentasikan dalam jurnal tersebut, sekitar seperlima inti Mars terdiri dari unsur-unsur seperti belerang, oksigen, karbon, dan hidrogen.Wahana pendarat InSight diluncurkan pada Mei 2018 untuk meneliti bagian dalam Mars. Wahana itu mendarat tanpa kendala di Planet Merah pada akhir November 2018. Wahana pendarat tersebut mengakhiri misinya pada Desember lalu setelah lebih dari empat tahun mengumpulkan ilmu pengetahuan yang unik di Mars.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Model AI bantu inventarisasi fasilitas PLTB dan PLTS di China
Indonesia
•
23 May 2026

Australia mulai bangun teleskop radio paling kuat
Indonesia
•
05 Dec 2022

Huawei luncurkan ponsel lipat dan jam tangan pintar baru di Indonesia
Indonesia
•
06 Mar 2026

Riset: Long COVID berkaitan dengan kadar oksigen otak yang lebih rendah
Indonesia
•
04 Mar 2023


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
