
Ilmuwan Australia ungkap bahaya tersembunyi pestisida di ekosistem akuatik

Para petani bekerja di sawah di dekat Gunung Merapi di Desa Cangkringan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 3 Januari 2025. (Xinhua/Agung Supriyanto)
Risiko ekologis jangka panjang dapat ditimbulkan oleh zat-zat toksik, seperti insektisida, di dalam ekosistem akuatik.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti Australia berhasil menciptakan sebuah teknik inovatif untuk mengevaluasi risiko ekologis jangka panjang yang ditimbulkan oleh zat-zat toksik, seperti insektisida, di dalam ekosistem akuatik.Dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Queensland, pemerintah Queensland, dan Universitas Sydney, Permukaan Respons Temporal (Temporal Response Surface/TRS) menawarkan sebuah alat praktis untuk melindungi ekosistem akuatik dari ancaman yang dianggap remeh, demikian menurut rilis dari Universitas Queensland (UQ) pada Senin (23/6).Pendekatan TRS tersebut mengatasi masalah regulasi yang krusial dengan memperhitungkan toksisitas kumulatif atau toksisitas yang tertunda, terutama dari bahan-bahan kimia, seperti imidacloprid yang banyak digunakan di dalam insektisida neonicotinoid, ungkap rilis tersebut.TRS mengintegrasikan durasi paparan ke dalam evaluasi risiko, yang menyelaraskan dengan standar global untuk pemodelan perkembangan toksisitas dan peningkatan perlindungan jangka panjang bagi sungai dan lautan, sebut rilis."Pedoman regulasi yang ada saat ini mungkin menganggap remeh risiko ekologis dari paparan yang berkepanjangan terhadap jenis bahan-bahan kimia ini," kata Cath Neelamraju, seorang peneliti dari Fakultas Lingkungan Hidup UQ.Imidacloprid terakumulasi di dalam reseptor saraf spesies akuatik, menyebabkan bahaya yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, sebuah risiko yang sering kali terlewatkan oleh pedoman yang ada saat ini, ujar Neelamraju.Oleh para ahli, TRS dipuji sebagai "langkah besar". Otoritas Belanda saat ini sedang menjajaki penerapannya. Metode ini dapat diperluas ke zat-zat toksik lain, seperti insektisida organofosforus dan merkuri, maupun ke faktor-faktor pemicu stres lingkungan, seperti perubahan suhu, papar penelitian yang telah diterbitkan di dalam jurnal Environmental Science & Technology tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Antarmuka otak-komputer sambut era pengendalian pikiran
Indonesia
•
29 May 2024

Penelitian ungkap Dataran Tinggi Qinghai-Xizang jadi kawasan penyerap karbon yang sangat penting
Indonesia
•
20 Aug 2024

Peneliti China buat kemajuan lebih lanjut dalam pelajari artefak kuno Salawusu
Indonesia
•
08 Feb 2023

Studi: Kemampuan terbang belalang dipengaruhi oleh jumlah kawanan
Indonesia
•
06 Jan 2022


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
