Aktivitas militer paksa warga Gaza terus mengungsi, pemukim Israel jadi pelaku kekerasan di Tepi Barat

Warga Palestina memeriksa kerusakan pascaserangan udara Israel di wilayah Sabra, selatan Gaza City, pada 12 Juli 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Aktivitas militer di Gaza memaksa makin banyak warga mengungsi, sementara kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat menjadi penyebab utama warga Palestina menderita luka-luka, kata badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/7).

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan bahwa warga di Gaza terus menanggung dampak terberat dari aktivitas militer yang masih berlangsung dan pengungsian paksa yang berulang kali terjadi.

Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) pada Rabu (15/7) mengatakan bahwa ketika warga dipaksa untuk mengungsi, mereka berisiko kehilangan akses terhadap layanan dasar dan bantuan kemanusiaan.

OCHA mengatakan bahwa dalam 12 hari pertama bulan ini, PBB dan mitranya telah menyalurkan bantuan pangan umum kepada lebih dari 250.000 orang melalui 36 lokasi distribusi.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada Kamis mengatakan bahwa pihaknya telah meningkatkan program bantuan tunainya untuk membantu 1.500 petani Palestina mengolah lahan di seluruh Jalur Gaza selama musim tanam 2026.

"Hal ini akan membantu para petani menghasilkan cukup sayuran segar untuk lebih dari 100.000 orang dan meningkatkan akses terhadap pangan bergizi bagi masyarakat rentan," kata FAO.

OCHA juga mengatakan bahwa mitra-mitra kemanusiaannya terus mendistribusikan perlengkapan belajar dan mengajar kepada para siswa serta guru selama pekan pertama Juli.

"Lebih dari 5.440 paket perlengkapan belajar, yang mencakup buku tulis, spidol, dan pensil, akan membantu sekitar 217.600 anak perempuan dan laki-laki dalam kegiatan belajar musim panas yang dimulai Sabtu (11/7) lalu," kata OCHA.

Di Tepi Barat, OCHA mengatakan pihaknya memimpin delegasi tingkat tinggi untuk mengunjungi Desa Deir Nidham di Kegubernuran Ramallah. Para peserta bertemu dengan keluarga-keluarga Palestina yang terdampak kekerasan pemukim Israel dan ekspansi pos-pos permukiman.

Delegasi itu mendengarkan langsung dari masyarakat terdampak mengenai risiko yang dihadapi keluarga-keluarga tersebut, serta dampak kemanusiaan yang mereka alami terhadap kehidupan sehari-hari dan mata pencaharian mereka.

OCHA mengatakan bahwa serangan oleh pemukim Israel menjadi salah satu penyebab utama warga Palestina menderita luka-luka di Tepi Barat, dengan menyumbang 55 persen dari seluruh kasus luka-luka pada 2026.

OCHA kembali menegaskan bahwa warga Palestina di Tepi Barat harus dilindungi sesuai dengan ketentuan hukum humaniter internasional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait