PBB: Aktivitas militer Israel di Rafah ganggu penyaluran bantuan kemanusiaan

Foto yang diabadikan pada 12 Juni 2026 ini menunjukkan tenda-tenda sementara untuk para pengungsi Palestina di Gaza City. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Pekerja kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (14/7) mengatakan mitra mereka melaporkan adanya peningkatan aktivitas militer Israel yang menimbulkan gangguan terhadap operasi bantuan kemanusiaan di dekat "Garis Kuning" di Rafah utara, Jalur Gaza.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan badan dunia tersebut dan mitra kemanusiaannya menerima laporan pada Selasa tentang peningkatan aktivitas militer di sekitar lokasi-lokasi di Rafah utara, dekat apa yang disebut "Garis Kuning", termasuk laporan pergerakan tank menuju salah satu lokasi penampungan pengungsi.

"Laporan awal menunjukkan seorang warga Palestina tewas dan tiga lainnya terluka di salah satu lokasi tersebut," kata OCHA. "Para korban luka dilaporkan telah dipindahkan ke Rumah Sakit Lapangan Komite Palang Merah Internasional untuk mendapatkan perawatan."

Kantor tersebut juga menyatakan bahwa pada Senin (13/7) para pekerja kemanusiaan telah mengadakan konsultasi dengan para perwakilan masyarakat dari 17 lokasi pengungsian yang menampung sekitar 3.000 keluarga, menyusul laporan adanya pergerakan pasukan Israel dan gangguan terhadap layanan kemanusiaan di daerah tersebut.

"Para perwakilan masyarakat melaporkan blok-blok kuning yang digunakan untuk menandai garis tersebut telah digeser ke arah utara," kata OCHA. "Mereka menyebutkan adanya pergerakan harian tank-tank Israel, pembangunan tanggul pasir, serta penembakan yang terjadi berulang kali. Sejumlah keluarga pengungsi dilaporkan tetap berada di dalam tenda mereka hampir sepanjang hari karena takut terkena tembakan," ungkap badan kemanusiaan tersebut.

Beberapa warga mengatakan kepada para pekerja kemanusiaan bahwa mereka ingin pindah, namun hanya sedikit opsi yang layak mengingat keterbatasan ruang di tempat lain, minimnya ketersediaan tenda dan barang penting lainnya, serta kurang memadainya akses terhadap sejumlah layanan. Sementara itu, sebagian lainnya mengatakan mereka memilih tetap tinggal karena takut kehilangan akses terhadap rumah, tanah, atau harta benda mereka.

OCHA mengatakan mitra mereka melaporkan bahwa situasi kerawanan ini sangat mengganggu distribusi bantuan penting. Seorang pengemudi truk pengangkut air bersih bahkan dilaporkan terluka akibat tembakan pada 8 Juli lalu.

Di Tepi Barat, OCHA mengatakan bahwa pada akhir pekan lalu para pemukim dilaporkan menyerang warga Palestina yang bekerja di lahan pertanian di sebuah daerah di Kegubernuran Hebron bagian selatan.

Sekitar 30 warga Palestina terluka, termasuk anak-anak, perempuan, dan orang tua. Selain itu, pohon-pohon zaitun dan infrastruktur pertanian juga dilaporkan mengalami kerusakan.

"Dalam insiden tersebut, pasukan Israel dilaporkan tiba di lokasi kejadian dan menyatakan daerah itu sebagai zona militer tertutup, serta memerintahkan petani Palestina untuk pergi, sementara para pemukim Israel tetap berada di daerah tersebut," kata kantor itu. "Insiden-insiden ini mencerminkan pola kekerasan berulang oleh pemukim yang berdampak pada warga Palestina yang berupaya mengakses dan mengolah lahan pertanian mereka."

OCHA mengatakan para mitranya sedang membantu komunitas-komunitas yang terdampak, menambahkan bahwa warga sipil harus dilindungi dan semua insiden kekerasan harus ditangani sesuai dengan hukum internasional.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait