45 persen korban tewas dalam perang 40 hari Iran lawan Israel-AS adalah warga sipil

Foto yang diabadikan pada 4 April 2026 ini menunjukkan sebuah bangunan yang hancur akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel di Universitas Shahid Beheshti di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)

Warga sipil Iran mencakup sekitar 45 persen dari korban tewas selama perang 40 hari dengan Israel dan Amerika Serikat.

 

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Media pemerintah Iran pada Ahad (26/4) melaporkan bahwa warga sipil mencakup sekitar 45 persen dari korban tewas selama perang 40 hari dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

Mengutip sejumlah pejabat Iran, kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa total korban tewas mencapai 3.468 orang, termasuk 1.460 warga sipil.

Jamshid Nazmi, penasihat senior untuk ketua Yayasan Martir dan Urusan Veteran (Foundation of Martyrs and Veterans Affairs) Iran, menyampaikan angka-angka tersebut dalam sebuah konferensi pers di Teheran, menurut IRNA.

Dia mengatakan bahwa korban tewas dari warga sipil mencakup perempuan, laki-laki, anak-anak, dan orang lanjut usia, serta menambahkan bahwa warga negara Lebanon, Palestina, Irak, dan Pakistan juga termasuk di antara yang tewas.

Dalam konferensi pers yang sama, Farideh Oladqobad, wakil kepala di lembaga tersebut, mengatakan bahwa 499 korban adalah perempuan dan 2.969 adalah laki-laki. Dia juga menyebutkan bahwa jumlah korban tewas dari kalangan militer mencapai 2.008 orang.

Laporan tersebut tidak memberikan rincian mengenai bagaimana angka-angka tersebut diverifikasi atau dikonfirmasi secara independen.

Para pejabat Iran menyatakan bahwa pertempuran dimulai pada 28 Februari, ketika Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lainnya di Iran. Otoritas Iran mengatakan bahwa sejumlah tokoh militer senior tewas dalam serangan awal tersebut.

Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di Timur Tengah, menurut para pejabat dari kedua pihak.

Gencatan senjata dicapai pada 8 April, dan pembicaraan lanjutan diadakan di Pakistan pada 11 dan 12 April, tetapi berakhir tanpa kesepakatan, menurut laporan sebelumnya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait