Teknologi satelit China melesat, citra Bumi kini bisa dikirim hanya dalam waktu 1,5 jam

Roket pengangkut Smart Dragon-3 (SD-3), yang membawa tujuh satelit, lepas landas dari perairan lepas pantai Yangjiang, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 12 Februari 2026. China pada Kamis (12/2) meluncurkan roket pengangkut SD-3 dari laut, mengirimkan tujuh satelit, termasuk satelit PRSC-EO2 milik Pakistan, ke orbit yang direncanakan. (Xinhua/Lu Hanxin)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dua satelit optik, Dongpo-13 dan Dongpo-14, yang merupakan bagian dari peluncuran enam satelit yang dikembangkan oleh MinoSpace dan Huantian Wisdom, mengirimkan citra penginderaan jauh berdefinisi tinggi hanya dalam waktu 1,5 jam setelah mencapai orbit pada Rabu (22/7). Ini merupakan rekor kecepatan baru bagi perusahaan satelit swasta China.

Pencapaian ini mengalahkan rekor sebelumnya, yakni kurang dari dua jam, yang dicapai pada Mei lalu.

Catatan waktu yang lebih cepat ini menunjukkan peningkatan kemampuan respons dan kekuatan teknologi dalam kapabilitas penginderaan jauh komersial China, kata Chang Wujun, wakil manajer umum di perusahaan manufaktur satelit MinoSpace.

Meskipun teknologi tersebut mendukung berbagai aplikasi, mulai dari pertanian, kehutanan, hingga penanggulangan bencana dan perencanaan kota, kecepatan pengambilan citra tetap menjadi tolok ukur utama dari nilai layanan.

Sistem konvensional sering kali memerlukan waktu berhari-hari sejak penugasan hingga penerimaan citra. Dalam situasi darurat, seperti banjir atau tanah longsor, setiap jam yang bisa dipangkas dapat membuat perbedaan krusial dalam pengambilan keputusan.

Menurut Chang, MinoSpace kini memanfaatkan pemrosesan berbasis kecerdasan buatan (AI) pada satelit (onboard processing) untuk mengidentifikasi target, mendeteksi anomali, dan memprioritaskan transmisi data saat satelit masih berada di orbit.

Pemrosesan ini mengatasi hambatan umum berupa pengunduhan dan pemrosesan data mentah dalam jumlah masif di stasiun Bumi, sehingga memungkinkan penyediaan informasi hampir secara waktu nyata (near-real-time) untuk pemantauan bencana, upaya tanggap darurat, dan pengawasan dinamis.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait