
Studi: Kepunahan dinosaurus dimulai 2 juta tahun lebih awal dari yang diyakini sebelumnya

Orang-orang mengamati fosil dinosaurus di Museum Nanjing saat liburan Tahun Baru di Nanjing, Provinsi Jiangsu, China timur, pada 2 Januari 2021. (Xinhua/Su Yang)
Kepunahan dinosaurus telah berada di jalurnya jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya, dan dampak bencana 66 juta tahun silam mungkin hanya menjadi pukulan terakhir.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah studi baru-baru ini mengungkap bahwa dinosaurus telah berada di jalur menuju kepunahan jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya, dan dampak bencana 66 juta tahun silam mungkin hanya menjadi pukulan terakhir.Menurut studi itu, yang diterbitkan pada pekan ini di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States, keanekaragaman hayati yang rendah dari dinosaurus nonunggas terjadi sekitar dua juta tahun sebelum reptil-reptil tersebut punah.Sebuah tim yang terdiri dari ilmuwan China mengumpulkan lebih dari 1.000 sampel kulit telur dinosaurus dari sebuah sekuens stratigrafi berkelanjutan kaya fosil, setebal sekitar 150 meter, di cekungan Shanyang.Cekungan yang terletak di Provinsi Shaanxi, China barat laut, tersebut merupakan rumah bagi salah satu catatan dinosaurus paling melimpah dari urutan Zaman Kapur Akhir (100,5 – 66 juta tahun lalu), menurut studi itu.Para peneliti telah menemukan hanya tiga taksa kulit telur dinosaurus yang mewakili dua clade (sekelompok organisme yang diyakini telah berevolusi dari nenek moyang yang sama, menurut prinsip-prinsip kladistik) dalam sedimen yang terendap antara sekitar 68,2 hingga 66,4 juta tahun silam. Hal ini menunjukkan keanekaragaman hayati dinosaurus rendah yang berkelanjutan pada saat itu.Hasilnya mendukung sebuah penurunan jangka panjang dalam keanekaragaman hayati dinosaurus global sebelum kepunahan dinosaurus.Sejumlah peristiwa bencana yang mengakhiri Zaman Kapur (145 – 66 juta tahun lalu), tumbukan asteroid atau erupsi gunung berapi, dan menyusul pergolakan iklim, hanya memberikan pukulan fatal terakhir terhadap ekosistem dinosaurus yang sudah rentan, menurut studi itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China mulai pengeboran ‘superdeep borehole’ kedua
Indonesia
•
22 Jul 2023

Tim peneliti di Australia temukan pembuluh darah cetak 3D dapat ungkap rahasia strok
Indonesia
•
20 Nov 2025

Pengoperasian kembali reaktor nuklir Swedia yang rusak ditunda hingga 2023
Indonesia
•
14 Sep 2022

Peneliti China prediksi pemanasan global berpotensi tingkatkan fenomena cuaca ‘Mei-yu’
Indonesia
•
10 Oct 2023


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
