
Penelitian ungkap mekanisme penyerapan karbon di padang rumput Dataran Tinggi Qinghai-Tibet

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 4 Juni 2025 ini menunjukkan seekor burung bangau leher hitam di Cagar Alam Nasional Longbao Qinghai di Kota Yushu, Prefektur Otonom Etnis Tibet Yushu, Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Du Xiaowei)
Stepa pegunungan tinggi memiliki periode penyerapan karbon terpanjang tetapi juga memiliki laju penyerapan karbon bersih maksimum terendah, sementara padang rumput yang dibudidayakan memiliki periode penyerapan karbon lebih pendek daripada padang rumput alami.
Xining, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian baru mengungkap mekanisme kunci penyerapan karbon di padang rumput pegunungan tinggi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, China barat, yang memberikan landasan ilmiah untuk keamanan ekologi.Penelitian yang dilakukan oleh tim periset dari Institut Biologi Dataran Tinggi Barat Laut (Northwest Institute of Plateau Biology/NWIPB) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) ini dipublikasikan dalam jurnal Agricultural and Forest Meteorology.Ekosistem pegunungan tinggi Dataran Tinggi Qinghai-Tibet berfungsi sebagai penyerap karbon yang sangat penting, dengan variasi musiman dan antartahun dalam kapasitas asimilasi karbonnya diatur oleh faktor iklim. Penting untuk meningkatkan pemahaman tentang mekanisme siklus karbon di wilayah ini, kata He Fuquan, peneliti di NWIPB.Tim peneliti mengumpulkan data pengamatan kumulatif dari 24 lokasi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.Lokasi-lokasi tersebut tersebar di berbagai lingkungan ekosistem padang rumput pegunungan, termasuk ladang pegunungan, lahan basah pegunungan tinggi, ladang semak pegunungan, stepa pegunungan tinggi, dan padang rumput yang dibudidayakan.Para peneliti menganalisis anomali antartahun dalam pertukaran ekosistem bersih musiman dan tahunan, periode penyerapan karbon, dan laju penyerapan karbon bersih maksimum terkait dengan variabel iklim di berbagai ekosistem pegunungan tinggi.Mereka menemukan bahwa stepa pegunungan tinggi memiliki periode penyerapan karbon terpanjang tetapi juga memiliki laju penyerapan karbon bersih maksimum terendah, sementara padang rumput yang dibudidayakan memiliki periode penyerapan karbon lebih pendek daripada padang rumput alami.Presipitasi hujan musim semi merupakan "pemicu" utama yang menginisiasi siklus penyerapan karbon di padang rumput alami. Selama musim pertumbuhan, durasi periode penyerapan karbon ditentukan bersama oleh presipitasi hujan awal musim dan jenis padang rumput, yang berkontribusi pada variabilitas antartahun dan perbedaan ekosistem dalam hal pertukaran ekosistem bersih, seperti yang diungkapkan dalam studi tersebut.Ke depannya, tim peneliti akan berfokus pada mekanisme dampak anomali iklim terhadap periode penyerapan karbon dan laju penyerapan karbon bersih maksimum, jelas He.Peneliti akan lebih memperbaiki model prediksi dinamis terkait penyerapan karbon pegunungan tinggi dan memberikan dukungan yang lebih baik untuk keamanan ekologi, tambahnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Terobosan dalam disosiasi hidrogen tawarkan harapan baru untuk minimalkan emisi karbon
Indonesia
•
07 Sep 2025

Material terinspirasi bintang laut merah dapat swapulih dengan cepat di dalam air
Indonesia
•
20 May 2025

Peternakan laut berteknologi tinggi bantu perlindungan lingkungan di Hainan, China
Indonesia
•
13 Jun 2023

Studi ungkap Cekungan Qaidam berpotensi jadi basis energi terbarukan China
Indonesia
•
27 Mar 2023


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
