
Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap

Ilustrasi. (Oleksandr Sushko on Unsplash)
Kelp raksasa memiliki arsitektur molekuler yang unik, memungkinkan penangkapan cahaya serta penyerapan karbon dioksida yang efisien.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan berhasil mengungkap mesin mikroskopis yang membantu kelp raksasa (Macrocystis pyrifera) mengubah sinar matahari menjadi energi, sebuah penemuan yang dapat memberi petunjuk untuk solusi iklim baru.
Studi yang telah diterbitkan di jurnal Nature Communications ini memetakan struktur dari struktur mirip antena utama yang digunakan dalam fotosintesis kelp, mengungkap bagaimana arsitektur molekuler uniknya memungkinkan penangkapan cahaya serta penyerapan karbon dioksida yang efisien, urai sebuah pernyataan dari Universitas Monash Australia yang dirilis pada Rabu (10/6).
"Dengan memvisualisasikan struktur superkompleks fotosintesis kelp raksasa, kita akhirnya dapat melihat bagaimana organisme ini menyesuaikan arsitektur antenanya untuk tumbuh subur di wilayah pesisir," kata Maria Maldonado, peneliti utama sekaligus kepala laboratorium di Institut Penemuan Biomedis Monash (Monash Biomedicine Discovery Institute), yang melakukan penelitian ini di Amerika Serikat.
Ekosistem kelp "bertindak seperti hutan bawah laut yang menyerap karbon dioksida sebanyak hutan Amazon," kata pernyataan itu, meskipun mekanisme fotosintesisnya sebagian besar masih belum diketahui.
"Pengetahuan molekuler ini sangat penting mengingat kita sedang berusaha menemukan cara baru untuk meningkatkan penangkapan karbon, meregenerasi ekosistem laut, dan mengembangkan sumber-sumber pangan berkelanjutan di dunia yang kian menghangat," kata Maldonado.
Metode-metode yang dikembangkan dapat memajukan penelitian tentang biologi kelp, dengan penerapan yang potensial untuk solusi lingkungan yang memanfaatkan efisiensi alamiah dari fotosintesis laut, tambahnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi baru ilmuwan China singkap evolusi awal mamalia
Indonesia
•
13 Apr 2024

Studi ungkap penyebab pergeseran garis batas pohon akibat pemanasan global
Indonesia
•
19 Jul 2023

COVID-19 – Studi: Infeksi dapat ditularkan oleh orang yang divaksinasi lengkap di rumah
Indonesia
•
29 Oct 2021

Ilmuwan ungkap sejumlah target untuk bakal stasiun riset Bulan
Indonesia
•
18 Mar 2023


Berita Terbaru

Perangkat bionik ini bikin otak tak sekadar mendengar, tapi juga memahami suara
Indonesia
•
15 Jul 2026

Makam era Firaun berusia 3.000 tahun lebih ditemukan di Luxor, Mesir
Indonesia
•
13 Jul 2026

China operasikan platform riset lepas pantai seluas 2 km persergi, mampu simulasikan berbagai skenario perubahan iklim
Indonesia
•
11 Jul 2026

OpenAI luncurkan GPT-5.6, AI baru yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih efisien
Indonesia
•
10 Jul 2026
