
Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya

Penguin terlihat dengan latar belakang kapal pesiar di Antarktika pada 14 Desember 2025. (Xinhua/Yang Shu)
Es laut Antarktika mencair jauh lebih cepat pada musim panas akibat efek gabungan ombak laut, banjir permukaan, dan pertumbuhan alga.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Es laut Antarktika mencair jauh lebih cepat pada musim panas akibat efek gabungan ombak laut, banjir permukaan, dan pertumbuhan alga, ungkap penelitian baru yang dipimpin Australia.
Para ilmuwan menemukan bahwa gelombang yang masuk ke daerah-daerah yang tertutup es tidak hanya memecah bongkahan es. Gelombang tersebut mengikis lapisan salju cerah yang melindungi es di bawahnya dari sinar matahari, membanjiri permukaan dengan air laut, serta menciptakan "kolam ombak" yang menyerap lebih banyak panas matahari, sehingga mempercepat pencairan dari atas, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Cryosphere pada Selasa (9/6).
Selain itu, es tanpa salju dan kolam gelombang berubah menjadi oasis alga, yang menghijau dan menyerap lebih banyak panas matahari, kata tim yang dipimpin oleh Rob Massom dari Divisi Antarktika Australia (Australian Antarctic Division/AAD), penulis korespondensi studi tersebut.
Penelitian ini mengidentifikasi proses-proses yang dipicu oleh ombak yang menyebabkan permukaan es laut mencair sebagai "bagian yang hilang" dalam memahami apa yang mendorong peningkatan pencairan es laut Antarktika setiap musim panas, menurut ringkasan studi yang diterbitkan di situs web The Conversation.
Para peneliti memperkirakan bahwa banjir, genangan, dan "penghancuran" yang disebabkan oleh gelombang merupakan "akselerator luar biasa" bagi pencairan es, meningkatkan penipisan es lebih dari 4 cm per hari, dengan penghijauan alga menambah penipisan es sebesar 1 cm per hari.
"Kami mengemukakan bahwa umpan balik positif ini diperkuat oleh penghijauan alga yang semakin menggelapkan es, memicu penyerapan sinar matahari lebih lanjut dan pencairan," papar para penulis.
Studi ini menunjukkan bahwa es laut Antarktika dapat berubah menjadi "rakit bongkahan es yang membusuk" atau "lumpur es kehijauan" ketika berinteraksi dengan ombak di Samudra Selatan, salah satu daerah yang paling dipengaruhi badai di dunia.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa peningkatan intensitas angin dan gelombang yang berkaitan dengan perubahan iklim dapat memperkuat dampak ini, dengan implikasi terhadap iklim global dan ekosistem laut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

‘Startup’ roket China berencana luncurkan penerbangan luar angkasa komersial pada 2027
Indonesia
•
28 Oct 2024

Studi ungkap susu murni dan lemak susu tidak berdampak besar terhadap metabolisme lipid
Indonesia
•
02 Jan 2025

Analisis – Sepintar-pintarnya AI, tak akan bisa jadi dokter kompeten
Indonesia
•
24 Apr 2026

Studi: Polusi mikroplastik ancam ketahanan pangan global
Indonesia
•
30 Mar 2025


Berita Terbaru

Perangkat bionik ini bikin otak tak sekadar mendengar, tapi juga memahami suara
Indonesia
•
15 Jul 2026

Makam era Firaun berusia 3.000 tahun lebih ditemukan di Luxor, Mesir
Indonesia
•
13 Jul 2026

China operasikan platform riset lepas pantai seluas 2 km persergi, mampu simulasikan berbagai skenario perubahan iklim
Indonesia
•
11 Jul 2026

OpenAI luncurkan GPT-5.6, AI baru yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih efisien
Indonesia
•
10 Jul 2026
