
Deforestasi Amazon di Brasil turun 17 persen pada Q1 2026

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 14 Maret 2024 ini menunjukkan cekungan anak sungai Sungai Amazon di dekat Manaus, ibu kota Negara Bagian Amazonas, Brasil. (Xinhua/Wang Tiancong)
Deforestasi di wilayah Amazon Brasil menurun dari 419 menjadi 348 kilometer persegi, atau setara dengan sekitar 7.000 lapangan sepak bola.
Rio de Janeiro, Brasil (Xinhua/Indonesia Window) – Deforestasi di wilayah Amazon Brasil turun 17 persen pada kuartal pertama (Q1) 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data yang dirilis oleh Amazon Institute of People and the Environment.
Dari Januari hingga Maret, luas area yang mengalami deforestasi menurun dari 419 menjadi 348 kilometer persegi, atau setara dengan sekitar 7.000 lapangan sepak bola.
Penurunan tersebut bahkan jauh lebih signifikan jika merujuk pada ‘kalender deforestasi’ wilayah tersebut, yang berlangsung dari Agustus hingga Juli tahun depannya untuk menyesuaikan dengan pola curah hujan musiman. Selama periode Agustus 2025 hingga Maret 2026, angka deforestasi merosot sebesar 36 persen, dari 2.296 menjadi 1.460 kilometer persegi, level terendah untuk periode tersebut sejak 2017.
Terlepas dari penurunan secara keseluruhan, angka deforestasi pada Maret tercatat mengalami kenaikan sebesar 17 persen (yoy), dengan luas deforestasi meningkat dari 167 menjadi 196 kilometer persegi. Para peneliti menilai lonjakan ini sebagai tanda peringatan, dan mendesak agar penegakan hukum terhadap penebangan liar diperkuat, pemantauan diperketat, sanksi diperberat, serta perluasan inisiatif bioekonomi guna mendukung pemanfaatan hutan yang berkelanjutan.
Laporan tersebut menekankan bahwa deforestasi mempercepat perubahan iklim dengan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan mengurangi keanekaragaman hayati, sekaligus menyoroti pentingnya perlindungan Amazon bagi dunia.
Degradasi hutan, yakni kerusakan sebagian akibat kebakaran atau penebangan, juga menunjukkan perbaikan. Pada Maret 2026, luas area yang mengalami degradasi tercatat 11 kilometer persegi, turun 95 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan merupakan level terendah untuk bulan Maret sejak 2014.
Para ahli memperingatkan bahwa degradasi tetap melemahkan ekosistem dan meningkatkan risiko di masa depan. Meskipun data terbaru menunjukkan adanya kemajuan, kewaspadaan yang berkelanjutan dan kebijakan lingkungan yang lebih tegas tetap menjadi hal yang penting untuk melindungi hutan hujan tropis terbesar di dunia itu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026

Peneliti AS kembangkan sistem AI baru untuk bantu orang yang kesulitan bicara
Indonesia
•
03 May 2023

China perkuat pemeriksaan paten untuk industri mutakhir
Indonesia
•
03 Oct 2023

Studi: Alat antarmuka otak-komputer tingkatkan fungsi motorik pasien strok
Indonesia
•
23 Apr 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
