Serangan terhadap kilang minyak di Timur Tengah ancam kesehatan publik

Foto yang diabadikan pada 7 Maret 2026 ini menunjukkan asap membubung pascaserangan udara Israel di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Para pejabat kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (9/3) menyuarakan kekhawatiran bahwa serangan yang dilaporkan menargetkan kilang minyak di Timur Tengah dapat menimbulkan konsekuensi lingkungan yang serius, termasuk dampak terhadap akses ke air bersih yang aman dan kesehatan masyarakat.

"Hal ini terjadi di tengah laporan serangan terhadap fasilitas desalinasi air di beberapa negara," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).

Menurut OCHA, kawasan tersebut sebenarnya sudah menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar bahkan sebelum eskalasi terbaru terjadi.

Ketika ditanya mengenai harga minyak yang melampaui 100 dolar AS per barel sejak serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, kepala juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan kenaikan tersebut "akan berdampak pada segalanya ... termasuk operasi PBB."

*1 dolar AS = 16.974 rupiah

Dujarric mengatakan kenaikan harga tersebut memengaruhi operasi logistik organisasi dunia itu, termasuk biaya pangan bantuan kemanusiaan serta pupuk yang diperlukan untuk memproduksinya.

"Dampaknya akan meluas ke semua sektor," ujarnya. "Ini sekali lagi menegaskan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, yang pasokannya terkonsentrasi hanya di beberapa kawasan dunia," katanya. "Dan ini juga seharusnya menjadi kesempatan untuk menggandakan upaya kita dalam mengembangkan energi terbarukan."

Dikatakan oleh OCHA bahwa perintah evakuasi masih berlaku di Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut, sehingga memaksa sejumlah besar warga sipil untuk mengungsi.

Menurut kantor tersebut, otoritas setempat melaporkan lebih dari 115.000 orang kini berlindung di lebih dari 500 pusat penampungan kolektif, sementara 500.000 lebih warga telah terdaftar sebagai pengungsi. Layanan kesehatan juga terus terdampak, dengan lima rumah sakit dan puluhan pusat layanan kesehatan primer menghentikan operasinya.

"Situasi kemanusiaan memburuk dengan cepat," kata OCHA. "Deeskalasi segera sangat dibutuhkan."

OCHA menegaskan bahwa semua pihak harus menghormati hukum kemanusiaan internasional serta melindungi warga sipil, fasilitas kesehatan, dan personel kemanusiaan. Mereka juga harus memastikan akses yang aman dan berkelanjutan bagi organisasi kemanusiaan.

OCHA menyatakan pihaknya bersama para mitra tetap memberikan respons meskipun sumber daya terbatas. Namun, kantor tersebut sangat membutuhkan dukungan internasional guna memenuhi kebutuhan yang meningkat dengan cepat.

Dujarric mengatakan bahwa selama akhir pekan, pasukan penjaga perdamaian PBB di sepanjang Garis Biru yang memisahkan Lebanon dan Israel melaporkan adanya baku tembak, termasuk roket yang diluncurkan ke arah Israel serta serangan udara dan penembakan artileri Israel di wilayah operasi mereka.

Pasukan penjaga perdamaian juga mengamati adanya penyusupan ke wilayah Lebanon oleh Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF), termasuk laporan pada Senin tentang satu tank IDF di dekat Kunin di Lebanon tenggara, sekitar 7 km di utara Garis Biru.

OCHA juga menyatakan bahwa penutupan perlintasan di sepanjang perimeter Jalur Gaza terus menghambat operasi kemanusiaan.

"Penutupan berkelanjutan di perlintasan Zikim memaksa pekerja bantuan mengalihkan pasokan penting yang seharusnya menuju Gaza utara melalui perlintasan selatan Kerem Shalom, yang masih menjadi satu-satunya titik penyeberangan yang beroperasi. Rute panjang ini lebih lambat dan lebih mahal, serta meningkatkan ketergantungan pada bahan bakar yang langka di dalam Gaza, di mana pergerakan dilakukan di jalan-jalan yang rusak," kata kantor tersebut.

Keberangkatan pasien dari Gaza yang memerlukan evakuasi medis dan kepulangan warga Palestina dari luar negeri juga masih ditangguhkan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait