
Sekitar 8 juta orang di seluruh dunia ikuti unjuk rasa menentang perang AS-Israel terhadap Iran

Orang-orang mengikuti aksi unjuk rasa bertajuk 'No Kings' di New York, Amerika Serikat, pada 28 Maret 2026. (Xinhua/Zhang Fengguo)
Aksi unjuk rasa menentang perang AS-Israel terhadap Iran digelar berbagai kota di seluruh dunia selama akhir pekan, dengan diperkirakan 8 juta orang turun ke jalan dalam lebih dari 3.300 aksi unjuk rasa.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Aksi unjuk rasa menentang perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran digelar berbagai kota di seluruh dunia selama akhir pekan, dengan diperkirakan 8 juta orang turun ke jalan dalam lebih dari 3.300 aksi unjuk rasa.
Di AS saja, ribuan aksi unjuk rasa digelar pada Sabtu (28/3) di sejumlah kota besar, termasuk Washington DC, New York City, Los Angeles, dan San Francisco, dengan melibatkan lebih dari 900.000 orang, menjadikannya sebagai aksi protes satu hari terbesar yang pernah tercatat.
Di Manhattan, New York City, puluhan ribu pengunjuk rasa berpawai di sepanjang Seventh Avenue pada Sabtu sore waktu setempat, membentang lebih dari 10 blok, meneriakkan slogan-slogan dan membawa spanduk bertuliskan "Tolak ICE" (No ICE), "Tolak Raja" (NO Kings), dan "Tolak Perang" (No Wars).
Sementara itu, kerumunan orang berkumpul di luar Lincoln Memorial di Washington DC dan berbaris menuju National Mall, sambil memegang spanduk bertuliskan ‘Perubahan rezim dimulai dari rumah’ (Regime change begins at home), "Bela Konstitusi Kita" (Defend Our Constitution), dan lain-lain. Para pengunjuk rasa membunyikan lonceng dan memainkan drum sambil meneriakkan "No Kings!"
Menurut otoritas setempat, ratusan orang juga berunjuk rasa di kota-kota yang sangat pro-Republik, seperti Midland di Texas dan Lebanon di Pennsylvania.
Di luar perbatasan AS, orang-orang berunjuk rasa di Portugal, Yunani, Jepang, Prancis, Inggris, dan Italia, menyebarkan semangat anti-perang secara internasional.
Di Portugal, sekitar 200 warga AS pada Sabtu berkumpul di depan Balai Kota Porto berunjuk rasa menentang pemerintahan AS.
"Kami menentang kebijakan pemerintah AS saat ini, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dan yang terpenting, kami menentang perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Perang itu semata-mata diperintahkan oleh Donald Trump dan tidak mendapat persetujuan dari Kongres," ujar Robert Glassburner, seorang warga AS yang telah tinggal di Portugal sejak 1983.
Di Athena, ibu kota Yunani, demonstran berkumpul di depan gedung parlemen dan berarak menuju kedutaan besar AS dalam aksi unjuk rasa berskala besar. Mereka menuntut agar perang di Timur Tengah segera dihentikan.
"Kami hadir di sini untuk mengirimkan pesan penolakan terhadap perang," kata pengunjuk rasa Eirini Thanou kepada Xinhua. "Kami tidak ingin menjadi bagian perang tersebut. Kami berdiri bersama rakyat dan perjuangan mereka serta perdamaian."
Mulai Rabu (25/3), lebih dari 24.000 demonstran turun ke jalan di Tokyo, Jepang, untuk mengecam kampanye militer AS-Israel terhadap Iran, menurut laporan media lokal.
Meskipun cuaca hujan, para pengunjuk rasa melambaikan tongkat bercahaya dan meneriakkan slogan-slogan yang menolak penggunaan kekerasan.
Beberapa ratus orang, sebagian besar warga AS yang tinggal di Prancis, yang untuk pertama kalinya ditemani oleh serikat pekerja Prancis dan organisasi hak asasi manusia, berkumpul pada Sabtu pagi waktu setempat di Place de la Bastille di Paris untuk unjuk rasa "No Kings", menurut laporan media.
Koresponden Xinhua menyaksikan Belinda Mullinix, seorang pengunjuk rasa lokal yang mengenakan kostum Patung Liberty, memegang papan bertuliskan ‘NO KINGS SINCE 1776’.
Penyelenggara memperkirakan sebanyak setengah juta orang berkumpul di London pada Sabtu. Massa berbaris melintasi ibu kota menuju Whitehall, banyak di antaranya membawa poster bertuliskan "Tolak rasisme, tolak Trump" (No to racism, no to Trump), sementara petugas kepolisian berjaga di sepanjang jalan.
Di Roma, kerumunan orang membentangkan spanduk besar bertuliskan "Untuk dunia yang bebas dari perang" dalam bahasa Italia, menurut Daily Beast, sebuah situs berita Amerika.
"Mereka yang selalu paling dirugikan dalam perang adalah para pekerja, warga biasa, dan semua kelompok masyarakat yang paling rentan," lapor Daily Finland, mengutip Marco, seorang demonstran dalam unjuk rasa tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

137 warga Palestina tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata di Gaza
Indonesia
•
12 Mar 2025

Presiden China Xi bertemu Presiden Palestina Abbas, tegaskan saling dukung
Indonesia
•
09 Dec 2022

Induk KFC, Yum Brands Inc. hentikan pengembangan di pasar utama Rusia
Indonesia
•
09 Mar 2022

Pria California jadi orang pertama di AS yang didakwa atas penyelundupan gas rumah kaca
Indonesia
•
08 Mar 2024


Berita Terbaru

AS kerahkan 3.500 marinir ke Timur Tengah di tengah perang melawan Iran
Indonesia
•
30 Mar 2026

Ketegangan regional meningkat, Houthi isyaratkan kesiapan untuk lancarkan aksi militer lanjutan
Indonesia
•
30 Mar 2026

Kuba kecam AS karena "berbohong" soal blokade bahan bakar
Indonesia
•
30 Mar 2026

Analisis – Menilik kemungkinan strategi Houthi dalam serangan terhadap aset Israel dan AS di Timur Tengah
Indonesia
•
30 Mar 2026
