Ribuan orang berunjuk rasa di London, protes serangan AS dan Israel terhadap Iran

Orang-orang mengikuti aksi unjuk rasa untuk menentang serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, di London, Inggris, pada 7 Maret 2026. (Xinhua)

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Para pengunjuk rasa antiperang berpawai menyusuri pusat kota London pada Sabtu (7/3), mengecam aksi pengeboman oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta mendesak pemerintah Inggris untuk tidak terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut.

Tabuhan drum, teriakan slogan, dan bendera Palestina serta Iran memenuhi jalanan saat para demonstran berjalan dari Millbank menuju Kedutaan Besar AS untuk Inggris di Nine Elms. Pihak penyelenggara mengatakan antara 20.000 hingga 30.000 orang ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut, sementara Kepolisian Metropolitan memperkirakan jumlah peserta lebih dari 5.000 orang.

Aksi unjuk rasa itu digelar oleh kelompok-kelompok antiperang, termasuk Campaign for Nuclear Disarmament dan Stop the War Coalition, dengan dukungan dari kelompok pro-Palestina.

Sophie Bolt, sekretaris jenderal Campaign for Nuclear Disarmament, menggambarkan aksi pengeboman terhadap Iran sebagai "serangan ilegal tanpa provokasi" dan mengatakan pihak penyelenggara bertujuan "memberikan tekanan maksimal kepada pemerintah Inggris agar berhenti mendukung perang ilegal ini."

"Kita semua terkejut dengan apa yang telah dilakukan Israel dan AS," ujar Bolt. "Sekali lagi, kita menyaksikan serangan ilegal tanpa provokasi terhadap Iran. Sungguh mengerikan," katanya kepada Xinhua.

Dia mengatakan aksi unjuk rasa tersebut digelar dengan pemberitahuan mendadak namun tetap menarik "ribuan orang," diikuti tidak hanya aktivis antiperang tetapi juga pendukung gerakan solidaritas Palestina dan serikat pekerja.

John Rees, national officer di Stop the War Coalition, mengkritik sikap pemerintah Inggris, mengatakan Perdana Menteri Keir Starmer "bersikap mendua karena mengizinkan sejumlah pangkalan digunakan, tetapi mengatakan dia tidak ingin menjadi bagian dari operasi ofensif."

"Kedua hal itu saling bertentangan," ungkapnya.

Di antara para pengunjuk rasa, terdapat Lela, seorang wanita Iran yang telah tinggal di London selama 30 tahun. Dia merasa "cemas dan sedih," namun terdorong semangatnya saat melihat banyak orang berkumpul untuk mendukung negaranya.

"Rakyat Iran adalah orang-orang yang berpendidikan, mereka adalah orang-orang yang bebas, mereka dapat membuat keputusan untuk diri sendiri," tuturnya. "Mereka tidak perlu pemerintah asing membuat keputusan untuk mereka."

Carla, seorang warga Italia yang tinggal di London, mengatakan dia ikut serta dalam aksi unjuk rasa tersebut karena "kita perlu memperjuangkan perdamaian, bersama-sama," seraya menambahkan bahwa para pengunjuk rasa khawatir akan "terseret ke dalam perang dunia baru."

Partisipan lain, Tim Newton, mengatakan dia hadir demi "moralitas," menggambarkan perang itu sebagai sesuatu yang "sangat ilegal" dan mengkritik apa yang dia sebut sebagai sikap "tidak tegas" pemerintah Inggris.

Saat pawai unjuk rasa itu melintasi Sungai Thames menuju Kedutaan Besar AS, para pengunjuk rasa terus meneriakkan slogan di luar kompleks yang dijaga ketat itu, memperingatkan bahwa rakyat biasa tidak boleh lagi menanggung dampak perang. 

Selesai

Oleh penulis Xinhua: Zheng Bofei, Yu Aicen

Bagikan

Komentar

Berita Terkait