
Premi asuransi kapal di Selat Hormuz melonjak hingga 5 persen akibat konflik AS-Iran

Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan pemandangan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Tarif asuransi risiko perang (war-risk insurance) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz kembali meningkat di tengah eskalasi militer terbaru di kawasan tersebut, demikian disampaikan seorang pakar terkemuka di bidang asuransi maritim kepada Xinhua pada Jumat (10/7).
"Tarif (asuransi) risiko perang naik seiring meningkatnya risiko," ujar Neil Roberts, kepala bidang kelautan dan penerbangan di Lloyd's Market Association, sebuah asosiasi perdagangan yang mewakili perusahaan-perusahaan penjamin risiko (underwriting business) yang beroperasi di pasar asuransi London.
"Tarif tersebut sempat melunak setelah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ditandatangani pada Juni, tetapi kembali meningkat setelah tiga kapal diserang pekan ini," katanya.
Sejumlah estimasi pasar secara terpisah menunjukkan bahwa para pemilik kapal kini harus membayar premi asuransi risiko perang untuk lambung kapal (hull war-risk premium) sekitar 5 persen dari nilai kapal untuk pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, dengan tingkat premi tersebut mulai menjadi norma baru di pasar.
Premi asuransi risiko perang sebelumnya sempat turun menjadi sekitar 2 persen setelah penandatanganan MoU antara AS dan Iran, yang untuk sementara meredakan permusuhan. Namun, pada tahap awal konflik, premi itu sempat melonjak hingga sekitar 10 persen sebelum kemudian kembali menurun.
Roberts mengatakan bahwa jumlah permintaan informasi dari para pemilik kapal dan pialang asuransi meningkat setelah MoU diumumkan, yang mencerminkan ekspektasi terhadap membaiknya kondisi keamanan.
Namun, sumber-sumber pasar secara terpisah menyebutkan bahwa serangan terhadap tiga kapal komersial pada pekan ini telah membalikkan tren tersebut, sehingga kembali mendorong kenaikan biaya asuransi.
Mengenai prospek ke depan, Roberts mengatakan bahwa tingkat premi akan tetap sangat sulit diprediksi.
"Tingkat premi akan tetap sangat berfluktuasi, mengingat volatilitas yang masih terus terjadi," tutur Roberts.
Kenaikan premi terbaru ini terjadi di tengah memanasnya kembali aksi saling serang antara AS dan Iran menyusul serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) pada Rabu (8/7) menyarankan kapal-kapal untuk menghindari pelayaran melintasi jalur perairan strategis tersebut hingga keselamatan dan keamanan awak kapal dapat dipastikan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Brasil perkirakan produksi biji-bijian capai 310 juta ton lebih untuk siklus tanam 2022-2023
Indonesia
•
13 Jan 2023

Tesla akan bangun megapabrik penyimpanan energi di Shanghai
Indonesia
•
10 Apr 2023

Bahan bakar fosil pendorong utama krisis iklim
Indonesia
•
21 May 2026

Minyak jatuh di bawah 100 dolar saat penguncian China dan rilis cadangan
Indonesia
•
12 Apr 2022


Berita Terbaru

Sarang burung walet Indonesia laris di China, ekspor tembus 3 triliun rupiah
Indonesia
•
25 Aug 2026

UKM Asia-Pasifik berkumpul di China, bahas inovasi hingga pemberdayaan digital
Indonesia
•
25 Aug 2026

Rial Iran anjlok, 1 dolar AS bernilai 2,02 juta rial di pasar terbuka
Indonesia
•
25 Aug 2026

Feature – Pandan Indonesia menyeberangi laut, Hainan ubah harumnya menjadi industri
Indonesia
•
23 Aug 2026
