
Pezeshkian tantang AS: Tekanan ekonomi tak akan membuat Iran menyerah

Foto yang diabadikan pada 1 Mei 2026 ini memperlihatkan pemandangan Teheran, Iran. (Xinhua)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (26/8) menyampaikan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan mencapai apa pun melalui tekanan ekonominya terhadap Iran.
Dia menyatakan hal itu dalam sebuah pertemuan di Teheran, ibu kota Iran, untuk membahas situasi terkini mengenai indeks moneter, valuta asing, dan keuangan utama Iran.
Menteri Urusan Ekonomi dan Keuangan Iran Seyed Ali Madanizadeh, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati, dan sekelompok ekonom terkemuka turut menghadiri pertemuan tersebut, menurut sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs jejaring kantor Pezeshkian.
Pezeshkian menuturkan bahwa meskipun Iran berupaya menyelesaikan berbagai isu melalui keterlibatan dan perundingan, pada saat yang sama, akan tetap teguh menghadapi tekanan ekonomi, sebagaimana yang telah mereka lakukan sejauh ini.
Dia yakin AS tidak akan mencapai hal apa pun melalui tekanan ekonomi pada tahap ini, seraya menyebutkan berbagai persiapan yang telah dilakukan oleh sektor ekonomi dalam pemerintahannya. Pezeshkian mengatakan bahwa situasi ini akan serupa dengan perang (40 hari), di mana angkatan bersenjata dan rakyat Iran berhasil mencegah AS untuk mencapai tujuannya berkat keberanian serta dukungan mereka.
Pada awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump mengumumkan "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan" terhadap negara mana pun yang memberikan bantuan vital kepada Iran.
"Hal ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tutur Trump, seraya menyebut langkah itu sebagai "D-DAY EKONOMI."
AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran pada 28 Februari. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut, termasuk Lebanon.
Berdasarkan MoU itu, mereka dijadwalkan untuk mengadakan perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir.
Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara pada bulan lalu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Utusan AS sebut akan cari "solusi alternatif" untuk gencatan senjata di Gaza
Indonesia
•
25 Jul 2025

Prancis akan akhiri pembatasan visa bagi warga negara Maroko
Indonesia
•
17 Dec 2022

Kanopi jet tempur F-16 Taiwan lepas saat latihan
Indonesia
•
12 Aug 2021

Kelompok Houthi Yaman klaim serangan baru terhadap kapal kargo di Laut Merah
Indonesia
•
04 Jan 2024


Berita Terbaru

Polandia minta Meta didenda 5,17 triliun rupiah, ini alasannya
Indonesia
•
28 Aug 2026

Selat Hormuz bebas ranjau? Trump ancam hancurkan kapal yang pasang ranjau baru
Indonesia
•
27 Aug 2026

AS tangguhkan visa imigran dari seluruh dunia, 200.000 warga asing terancam kehilangan visa
Indonesia
•
27 Aug 2026

25 kali berunding, China-India capai 8 konsensus soal perbatasan
Indonesia
•
27 Aug 2026
