Pakar Iran sebut Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi semula

Orang-orang berkumpul untuk berkabung atas wafatnya mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 9 April 2026. (Xinhua/Shadati)

Serangan terhadap infrastruktur sipil Iran bertujuan untuk membebankan biaya dan kerusakan kepada masyarakat negara tersebut, menekan Iran, dan menjadikan tata kelola sangat sulit dilakukan di negara itu.

 

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Situasi di kawasan Asia Barat dan Selat Hormuz tidak akan kembali ke keadaan semula (status quo ante), yang dapat semakin memicu kemarahan Amerika Serikat (AS), kata seorang pakar Iran.

Setelah konflik dan "agresi" AS-Israel terhadap Iran selama berpekan-pekan, negara tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan atau menyerah, ujar Abas Aslani, seorang pakar kebijakan luar negeri Iran yang berbasis di Teheran, kepada Xinhua dalam wawancara baru-baru ini.

Saat ini, tujuan mereka adalah membuka kembali Selat Hormuz, kata Aslani, seraya menegaskan bahwa serangan AS-Israel terhadap infrastruktur sipil Iran menunjukkan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan militer dan strategis dalam perang ini.

AS dan Israel menyasar infrastruktur energi, ilmiah, medis, dan industri Iran, yang mengindikasikan bahwa mereka belum mampu mencapai tujuan militer dan strategis mereka, ujarnya.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan dan aset AS di Timur Tengah, serta infrastruktur sipil dan energi di seluruh kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Uni Emirat Arab. Dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Israel meningkatkan serangan mereka terhadap infrastruktur sipil Iran, termasuk universitas, kompleks petrokimia, jalan, rel kereta, dan jembatan, serta pusat penelitian dan ilmiah.

Aslani mengatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil Iran bertujuan untuk membebankan biaya dan kerusakan kepada masyarakat negara tersebut, menekan Iran, dan menjadikan tata kelola sangat sulit dilakukan di negara itu.

Menggambarkan serangan AS-Israel terhadap infrastruktur Iran sebagai "kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional," dia mengatakan bahwa "mereka bahkan menyerang fasilitas nuklir damai Iran, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr yang aktif, yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi Iran dan kawasan jika terjadi kerusakan serius."

"Kita ingat bahwa mereka datang ke Iran dengan tujuan mengubah tatanan politik negara tersebut serta menghancurkan kemampuan militer dan infrastrukturnya. Namun, kita melihat bahwa Iran baru-baru ini menargetkan beberapa jet tempur Amerika dan mampu merespons serangan tersebut," ujarnya.

Aslani juga menyatakan bahwa perkembangan ini menunjukkan perubahan tatanan tersebut tidak terjadi, dan Iran masih memiliki kemampuan militer.

Hal ini membuktikan bahwa kalkulasi utama AS sebelum melancarkan "agresi" anti-Iran "sangat keliru," katanya, seraya menekankan bahwa AS mendekati Iran dengan model dan pola pikir seperti Venezuela, tetapi apa yang dihadapinya di dunia nyata dan di lapangan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

Dia mengatakan bahwa perang ini diyakini secara luas tidak hanya akan berdampak terhadap pasar energi global dan militer AS, tetapi juga merusak kredibilitas dan citra AS dalam jangka panjang.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait