
Makin suka dengan merek ‘fast food’, makin banyak gula dan lemak yang dikonsumsi? Ini kata studi

Ilustrasi. (Khalid Boutchich on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Orang yang memiliki keterikatan kuat terhadap merek makanan cepat saji dan minuman berpemanis yang terkenal kemungkinan memiliki pola makan secara keseluruhan yang kurang sehat, meskipun terdapat peringatan mengenai nutrisi, menurut sebuah studi baru.
Studi tersebut menemukan bahwa loyalitas psikologis terhadap merek makanan cepat saji merupakan prediktor kuat dari asupan lemak jenuh dan gula seseorang, menurut pernyataan yang baru-baru ini dirilis Universitas Teknologi Sydney (University of Technology Sydney/UTS) di Australia.
Para peneliti melakukan dua studi yang melibatkan orang dewasa di Australia dan Amerika Serikat, dengan menilai sikap mereka terhadap merek makanan cepat saji dan minuman, persepsi mengenai tingkat kesehatan produk tersebut, serta kebiasaan pola makan mereka secara keseluruhan.
Pola makan yang buruk dapat memicu obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker, sementara pemasaran makanan cepat saji yang agresif dapat berkontribusi pada penyakit yang berkaitan dengan pola makan, menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Health Communication.
Penelitian tersebut menemukan bahwa partisipan yang menyukai merek makanan cepat saji tidak hanya mengonsumsi lebih banyak lemak dan gula, tetapi juga cenderung menganggap merek-merek tersebut lebih menyehatkan.
"Pengetahuan tentang nutrisi memang berperan, tetapi prediktor terkuat dari penilaian kesehatan adalah seberapa besar mereka menyukai merek tersebut," kata penulis senior Mike Kendig, seorang dosen senior di UTS.
Temuan itu menunjukkan bahwa paparan merek yang berulang dapat membangun keakraban dan perasaan positif yang memengaruhi persepsi kesehatan serta pilihan makanan.
Para peneliti menyerukan peningkatan kesadaran akan pengaruh pemasaran makanan serta pembatasan yang lebih ketat terhadap iklan junk food, dengan menyatakan bahwa pemasaran tersebut membentuk pola makan pada tingkat populasi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian ungkap sampel Bulan Chang'e-6 punya ‘karakteristik unik’
Indonesia
•
20 Sep 2024

Aliansi konservasi macan tutul salju didirikan di Qinghai, China
Indonesia
•
25 Oct 2023

COVID-19 – Rusia garap vaksin gabungan lawan virus corona dan flu
Indonesia
•
22 Oct 2020

Penemuan reruntuhan kota besar dukung penelitian tentang dinasti pertama di China
Indonesia
•
17 Sep 2024


Berita Terbaru

Perempuan lebih rentan mengalami demensia? Kasus baru capai 24,7 juta pada 2050
Indonesia
•
13 Oct 2026

Model AI tingkatkan akurasi prediksi banjir hingga 12 pekan sebelumnya
Indonesia
•
13 Oct 2026

Hampir 1 miliar orang diproyeksikan menderita osteoartritis pada 2050
Indonesia
•
13 Oct 2026

Ekspedisi Kawah Purba Pangrango ungkap kekayaan hayati dan geologi di ketinggian lebih 2.000 meter
Indonesia
•
11 Oct 2026
