
Jantung ternyata punya ‘kalender’ sendiri, 70 persen orang ikuti ritme hingga berbulan-bulan

Ilustrasi. (Nik on Unsplash)
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Denyut jantung 70 persen orang mengikuti siklus Pekanan, kuartalan, atau bahkan tahunan, menurut sebuah studi oleh tim peneliti di Universitas Melbourne (UniMelb), Australia.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal eBioMedicine tersebut menganalisis data dari jam tangan pintar yang digunakan oleh 623 mahasiswa sehat, dengan total periode pemantauan mencapai lebih dari 900 tahun.
Menurut pernyataan UniMelb yang dirilis pada Senin (14/9), temuan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman dan penanganan berbagai kondisi neurologis, psikiatris, serta masalah kesehatan lainnya secara lebih luas.
Tim peneliti menemukan bahwa denyut jantung sebagian besar partisipan mengikuti pola multihari yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor musim, olahraga, atau lingkungan.
"Banyak orang menunjukkan ritme unik dalam denyut jantung mereka dari siklus mingguan dan bulanan hingga ritme yang lebih panjang seperti 10 pekan atau enam bulan," ujar Associate Professor Pip Karoly dari UniMelb, yang memimpin studi tersebut.
Denyut jantung istirahat dari 70 persen partisipan mengikuti pola siklik selama bertahun-tahun, yang mengindikasikan bahwa tubuh memiliki alat pacu jantung biologis bawaan yang mengendalikan denyut jantung dalam jangka panjang, papar Karoly.
Para peneliti mengatakan pola tersebut dikenal sebagai ritme infradian, yang berperan dalam siklus reproduksi, gangguan afektif musiman – yang dapat memicu masalah kesehatan mental saat paparan cahaya berkurang – serta proses pergantian bulu atau kulit pada hewan.
Mereka menambahkan bahwa faktor yang mengatur ritme infradian pada manusia masih belum diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan merupakan kombinasi faktor hormonal, lingkungan, dan genetik.
"Menariknya, penghuni serumah, saudara kandung, dan teman-teman memiliki ritme yang serupa, mengindikasikan tubuh manusia secara alami tersinkronisasi dengan orang-orang yang dekat dengan mereka," ujar Karoly.
Tim tersebut sedang mengembangkan sebuah aplikasi untuk melacak ritme infradian dalam kaitannya dengan pola neurologis dan psikiatris, dan mempelajari genetika dari ritme multihari.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China ungkap enam temuan arkeologi paling luar biasa pada 2022
Indonesia
•
23 Feb 2023

Korea Selatan luncurkan satelit navigasi untuk tingkatkan akurasi GPS
Indonesia
•
23 Jun 2022

Peneliti China tingkatkan efisiensi sel perovskite secara signifikan
Indonesia
•
10 Aug 2023

Ilmuwan: Hanya 37 persen panjang sungai di dunia mengalir alami
Indonesia
•
17 Feb 2021


Berita Terbaru

Alibaba gandeng Apple, AI Qwen China bakal hadir di iPhone melalui Apple Intelligence
Indonesia
•
01 Nov 2026

Feature – Belajar AI dan robotika di China, mahasiswa Indonesia bersiap jawab kebutuhan industri
Indonesia
•
30 Oct 2026

7 dari 10 tabir surya gagal penuhi klaim SPF, produk SPF50 ternyata hanya SPF14
Indonesia
•
31 Oct 2026

China luncurkan AI cuaca ekstrem, bisa prediksi potensi badai hingga 4 jam sebelumnya
Indonesia
•
31 Oct 2026
