Kisah – Di hadapan Ka'bah, semua gelar gugur

Orang-orang memadati Masjidil Haram di kota suci Makkah pada 17 Agustus 2018. Di belakang, tampak kompleks The Clock Tower. (Indonesia Window)

Sekitar tahun 2016, saya kembali menerima amanah yang sudah cukup akrab dalam tugas saya di KBRI Riyadh: mendampingi ibadah umrah.

Tugas itu datang silih berganti. Kadang saya mendampingi pejabat negara, tokoh masyarakat, rombongan tamu resmi, hingga para pekerja migran Indonesia. Barangkali latar belakang saya yang pernah bertugas di kantor kantor dakwah dawa-rabwa.sa / islamhouse.com di ibu kota Kerajaa Arab Saudi, Riyadh, membuat pimpinan mempercayakan tugas-tugas pembimbingan ibadah kepada saya.

Setiap perjalanan mendampingi ibadah ini punya cerita. Sebagian besar perlahan memudar ditelan waktu.

Namun, perjalanan umrah bersama seorang duta besar Indonesia yang di-post di salah satu negara Eropa beserta istrinya masih tersimpan utuh dalam ingatan saya. Bukan karena kemewahan jabatan yang beliau sandang, melainkan karena saya melihat bagaimana Tanah Suci menghapus segala atribut dunia yang selama ini melekat pada diri seseorang.

***

Sejak memulai ihram hingga menuntaskan tawaf, semuanya berjalan lancar.

Saya membimbing tata cara ibadah, mengingatkan bacaan talbiyah, doa-doa, dan dzikir yang biasa saya sampaikan kepada setiap jamaah yang saya dampingi.

Di hadapan Ka'bah, semua orang melakukan hal yang sama: Mengenakan dua lembar kain putih, berjalan mengelilingi bangunan suci Ka’bah, menengadahkan kedua telapak tangan seraya menyampaikan harapan kepada Illah-nya yang hanya diketahui oleh hati masing-masing.

Sudah menjadi kebiasaan saya menanyakan satu pertanyaan kepada jamaah yang saya dampingi.

"Bapak atau Ibu, adakah doa khusus yang ingin kita panjatkan bersama selain doa-doa umum?"

Saya percaya setiap orang datang ke Baitullah dengan membawa cerita yang berbeda.

Ada yang membawa harapan. Ada yang memikul penyesalan. Ada pula yang datang sambil menitipkan doa-doa dari orang-orang tercinta.

Pertanyaan itu selalu mengingatkan saya pada pesan Rasulullah ﷺ kepada Umar bin Khaththab ketika beliau hendak berangkat umrah:

"Jangan lupakan kami dalam doa-doamu," pesan Rasulullah ﷺ.

لَا تَنْسَنَا يَا أَخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ

Karena itulah saya selalu memberi ruang bagi setiap jamaah untuk menyampaikan doa yang ingin mereka titipkan.

Hari itu, setelah kami menyelesaikan putaran terakhir sa'i dan berdiri di Bukit Marwah, saya kembali mengajukan pertanyaan yang sama.

"Apakah Bapak memiliki doa khusus yang ingin kita panjatkan?"

Dengan suara yang berat, beliau berkata pelan, "Tolong doakan ibu saya. Beliau sedang menjalani perawatan jantung. Dan kakak perempuan saya... sedang dirawat karena sakit paru-paru."

Kalimat itu sangat sederhana.

Namun entah mengapa, ia terasa jauh lebih berat daripada hiruk-pikuk ribuan manusia yang memenuhi Masjidil Haram waktu itu.

Mendengar kata “ibu” dan “kakak”, pikiran saya langsung melayang kepada keluarga saya sendiri yang berada jauh di Tanah Air.

Saya membayangkan, seandainya saya berada di posisi beliau.

Memiliki ibu yang sedang menjalani perawatan jantung, sementara ada saudara yang terbaring di ranjang rumah sakit berjuang melawan penyakit paru-paru. Tapi di saat yang sama berdiri ribuan kilometer jauhnya dari mereka.

Saat itulah saya menyadari bahwa setiap manusia sedang menanggung bebannya masing-masing.

Kita mungkin melihat seseorang berdiri gagah dengan jas resmi, kendaraan dinas, atau jabatan yang tinggi.

Namun di balik semua itu, ia tetap seorang anak yang mengkhawatirkan ibunya.

Tetap seorang adik yang cemas memikirkan kakaknya.

Beberapa hari sebelumnya saya pertama kali bertemu beliau di kantor. Pakaian yang dikenakan layaknya pejabat tinggi negara, membuat saya bersikap segan dan menjaga etika. Suatu hal yang normal.

Tetapi sore itu, di atas Bukit Marwah, tidak ada lagi sosok yang gagah nan megah itu, selain seorang hamba yang mengetuk pintu langit.

Bukit tempat kami berdiri seakan membawa ingatan saya kepada perjuangan Sayyidah Hajar yang berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah demi mencari seteguk air bagi putranya.

Di tempat itulah Allah ﷻ menghadiahkan mata air Zamzam.

Barangkali setiap orang yang berdiri di Marwah juga sedang mencari "Zamzam"-nya masing-masing.

Seperti itulah kira-kira saya mencoba membaca batin Pak Dubes ini. Berharap suatu keajaiban turun dari kepasrahan dan pengakuan lemah seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Bukan selalu berupa air. Melainkan jalan keluar.

Kesembuhan.

Ampunan.

Atau ketenangan hati.

Kalimat pujian pun mulai menguntai dari lisan saya, merayu rahmat Allah ﷻ, kemudian merangkai kalimat doa terbaik, memohon kesembuhan untuk ibunda dan kakak beliau.

Saya memohon agar Allah ﷻ mengangkat penyakit ibunda beliau, memberikan kesembuhan kepada sang kakak, serta melimpahkan keteguhan kepada keluarga mereka.

***

Setelah tahallul selesai, kami berjalan menuju kompleks The Clock Tower untuk mencari toilet sebelum kembali ke hotel.

Toilet yang paling dekat ternyata dipenuhi antrean panjang, sementara duta besar tampak mulai gelisah.

Beliau melangkah ke depan, berharap masih ada ruang untuk masuk lebih cepat.

Namun antrean begitu rapat.

Saya mengikuti beberapa langkah di belakang beliau.

Beberapa orang yang sedang mengantre menoleh ke arah kami.

Seorang pria Arab memandang saya, lalu memberi isyarat dengan tangannya, dan berkata, “Kenapa menyerobot?”

Saya segera menjawab dalam bahasa Arab 'amiyah, "Ma'alesy... huwa fi 'ujalah. Huwa safiir." Artinya: “Maaf... beliau sedang terburu-buru. Beliau seorang duta besar."

Orang Arab itu hanya menjawab, “Taqobbalallahu minhu.” Artinya: ‘Semoga Allah menerima ibadahnya”.

Saya hanya menjawab, “Aamiin.” Tapi kalimat itu terus bergema di kepala saya.

Dalam hati saya berpikir, apakah kalimat tersebut seolah isyarat bahwa doa di atas bukit Marwah tadi dikabulkan Allah ﷻ? Karena kalimat orang ini “semoga Allah menerima ibadahnya”, dan doa termasuk ibadah.

Ataukah justru sebuah pengingat yang sangat halus karena saya menyebut jabatan ‘duta besar’? Seolah dia ingin menegaskan bahwa di tempat suci ini semua manusia tidak lebih istimewa dari lainnya.

Jabatan, gelar, dan keudukan tak ada nilainya. Yang benar-benar penting hanyalah apakah Allah ﷻ menerima amal ibadah seorang hamba.

Semakin saya renungkan, semakin saya merasa kemungkinan kedua itulah yang lebih tepat. Dan saya bersyukur telah diingatkan dengan cara yang begitu sederhana.

Di Tanah Suci, dua lembar kain ihram menghapus semua pembeda yang selama ini kita banggakan. Selain itu, menghinakan diri di hadapan Allah ﷻ sambil berharap dengan penuh kerendahan hati menjadi salah satu sebab dikabulkannya doa.

Memang, menjaga hati selama berhaji atau berumrah sering kali jauh lebih sulit daripada menguatkan langkah kaki.

Perjalanan umrah, lebih dari sekedar ritual ibadah dengan berbagai keutamaannya yang sangat agung.

Namun, lebih daripada itu banyak sekali hikmah ilahiyyah yang dapat menyentuh hati dan mengubah jalan hidup jamaah umrah.

Mungkin, inilah mengapa setiap orang yang pernah berhaji atau menunaikan umrah selalu ingin kembali ke Baitullah, karena masing-masing punya rasa dan suasana batin yang sangat pribadi di hadapan Tuhan-nya Sang Maha Kuasa.

***

Kami meninggalkan Makkah menuju Jeddah.

Perjalanan sekitar satu jam terasa lebih sunyi daripada saat berangkat. Sesekali kami berbincang ringan.

Selebihnya, jalan raya yang membelah padang pasir menjadi teman perjalanan pulang.

Saya tidak pernah lagi mengetahui bagaimana kabar ibunda maupun kakak perempuan sang duta besar. Saya juga tidak pernah menanyakan perkembangan mereka.

Sebagai pendamping ibadah, tugas saya memang berakhir ketika amanah itu selesai ditunaikan.

Namun hingga hari ini, setiap kali mengingat perjalanan tersebut, doa yang sama masih terlintas dalam hati saya.

Semoga Allah ﷻ menerima ibadah beliau.

Semoga Allah mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan di Tanah Suci.

Dan semoga setiap orang yang datang ke Baitullah pulang bukan hanya membawa kenangan, melainkan juga hati yang lebih tunduk kepada-Nya (ﷻ).

Selesai

Penulis: Daday Hidayat, Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait