Opini – Bangsa-bangsa maju tidak pernah malu belajar dari bangsa lain: Menempa pengalaman menjadi peradaban

Area kota suci Makkah pada 19 Juli 2026. (Indonesia Window)

Bayangkan jika China menolak belajar dari Jepang.

Atau Inggris merasa terlalu hebat untuk mempelajari metode pendidikan Singapura.

Mungkin dunia tidak akan mengenal jaringan kereta cepat terbesar di dunia, dan ribuan sekolah dasar di Inggris tidak akan mengadopsi pendekatan matematika yang lahir dari sebuah negara kecil di Asia Tenggara.

Sejarah justru menunjukkan sesuatu yang menarik: bangsa-bangsa yang paling maju sering kali bukanlah bangsa yang merasa paling tahu, melainkan bangsa yang paling rendah hati untuk belajar.

Kemajuan ternyata tidak selalu lahir dari penemuan yang sepenuhnya baru. Lebih sering, ia tumbuh dari keberanian mengakui bahwa orang lain telah lebih dahulu menemukan sesuatu yang layak dipelajari.

China adalah salah satu contoh paling nyata.

Pada tahap awal pengembangan kereta cepat, negera Asia Timur itu banyak mempelajari pengalaman Jepang, Jerman, dan sejumlah negara lain. Teknologi dipelajari, sistem disesuaikan, lalu dikembangkan sesuai kebutuhan nasional. Istilah sekarang: A-T-M (Amati-Tiru-Modifikasi).

Hasilnya, dalam waktu sekitar dua dekade, China membangun jaringan kereta cepat hingga sekitar 47.000 kilometer pada akhir 2024—terpanjang di dunia.

Pelajaran serupa datang dari dunia pendidikan.

Metode Singapore Math, yang dikembangkan di negara dengan jumlah penduduk relatif kecil, kini digunakan di lebih dari 40 negara. Inggris bahkan mengalokasikan sekitar 54 juta dolar AS untuk melatih guru di sekitar 8.000 sekolah dasar agar mampu menerapkan pendekatan tersebut.

Jepang pun pernah menempuh jalan yang sama.

Pada era Restorasi Meiji (1868-1912), pemerintah mengirim Misi Iwakura ke berbagai negara maju untuk mempelajari sistem pendidikan, pemerintahan, industri, dan teknologi. Mereka tidak menganggap belajar dari luar sebagai bentuk kelemahan, melainkan sebagai strategi mempercepat kemajuan.

Hasilnya tampak jelas. Tingkat partisipasi pendidikan dasar di Jepang meningkat dari sekitar 28 persen pada 1873 menjadi lebih dari 95 persen pada awal abad ke-20.

Ketiga contoh ini menyampaikan pesan yang sama: Bangsa-bangsa besar tidak tumbuh karena menutup diri.

Mereka maju karena mau belajar, sambil memilih, menyaring, lalu mengembangkan apa yang telah dipelajari menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih sesuai dengan karakteristik bangsa sendiri.

Belajar dari orang lain bukan berarti kehilangan identitas. Sebaliknya, justru itulah salah satu tanda bangsa yang percaya diri.

Prinsip tersebut sesungguhnya bukan hal baru dalam Islam.

Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan perjalanan umat-umat terdahulu, merenungkan sejarah para nabi, dan mengambil ibrah dari berbagai peristiwa. Tujuannya bukan sekadar menikmati romantisme sejarah, melainkan memahami hukum-hukum kehidupan agar kesalahan yang sama tidak terus diulang.

Sejarah dalam Islam bukan museum dan album kenangan, melainkan ruang belajar.

Karena itu, pengalaman memiliki nilai yang sangat tinggi. Pengalaman adalah pengetahuan yang telah diuji oleh kenyataan. Ia lahir dari kegagalan, perjuangan, bahkan kesalahan, hingga akhirnya keberhasilan.

Seseorang yang pernah melewati sebuah jalan sering kali mampu melihat bahaya yang tidak tampak bagi mereka yang baru memulainya.

Di sinilah makna penghormatan kepada orang yang lebih tua menemukan relevansinya.

Islam mengajarkan untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda bukan semata-mata karena faktor usia, tetapi karena pengalaman yang mereka bawa dapat menjadi sumber kebijaksanaan bagi generasi berikutnya.

Namun Islam juga memberikan batas yang sangat penting.

Pengalaman tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Juga, pengalaman tanpa kerendahan hati bisa menjadi kesombongan.

Inilah pelajaran yang sering terlupakan.

Tidak sedikit orang memiliki pengalaman panjang, tetapi justru menjadi semakin sulit menerima pendapat orang lain. Sebaliknya, ada pula orang yang semakin banyak pengalaman justru semakin rendah hati.

Perbedaannya terletak pada satu hal: adab.

Pengalaman yang dijaga oleh adab akan melahirkan kebijaksanaan. Orang seperti ini tidak sibuk menuntut penghormatan, tidak merasa paling benar, dan tidak menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk merendahkan generasi berikutnya.

Dia lebih memilih membimbing daripada menghakimi.

Lebih senang berbagi daripada dipuji.

Lebih ingin orang lain berhasil daripada sekadar mengakui bahwa dirinya pernah ‘lebih dahulu’.

Sebaliknya, pengalaman yang kehilangan adab dapat berubah menjadi beban bagi lingkungan.

Ia melahirkan sikap merasa paling tahu, alergi terhadap kritik, bahkan menganggap setiap gagasan baru sebagai ancaman.

Ironisnya, sejarah justru menunjukkan bahwa kesombongan intelektual sering menjadi awal kemunduran, baik bagi individu maupun sebuah bangsa.

Di titik inilah sejarah dunia dan ajaran Islam bertemu.

Bangsa-bangsa maju mengajarkan pentingnya belajar dari pengalaman bangsa lain.

Sementara Islam mengajarkan pentingnya mengambil pelajaran dari pengalaman umat terdahulu.

Keduanya berangkat dari fondasi yang sama: kerendahan hati.

Kerendahan hati membuat seseorang berani berkata, "Saya belum tahu. Saya mau belajar."

Kerendahan hati membuat sebuah bangsa berani mengakui bahwa negara lain mungkin memiliki sistem yang lebih baik.

Dan kerendahan hati membuat pengalaman berubah menjadi kebijaksanaan, bukan kesombongan.

Karena itu, ukuran kemajuan bukanlah siapa yang paling tua, siapa yang paling lama, atau siapa yang paling banyak berbicara. Ukurannya adalah siapa yang paling siap belajar.

Di tengah zaman yang bergerak sangat cepat, manusia sering terjebak dalam dua sikap yang sama-sama keliru.

Ada yang menganggap semua yang baru pasti lebih baik. Ada pula yang merasa semua yang lama harus dipertahankan.

Padahal sejarah mengajarkan jalan yang berbeda.

Kemajuan tidak lahir dari penolakan terhadap masa lalu. Kemajuan juga tidak lahir dari pemujaan terhadap hal-hal baru.

Kemajuan lahir dari kemampuan memilih: mengambil yang benar, memperbaiki yang kurang, dan meneruskan yang baik.

Barangkali karena itulah Al-Qur'an tidak pernah bosan mengajak manusia berjalan di muka Bumi, memperhatikan sejarah, merenungi jalan ceritanya, pelan-pelan lalu mengambil pelajaran berharga darinya, yang kita sebut sebagai ‘ibrah’.

Peradaban besar bukan lahir dari mereka yang merasa paling benar, tapi dibangun oleh orang-orang rendah hati yang tak henti belajar.

Selesai

Penulis: Daday Hidayat, Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait