
Kebocoran bahan radioaktif terdeteksi di fasilitas penelitian bahan bakar nuklir Jepang

Gambar tangkapan layar ini menunjukkan situs resmi Badan Energi Atom Jepang (Japan Atomic Energy Agency/JAEA) pada 13 September 2023. (Xinhua)
Kebocoran bahan radioaktif terdekteksi di Ruang Pengembangan Bahan Bakar Plutonium No. 3 di Laboratorium Rekayasa Siklus Bahan Bakar Nuklir Badan Energi Atom Jepang, yang terletak di Desa Tokai, Prefektur Ibaraki, namun tidak ada dampak buruk terhadap kesehatan staf maupun lingkungan sekitar.
Tokyo, Jepang (Xinhua) – Badan Energi Atom Jepang (Japan Atomic Energy Agency/JAEA) mengonfirmasi terdeteksinya kebocoran bahan radioaktif di salah satu fasilitas penelitian bahan bakar nuklirnya, namun melaporkan tidak ada dampak buruk terhadap kesehatan staf maupun lingkungan sekitar, demikian diwartakan media setempat.Kebocoran terdeteksi di Ruang Pengembangan Bahan Bakar Plutonium No. 3 di Laboratorium Rekayasa Siklus Bahan Bakar Nuklir JAEA, yang terletak di Desa Tokai, Prefektur Ibaraki, ungkap laporan dari kantor berita nasional Kyodo yang mengutip JAEA.Pada Jumat (8/9) pekan lalu, Ruang Pengembangan Bahan Bakar Plutonium No. 3 mengidentifikasi polusi yang disebabkan oleh bahan radioaktif di empat lokasi di dalam fasilitas itu.Polusi tersebut ditemukan saat melakukan inspeksi rutin terhadap peralatan glovebox yang dirancang kedap udara.Kontaminasi ditemukan di bagian atas dan bawah glovebox, dengan tingkat aktivitas radioaktif tertinggi mencapai sekitar 33 becquerel.Meski berisi material bahan bakar nuklir, glovebox itu belum pernah digunakan baru-baru ini dan hanya menjalani inspeksi rutin dua tahunan, kata JAEA.JAEA telah meyakinkan masyarakat bahwa kebocoran bahan nuklir itu tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan empat staf fasilitas tersebut maupun lingkungan sekitar.Saat ini, penyebab kebocoran bahan radioaktif itu sedang diselidiki. Otoritas di laboratorium tersebut mencurigai bahwa bahan radioaktif mungkin merembes keluar dari peralatan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan temukan polimer seukuran kuku jari yang mampu tarik mobil
Indonesia
•
17 Nov 2025

El Nino makin menggila! Fluktuasi suhu Pasifik kini 36 persen lebih kuat
Indonesia
•
29 Aug 2026

Ilmuwan ungkap 'pabrik' sel darah sudah aktif sebelum gastrulasi embrio manusia
Indonesia
•
03 Jul 2026

Gigitan nyamuk bisa jadi ‘booster’ alami untuk cegah malaria, studi ungkap harapan baru
Indonesia
•
15 Aug 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
