
‘Biomarker’ darah baru bantu identifikasi dini penyakit Alzheimer

Seorang sukarelawan membantu seorang warga lanjut usia memotong kukunya di Distrik Donghu, Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur, pada 29 September 2022. (Xinhua/Peng Zhaozhi)
Diagnosis penyakit Alzheimer (Alzheimer's disease/AD) pada tahap awal dapat dilakukan dengan dengan penanda biologis (biomarker) darah, dengan memperhatikan plasma protein asam fibrilari glial (glial fibrillary acidic protein/GFAP) yang secara signifikan lebih tinggi dalam sampel darah dari pasien AD dibandingkan pada individu non-AD.
Beijing, China (Xinhua) – Para peneliti di Rumah Sakit Huashan Universitas Fudan yang berbasis di Shanghai berhasil mengidentifikasi penanda biologis (biomarker) darah baru yang dapat membantu dokter mendiagnosis penyakit Alzheimer (Alzheimer's disease/AD) pada tahap awal.Melalui studi skala besar yang melibatkan lebih dari 800 partisipan, para peneliti menemukan bahwa plasma protein asam fibrilari glial (glial fibrillary acidic protein/GFAP) secara signifikan lebih tinggi dalam sampel darah dari pasien AD dibandingkan pada individu non-AD.Yu Jintai, peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan level plasma GFAP meningkat bersama perkembangan penyakit dan mencapai puncaknya pada tahap demensia AD. Yang lebih penting, peningkatan kadar protein seperti itu terjadi pada fase praklinis.Terdapat periode laten yang panjang sebelum gejala klinis muncul pada pasien AD. Jika pasien didiagnosis melalui metode pendeteksian pada tahap praklinis, intervensi dini dapat dilakukan dan perkembangan penyakit bisa ditunda, papar Yu.AD adalah gangguan otak progresif dan tidak dapat disembuhkan yang secara perlahan menghancurkan memori, kemampuan berpikir, dan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas sederhana. Menurut Yu, ketika pasien didiagnosis berdasarkan gejala klinis dan indikator pencitraan, penyakit tersebut mungkin sudah berkembang ke tahap pertengahan dan akhir. Oleh karena itu, banyak uji klinis terbaru berfokus pada program pencegahan penyakit, yang membutuhkan identifikasi populasi yang berisiko terkena AD.Biomarker darah terbukti sederhana, noninvasif, dan ramah pasien dalam diagnosis AD awal, kata Yu, menekankan pentingnya studi ini.Plasma GFAP muncul sebagai biomarker pada gangguan neurologis, tetapi kegunaannya untuk diagnosis dan prediksi AD masih belum jelas. Studi ini membuktikan bahwa plasma GFAP dapat berfungsi sebagai biomarker diagnostik dan prediktif untuk penyakit tersebut, kata peneliti itu.Hasil studi tentang diagnosis penyakit Alzheimer ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Clinical Chemistry sebelumnya pada Maret.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kru Shenzhou-18 tiba di Beijing usai jalani misi 192 hari di stasiun luar angkasa
Indonesia
•
04 Nov 2024

China catat kemajuan besar dalam konservasi dan penggunaan intensif sumber daya air
Indonesia
•
19 Jun 2024

Studi ungkap gempa bumi dapat sediakan ‘bahan bakar’ untuk kehidupan bawah tanah
Indonesia
•
22 Jul 2025

China klaim AI-nya tumbuh eksplosif! Konsumsi token harian capai 100 triliun
Indonesia
•
24 Jun 2026


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
