
Presiden Iran sebut negaranya tidak pernah berupaya kembangkan senjata nuklir

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (6/2/2025) menekankan bahwa negaranya tidak pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir. (Xinhua)
Iran tidak pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir, diperkuat oleh pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang secara eksplisit menyatakan hal ini dengan mengeluarkan fatwa (keputusan agama).
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (6/2) menekankan bahwa negaranya tidak pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir.Pernyataan itu disampaikan oleh Pezeshkian di Teheran dalam sebuah upacara untuk memperingati 46 tahun kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979, menurut sebuah pernyataan dari kantornya. Upacara itu dihadiri oleh para duta besar asing dan perwakilan organisasi internasional di ibu kota Iran.Pezeshkian mengatakan, "Kami tidak berupaya (mengembangkan) senjata nuklir. Pemimpin (Tertinggi) Iran (Ali Khamenei) secara eksplisit menyatakan hal ini dengan mengeluarkan fatwa (keputusan agama)."Membuktikan jika Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir sama sekali tidak sulit, imbuhnya. Dia lalu mengatakan, "Mereka (para inspektur) sejauh ini telah datang dan menyelidikinya kapan pun mereka mau, dan mulai sekarang, dapat datang dan memeriksanya lagi ratusan kali. Kami tidak akan pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir."Pernyataan itu muncul usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (4/2) mengambil langkah eksekutif untuk memulihkan kampanye "tekanan maksimum" terhadap Iran, yang bertujuan untuk mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir.Pada Rabu (5/2) malam waktu setempat, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan di platform media sosial X bahwa "apa yang disebut tekanan maksimum adalah pengalaman yang gagal," seraya memperingatkan mengulangi hal ini hanya akan menyebabkan "perlawanan maksimum" dari Iran.Iran menandatangani perjanjian nuklir, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), dengan sejumlah negara besar dunia pada Juli 2015, yang sepakat untuk membatasi aktivitas nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.Namun, AS menarik diri dari perjanjian tersebut pada Mei 2018 dan memberlakukan kembali sanksi, sehingga mendorong Iran untuk mengurangi beberapa komitmen nuklirnya.Berbagai upaya untuk mengaktifkan kembali JCPOA dimulai pada April 2021 di Wina, Austria. Meskipun telah melewati beberapa putaran negosiasi, tidak ada kemajuan substansial yang dilaporkan sejak perundingan terakhir pada Agustus 2022.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel sebut serangan terhadap Iran masuki "fase berikutnya," 80 persen sistem pertahanan udara Iran hancur
Indonesia
•
06 Mar 2026

Haji1443 – Arab Saudi umumkan penyelenggaraan ibadah tahun ini sukses
Indonesia
•
11 Jul 2022

35 orang tewas akibat ledakan saat kampanye politik di Pakistan barat laut
Indonesia
•
02 Aug 2023

COVID-19 – Taiwan luncurkan vaksin Moderna untuk anak di bawah 6 tahun pada Juli
Indonesia
•
19 Jun 2022


Berita Terbaru

Kremlin sebut situasi Timur Tengah berkembang sesuai skenario terburuk
Indonesia
•
27 Mar 2026

Hakim AS tangguhkan upaya Pentagon hukum Anthropic yang tolak berikan akses kepada pemerintah
Indonesia
•
27 Mar 2026

Jumlah korban sipil di Iran dan Lebanon kian bertambah
Indonesia
•
27 Mar 2026

Analisis – Pengerahan pasukan darat AS ke Iran dapat rugikan Trump dari segi politik
Indonesia
•
27 Mar 2026
