
Ekonom sebut Indonesia akan hadapi perlambatan ekonomi akibat tarif AS ancam ekspor, mata uang dan pekerjaan

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan tampilan eksterior PT Indonesia BTR New Energy Material (PT BTR) di Kawasan Industri Kendal (Kendal Industrial Park) di Provinsi Jawa Tengah pada 7 Agustus 2024. (Xinhua/Xu Qin)
Tarif AS akan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan di Indonesia, karena industri padat karya mendominasi ekspor Indonesia ke AS.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Tarif Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk impor dari Indonesia yang baru saja diumumkan kemungkinan akan memicu resesi ekonomi pada akhir tahun ini, karena dapat memengaruhi ekspor, melemahkan rupiah, berdampak pada pasar saham, dan mengakibatkan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), demikian menurut para ahli ekonomi Indonesia pada Kamis (3/4)."Hal ini dapat menyebabkan resesi pada kuartal keempat 2025," ungkap Bhima Yudhistira, direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).Dia memproyeksikan bahwa tarif baru yang diterapkan AS sebesar 32 persen akan mengurangi volume ekspor Indonesia ke AS dan juga dapat berdampak negatif pada pengiriman ke negara-negara lain."Sektor otomotif, elektronik, pakaian, dan tekstil akan terdampak paling parah," ujar Bhima kepada media lokal.Lukman Leong, seorang analis dari Doo Financial Futures, menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan berat setelah penerapan tarif AS pada April ini."Indonesia sedang menghadapi tarif 32 persen. Rupiah akan tetap berada di bawah tekanan berat karena Indonesia termasuk salah satu negara yang dikenakan tarif timbal balik terbesar," lanjutnya.Leong memaparkan bahwa indeks dolar AS semakin tidak stabil setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kebijakan tarif balasan yang tampaknya lebih agresif dari yang diperkirakan."Sentimen pasar saat ini sangat negatif dan menghindari risiko," katanya.Untuk mencegah depresiasi lebih lanjut dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Leong menyarankan agar Bank Indonesia segera melakukan intervensi.Wijayanto Samirin, seorang ekonom di Universitas Paramadina, mengatakan bahwa tarif-tarif tersebut akan mengikis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen, mengganggu pasar saham, dan mengakibatkan banyaknya PHK."Saham-saham dari beberapa sektor yang berorientasi ekspor akan menjadi semakin tidak stabil," sebutnya.Selain itu, Wijayanto juga memperingatkan bahwa tarif AS akan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan di Indonesia, karena industri padat karya mendominasi ekspor Indonesia ke AS.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Survei landas kontinen utara Papua disidangkan di PBB 2020
Indonesia
•
11 Nov 2019

Korban tewas akibat tanah longsor di Jawa Tengah bertambah jadi 18 orang
Indonesia
•
23 Jan 2025

Semua langkah pemerintah untuk lanjutkan dukugan bagi perjuangan kemerdekaan Palestina
Indonesia
•
05 Mar 2026

Flash – Korban meninggal gempa Cianjur jadi 327 orang
Indonesia
•
29 Nov 2022


Berita Terbaru

China-Indonesia perkuat diplomasi parlemen, kerja sama substantif jadi sasaran
Indonesia
•
21 Sep 2026

Pemerintah siapkan produksi E20 dalam dua tahun, tebu jadi sumber etanol
Indonesia
•
20 Sep 2026

ADB setujui 11,51 triliun rupiah untuk indonesia, fokus pada fiskal, digitalisasi, dan layanan publik
Indonesia
•
19 Sep 2026

Kemnaker bekali penyandang disabilitas keterampilan membuat jus sehat
Indonesia
•
18 Sep 2026
