
Iran pertahankan penutupan Selat Hormuz hingga AS terima syarat

Orang-orang menghadiri upacara pemakaman seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), yang tewas akibat serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Xinhua/Sha Dati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Rabu (26/8) menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka jika Amerika Serikat (AS) tidak menerima persyaratan yang diajukan Iran, demikian menurut outlet berita resmi IRGC, Sepah News.
Hossein Mohebbi, juru bicara IRGC, mengatakan kepada awak media bahwa jalur perairan strategis tersebut tetap berada di bawah kendali Iran dan tidak ada kapal yang dapat melintasinya tanpa izin dari Iran.
"Semua kapal perang musuh berada setidaknya 400 kilometer dari Selat Hormuz, dan dari sudut pandang militer serta teritorial, tidak ada kapal yang dapat melintasi jalur perairan ini tanpa izin dan pengelolaan dari Iran," ujar Mohebbi.
Dia menambahkan bahwa bahkan rute di dekat Oman sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, seraya menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan wilayah Iran dan Oman.
Lebih lanjut dia mengatakan Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan mengenai bagian masing-masing dari selat itu dan pendapatannya setelah negosiasi.
Mohebbi menyalahkan "tindakan menghambat" AS yang menunda proses negosiasi, seraya menyebutkan bahwa jika Washington kembali ke nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatanganinya dengan Iran pada Juni, "kami dapat membuka Selat Hormuz dalam kerangka kerja yang telah disepakati."
"Oleh karena itu, AS harus menerima persyaratan kami. Jika AS tidak menerima persyaratan kami, Selat Hormuz tidak akan dibuka dalam keadaan apa pun," tambahnya.
Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz pada 28 Februari, dengan melarang pelayaran kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU mengenai penghentian perang di semua front di kawasan tersebut, termasuk Lebanon.
Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan mengadakan negosiasi dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, untuk mencapai kesepakatan final.
Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara pada bulan lalu.
Dalam pernyataan bersama pada Selasa (25/8) malam waktu setempat, Iran dan Oman mengumumkan bahwa keduanya telah membahas kerangka kerja bertahap yang mencakup pembentukan koridor pelayaran bersama sementara di Selat Hormuz serta kesepakatan untuk melaksanakan proyek pembersihan ranjau bersama.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa negosiasi teknis akan terus berlanjut guna mewujudkan koridor pelayaran permanen dan pengaturan jalur perairan itu di masa depan, termasuk pertukaran informasi, pengelolaan lalu lintas, serta layanan navigasi dan keamanan terkait.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Netanyahu: Israel terbuka untuk berunding jika Hamas lucuti senjata dan lepaskan kendali
Indonesia
•
02 Apr 2025

Jepang mulai putaran ketiga pembuangan air limbah terkontaminasi nuklir ke laut
Indonesia
•
04 Nov 2023

China dan India janjikan peningkatan hubungan bilateral
Indonesia
•
03 Mar 2023

Bangladesh laporkan kematian pertama akibat virus Nipah pada 2026
Indonesia
•
08 Feb 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gelombang protes Eropa ungkap retaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah
Indonesia
•
20 Oct 2026

Prancis berlakukan jam malam di sejumlah kota usai kerusuhan, 2.397 orang ditangkap
Indonesia
•
20 Oct 2026

Program Pangan Dunia butuh 8,1 triliun rupiah untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat, bantuan mulai dipangkas
Indonesia
•
20 Oct 2026

Analisis – Kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat jadi ujian Israel jelang pemilu
Indonesia
•
20 Oct 2026
